Biaya Diabetes dalam JKN Terus Meningkat
Logo BeritaSatu
INDEX

BISNIS-27 515.204 (0.63)   |   COMPOSITE 6290.8 (1.14)   |   DBX 1362.34 (3.92)   |   I-GRADE 180.342 (-0.04)   |   IDX30 506.102 (-1.07)   |   IDX80 136.192 (-0.57)   |   IDXBUMN20 397.025 (-1.74)   |   IDXESGL 139.555 (0.11)   |   IDXG30 142.425 (-0.91)   |   IDXHIDIV20 448.193 (-0.92)   |   IDXQ30 145.469 (-0.09)   |   IDXSMC-COM 298.549 (-0.8)   |   IDXSMC-LIQ 357.569 (-3.73)   |   IDXV30 134.488 (-0.85)   |   INFOBANK15 1048.13 (6.74)   |   Investor33 435.467 (0.45)   |   ISSI 181.572 (-0.71)   |   JII 618.362 (-4.97)   |   JII70 218.204 (-1.68)   |   KOMPAS100 1215.76 (-2.34)   |   LQ45 948.468 (-2.19)   |   MBX 1702.13 (-0.52)   |   MNC36 323.237 (0.36)   |   PEFINDO25 323.55 (-0.65)   |   SMInfra18 308.555 (-3.34)   |   SRI-KEHATI 369.754 (0.97)   |  

Biaya Diabetes dalam JKN Terus Meningkat

Jumat, 13 November 2020 | 21:55 WIB
Oleh : Dina Manafe / JAS

Jakarta, Beritasatu.com - Diabetes Melitus (DM) atau lebih dikenal dengan penyakit kencing manis tak hanya menimbulkan angka kesakitan dan kematian, tetapi juga pembiayaan yang tinggi. Tiap tahun BPJS Kesehatan yang mengelola program JKN-KIS harus mengeluarkan Rp 2 triliun lebih untuk membayar biaya layanan diabetes.

Besaran biaya juga cenderung meningkat tiga tahun terakhir. Di 2017, pengeluaran untuk DM sebesar Rp 2 triliun dari total biaya pelayanan kesehatan (pelkes) di tahun itu sebesar Rp84 triliun.

Pada 2018, dari total biaya pelkes Rp 94 triliun, sebesar Rp2,3 triliun untuk DM. Pun demikian pada 2019, biaya DM naik menjadi Rp 2,5 triliun dari total biaya pelkes di tahun yang sama sebesar Rp108 triliun.

Kenaikannya rata-rata 2% setiap tahunnya. Demikian pula dengan biaya untuk obat-obatan, DM termasuk dalam dominasi obat-obatan termahal selain hipertensi dan kardiovaskuler.

Jika tidak dilakukan intervensi yang tepat sejak dini, maka penanganan diabetes di pelayanan kesehatan diestimasikan mencapai Rp 199 triliun. Sebanyak Rp 142 triiliun di antaranya untuk pembiayaan komplikasi.

Ketua Center for Health Economics and Policy Studies (CHEPS) Universitas Indonesia, Budi Hidayat mengatakan dampak dari DM bisa menggerus keuangan BPJS Kesehatan jika peserta tidak ditangani dengan sangat serius.

“Ini diperlukan studi khusus dan mendalam, regulasinya juga harus dipikirkan oleh pemerintah,” kata Budi dalam webinar bertajuk Media Briefing “The Economic Burden of Diabetes and The Innovative Policy” yang diselenggarakan CHEPS UI, Jumat (13/11/2020).

Menurut Budi, peningkatan kasus DM ibarat bom waktu untuk siapa saja yang mengidapnya. Karena jika tidak ditangani dengan serius bisa terjadi komplikasi berupa kerusakan pada organ tubuh penderita yang sangat vital, seperti jantung, hati, pankreas dan ginjal.

Di tengah gaya hidup siber sekarang ini, orang cenderung menjadi malas bergerak. Beragam kegiatan bisa dilakukan tanpa barus bergerak sama sekali. Ini menyebabkan risiko terkena DM sangat besar.

Sekarang orang bisa melakukan berbagai pekerjaan dari tempat tidur, mulai dari menyelesaikan pekerjaan, bertransaksi keuangan, membeli makanan, memenuhi kebutuhan pribadi dan keluarga bisa dilakukan dari tempat tidur hingga tidur lagi. Akibatnya, DM yang dahulu kebanyakan diidap oleh lansia, kini mulai menjangkiti kalangan muda.

DM khususnya tipe 2 sering tidak menunjukkan gejala berarti, sehingga mayoritas penderita tidak menyadari dirinya terkena DM selama bertahun-tahun. Jika tidak diobati, pengidap penyakit ini akan mengalami kerusakan organ yang pasti namun berdurasi sangat panjang.

Menurut Budi, penanganan diabetes di JKN mengeluarkan biaya yang tinggi dengan mayoritas biaya liayaan digunakan untuk menangani komplikasi, mengingat 57% pasien DM khusus diabetes tipe 2 memiliki satu atau lebih komplikasi. Lalu 74% pembiayaan diabetes digunakan untuk mengobati komplikasi akibat diebetes. Biaya untuk mengobati komplikasi 2 kali lipat lebih tinggi dibandingkan non komplikasi.

Menurut Budi, ada langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk menurunkan komplikasi dan menekan pembiayaan komplikasi pada diabetes yaitu, mencetah terjadinya komplikasi pada orang yang sudah terdiagnosa diabetes dengan terapi optimal dan mencegah terjadinya diabetes pada orang yagn belum memiliki risiko diabetes.

Deputi Direksi BPJS Kesehatan Ari Dwi Aryani mengungkapkan, di tahun 2016, dari 18,9 juta peserta JKN-KIS yang mengakses perawatan lanjutan di rumah sakit, 812.204 (4%) teridentifikasi menderita DM tipe 2.

Sekitar 57% mengalami komplikasi, dengan penyakit kardiovaskular yang paling umum (24%). Total biaya pengobatan DM tipe 2dan komplikasinya mencapai US$576 juta atau setara RpRp8,6 triliun pada tahun 2016, di mana 74% biaya digunakan untuk manajemen penderita komplikasi terkait diabetes.

Oleh karena itu, pemantauan dan pengobatan DM tipe 2 sedari dini mutlak dilakukan di semua tingkat perawatan, mulai dari fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) seperti puskesmas dan klinik yang ditunjuk BPJS kesehatan.

Semua faskes juga perlu mengoptimalkan cara yang efektif untuk mendorong diagnosis dini dan mempertahankan kontrol glikemik pada pasien DM. Ini penting untuk meningkatkan hasil terapi dan kontrol serta mengurangi penggunaan layanan yang lebih mahal pada layanan Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjutan (FKRTL) yaitu rumah sakit.

Ketua Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (Perkeni), Ketut Suastika mengungkapkan bahwa diabetes merupakan bom waktu bagi penderitanya, mengingat menggerogoti hampir semua organ tubuh. Apalagi di tengah pandemi ini, diabetes mampu menurunkan imunitas yang mengakibatkan kita mudah terserang penyakit termasuk Covid-19.



Sumber: BeritaSatu.com


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

Kontrol Optimal dan Deteksi Dini Penderita Diabetes untuk Cegah Kerugian JKN

Kontrol optimal serta deteksi dini penderita kencing manis atau diabetes melitus (DM) harus diterapkan untuk mencegah kerugian Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

KESEHATAN | 13 November 2020

Cara Membedakan Sariawan dengan Kanker Mulut

Perawatan sariawan kerap dianggap sebelah mata.

KESEHATAN | 13 November 2020

Hari Kesehatan Nasional Jadi Momentum untuk Aktif Berolahraga

Berdasarkan data BPS, hanya 27,61 persen masyarakat Indonesia yang rutin melakukan aktivitas fisik.

KESEHATAN | 13 November 2020

Pekan Ini, Tingkat Kesembuhan Covid-19 Naik ke 82,8%

Kondisi ini menimbulkan rasa optimistis bahwa penanganan pandemi Covid-19 lebih baik dari waktu ke waktu.

KESEHATAN | 13 November 2020

Epidemiolog UGM: Klaster Libur Panjang Belum Muncul

Epidemiolog UGM memperingatkan potensi peningkatan transmisi Covid-19 akibat libur panjang. Namun sejauh ini belum ada data kongkretnya.

KESEHATAN | 13 November 2020

Rekor Kasus Harian Covid-19 Pecah, Jateng Terbanyak

Kasus harian terbanyak terdapat di Provinsi Jawa Tengah atau Jateng dengan 1.362.

KESEHATAN | 13 November 2020

Kasus Harian Covid-19 di Indonesia Torehkan Rekor 5.444

Penambahan harian Covid-19 kembali menorehkan rekor baru pada hari ini, Jumat (13/11/2020) yakni sebanyak 5.444.

KESEHATAN | 13 November 2020

Menkes Minta Pemda Serius Tangani Limbah Medis

Dalam hal ini, Kemkes menurut Menkes Terawan telah melakukan berbagai upaya agar limbah medis bisa tertangani dengan baik.

KESEHATAN | 13 November 2020

Dua Anak Meninggal Tiap Jam Akibat Pneumonia

Di Indonesia, lebih dari 19.000 balita atau dua anak per jam meninggal akibat Pneumonia.

KESEHATAN | 13 November 2020

Konsultasi Online Masalah Gigi dan Mulut Diminati di Masa Pandemi

Konsultasi online semakin relevan,untuk membantu menjawab permasalahan gigi dan mulut masyarakat di tengah pandemi Covid-19.

KESEHATAN | 12 November 2020


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS