Epidemiolog Peringatkan Kecepatan Penularan dari Mutasi Covid-19
Logo BeritaSatu

Epidemiolog Peringatkan Kecepatan Penularan dari Mutasi Covid-19

Selasa, 2 Maret 2021 | 17:30 WIB
Oleh : Natasia Christy Wahyuni / IDS

Jakarta, Beritasatu.com – Epidemiolog memperingatkan dua kasus mutasi Covid-19 dari Inggris yang ditemukan Senin (1/3/2021), bisa memicu kecepatan penularan kasus di Indonesia. Dr Pandu Riono dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) mengatakan hal yang harus diwaspadai dari kehadiran mutasi virus di Indonesia adalah terjadinya perubahan karakter virus.

“Salah satu yang ditakutkan adalah kecepatan penularan lebih tinggi. Kalau kecepatan penularan tinggi, kita kewalahan karena rumah sakit bisa penuh lagi. Jika rumah sakit penuh, kita tidak bisa optimal merawat pasien dan angka kematian naik lagi, akhirnya pelayanan kesehatan kolaps,” kata Pandu saat dihubungi oleh Beritasatu, Selasa (2/3/2021).

Pandu mengatakan, kekhawatiran lainnya dari mutasi virus adalah karakter virus tidak bisa lagi dikenali lewat diagnostik tes PCR. Akibatnya, tes PCR bisa menjadi tidak akurat. Dengan begitu, sekalipun banyak kasus negatif, namun pada sebenarnya angka penularan masih sangat tinggi.

“Jika sudah tidak dikenali oleh tes diagnostik PCR kita, harus ganti bibitnya supaya bibit terbaru bisa dikenali,” kata Pandu.

Merujuk kasus di Inggris, Pandu menjelaskan kecurigaan munculnya varian baru SARS-CoV-2 di negara itu karena munculnya gelombang kedua virus dengan angka penularan sangat tinggi. Inggris, ujarnya, sudah memiliki genomic surveillance yang memadai sehingga bisa menemukan dengan mudah varian baru B117.

“Kita baru awal tahun ini punya genomic surveillance, jadi memang terlambat mempelajari dinamika mutasi virus, sedangkan virus ini sangat mudah bermutasi,” katanya.

Pandu mengatakan mutasi virus bisa terus terjadi jika angka penularan masih tinggi, sehingga upaya untuk menekan penularan sangat penting lewat strategi 3T (testing, tracing, treatment). Dia menegaskan, pelacakan kasus akan memutuskan mata rantai penularan, sedangkan jika virus semakin banyak dan berkembang biak maka bisa terjadi replikasi di inang (host) yang baru.

Terkait pengaruhnya kepada efektivitas vaksin, Pandu mengatakan, vaksin CoronaVac yang dipakai Indonesia masih bisa mengenali varian B117 dari Inggris. Namun, jika ke depan terjadi lagi mutasi baru virus, belum tentu vaksin yang ada saat ini bisa efektif.

“Yang dikhawatirkan, vaksin yang sudah beredar sekarang tidak bisa mengenali lagi virus. Saat ini Sinovac masih bisa, tapi jangan kita, arogan atau underestimate (meremehkan),” lanjutnya.



Sumber: BeritaSatu.com


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

Mutasi Covid-19 Masuk Indonesia, Epidemiolog Tidak Terkejut

Dicky mengaku sudah memberikan peringatan masuknya mutasi atau strain baru virus corona sejak akhir 2019.

KESEHATAN | 2 Maret 2021

Lagi, 10 Juta Vaksin Sinovac Tiba di Indonesia

Secara keseluruhan saat ini Indonesia sudah memiliki 38 juta dosis vaksin.

KESEHATAN | 2 Maret 2021

Setahun Pandemi Covid-19, Jokowi Ingin Segera Terbentuk Imunitas Masyarakat

Walau vaksin sudah diterima, Jokowi berharap protokol kesehatan tidak dilupakan.

KESEHATAN | 2 Maret 2021

Indonesia Temukan 2 Kasus Mutasi Covid-19 dari Inggris

Indonesia sudah menemukan dua kasus mutasi Covid-19 dari Inggris (B117) pada Senin (1/3/2021) malam.

KESEHATAN | 2 Maret 2021

Satgas Sebut Budaya Gotong Royong Mampu Tekan Kasus Covid-19

Satgas berusaha terus menata desa atau kampung agar terbebas dari paparan virus corona.

KESEHATAN | 2 Maret 2021

Vaksinasi Covid-19 Tekan Angka Kematian

Dengan menerima vaksin, seseorang memiliki imunitas dan kekebalan yang sifatnya memproteksi kelompok yang ada.

KESEHATAN | 2 Maret 2021

Sekolah Segera Dibuka, IDI: Pertimbangkan Indikator Per Wilayah

Pembukaan sekolah kemungkinan bisa dilaksanakan secara nasional ataupun hanya di beberapa wilayah yang siap.

KESEHATAN | 1 Maret 2021

IDI: Media dan Influencer Harus Bantu Perubahan Perilaku Masyarakat

Sekarang belum waktunya agak longgar dan santai, tetapi tetap ketat pada protokol kesehatan dan perubahan perilaku sehat.

KESEHATAN | 1 Maret 2021

Insentif Nakes Belum Cair, IDI Minta Pemerintah Perbaiki Regulasi

IDI bersama organisasi profesi lain telah bertemu pihak Kementerian Kesehatan untuk membahas insentif nakes yang belum cair.

KESEHATAN | 1 Maret 2021

Pakar Farmasi UI Dorong Pemantauan Vaksin untuk Cegah Reaksi Alergi

Prof Retnosari Andradjati mendorong adanya pemantauan keselamatan vaksin (vaccine safety surveillance) selama masa pengenalan vaksin Covid-19.

KESEHATAN | 1 Maret 2021


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS