IAKMI : Vaksin Nusantara secara Substantif Masih Jauh dari Layak
Logo BeritaSatu
INDEX

AGRI 1577 (0)   |   BASIC-IND 938 (0)   |   BISNIS-27 477 (-5)   |   COMPOSITE 5975 (-53)   |   CONSUMER 1621 (0)   |   DBX 1411 (-16)   |   FINANCE 1361 (0)   |   I-GRADE 166 (-1)   |   IDX30 471 (-4)   |   IDX80 128 (-1)   |   IDXBASIC 1248 (-11)   |   IDXBUMN20 358 (-2)   |   IDXCYCLIC 736 (-3)   |   IDXENERGY 747 (1)   |   IDXESGL 129 (-1)   |   IDXFINANCE 1325 (-12)   |   IDXG30 135 (-1)   |   IDXHEALTH 1296 (-14)   |   IDXHIDIV20 416 (-3)   |   IDXINDUST 956 (-21)   |   IDXINFRA 871 (-0)   |   IDXMESBUMN 102 (-0)   |   IDXNONCYC 740 (-6)   |   IDXPROPERT 877 (-12)   |   IDXQ30 135 (-1)   |   IDXSMC-COM 282 (-1)   |   IDXSMC-LIQ 337 (-1)   |   IDXTECHNO 3348 (-40)   |   IDXTRANS 1056 (-1)   |   IDXV30 127 (-1)   |   INFOBANK15 952 (-11)   |   INFRASTRUC 1036 (0)   |   Investor33 406 (-3)   |   ISSI 176 (-1)   |   JII 577 (-4)   |   JII70 205 (-1)   |   KOMPAS100 1130 (-11)   |   LQ45 888 (-8)   |   MANUFACTUR 1250 (0)   |   MBX 1590 (-13)   |   MINING 1939 (0)   |   MISC-IND 1036 (0)   |   MNC36 301 (-2)   |   PEFINDO25 297 (-3)   |   PROPERTY 351 (0)   |   SMinfra18 295 (-1)   |   SRI-KEHATI 340 (-3)   |   TRADE 872 (0)   |  

IAKMI : Vaksin Nusantara secara Substantif Masih Jauh dari Layak

Kamis, 15 April 2021 | 22:17 WIB
Oleh : Maria Fatima Bona / YUD

Jakarta, Beritasatu.com - Dewan Pakar Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), Hermawan Saputra mengatakan, secara substantif pengembangan vaksin Nusantara saat ini masih sangat jauh dari proses untuk membuktikan diri sebagai vaksin yang layak digunakan di Indonesia.

“Bagian dari proses harus dilakukan itu, termasuk mendaftarkan ke Badan POM (Pengawas Obat dan Makanan) dan juga melakukan uji klinis terhadap vaksin yang dimaksud,” kata Hermawan saat dihubungi Beritasatu.com, Kamis (15/4/2021).

Hermawan menyebutkan, vaksin Nusantara sedang dikembangkan dan diteliti harus didukung. Pasalnya, sesuatu yang bersifat inovatif harus didorong untuk dibuktikan secara ilmiah. Oleh karena itu Hermawan mengatakan, dalam menyikapi keterlibatan anggota DPR RI dan para tokoh masyarakat untuk menjadi relawan dalam uji klinik vaksin Nusantara harus harus dilihat dari perspektif riset. Dalam hal ini, tidak melihat latar belakang relawan riset tersebut.

Namun, kata Hermawan, pengembangan vaksin Nusantara dalam melakukan penelitian harus mematuhi clearance atau izin etik proses yang harus memenuhi kajian etik termasuk dampak kemungkinan kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI) menggunakan vaksin Nusantara.

Dikatakan Hermawan, dampak KIPI ini menjadi pertimbangan dari peneliti. Oleh karena itu, adanya relawan yang mendukung pengembangan vaksin Nusantara untuk saat ini harus disikapi positif karena bagian dari uji coba penelitian, asal dengan syarat telah mendapat ethical clearance atau izin etik.

“Karena ini bagian dari uji coba mereka, kita berpositif saja bahwa mestinya mereka sudah mempunyai izin etik untuk uji coba. Kalau sudah ada itu, tentu masih dalam kerangka penelitian, tetapi jika mereka tidak mempunyai izin etika adalah pelanggaran,” ucap Hermawan.

Oleh karena itu, Hermawan juga mengatakan, perlu adanya izin etik karena subjeknya manusia maka perlu diperhatikan risiko. Apalagi sejauh ini, BPOM telah menyampaikan vaksin Nusantara tidak masuk dalam skema nasional.

“Jadi secara umum prinsipnya oke-oke saja untuk penelitian ilmiah apalagi hanya mengambil sampel darah jadi tidak ada masalah. Yang penting ada izin etik karena namanya penelitian pasti harus ada kajian etik. Kalau tidak ada berarti tidak memenuhi kaidah ilmiah,” pungkasnya.

--



Sumber: BeritaSatu.com


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

Ahli: Pengembangan Vaksin Nusantara Harus Berstandar GMP

Ahli Biologi Molekuler, Ahmad Utomo mengatakan, pengembangan Vaksin Nusantara harus memenuhi Good Manufacturing Practice (GMP).

KESEHATAN | 15 April 2021

Ahli: Efektivitas dan Efikasi Vaksin Nusantara Sulit Diukur

Sangat sulit mengukur efektivitas dan efikasi vaksin Nusantara dapat menahan gejala pasca efikasi Covid-19.

KESEHATAN | 15 April 2021

BPOM: Vaksin Nusantara Tidak Lakukan Uji Praklinik

BPOM menemukan bahwa vaksin Nusantara tidak didahului oleh uji praklinik sebagai protokol penting untuk vaksin yang aman.

KESEHATAN | 15 April 2021

Ahli: Pengembangan Vaksin Nusantara Bukan Inovasi Anak Bangsa

Pengembangan vaksin Nusantara tidak dapat dikatakan inovasi anak bangsa pasalnya, inovasinya berasal dari Aivita Biomedica Inc, Amerika Serikat.

KESEHATAN | 15 April 2021

Kulit Kehilangan Elastisitas Seiring Bertambahnya Usia

Tidak hanya jerawat dan flek hitam, polusi juga menyebabkan kulit juga lebih cepat mengalami penuaan dini dan kehilangan elastisitas.

KESEHATAN | 15 April 2021

Tingkatkan Kepatuhan Badan Usaha, BPJS Kesehatan Sinergi Data dengan Kemnaker

BPJS Kesehatan akan optimalkan integrasi data dan aplikasi Wajib Lapor Ketenagakerjaan di Perusahaan (WLKP) dengan aplikasi Perluasan Kepesertaan Pekerja.

KESEHATAN | 15 April 2021

5.713.404 Warga Indonesia Telah Divaksinasi Covid-19 Dosis Lengkap

Satgas Penanganan Covid-19 melaporkan sebanyak 5.713.404 warga Indonesia telah mendapatkan dosis vaksinasi Covid-19 secara lengkap.

KESEHATAN | 15 April 2021

BPOM: 71,4% Subjek Uji Klinik Fase I Vaksin Nusantara Alami Kejadian Tak Diinginkan

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengeluarkan rilis terkait dengan uji klinik Vaksin Nusantara.

KESEHATAN | 15 April 2021

Pentingnya Jaga Imunitas Saat Ramadan

Konsumsi herbal habbatussauda, meniran, dan jahe juga bisa menjadi alternatif dalam memenuhi kebutuhan nutrisi dan meningkatkan imunitas di bulan Ramadan.

KESEHATAN | 15 April 2021

Update Tes Covid-19, Jumlah Spesimen Diperiksa Hari Ini 74.583

Kementerian Kesehatan melaporkan hari ini, Selasa (13/4/2021) jumlah spesimen Covid-19 yang diperiksa sebanyak 74.583.

KESEHATAN | 15 April 2021


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS