GKIA Tidak Benarkan Penggunaan Kental Manis untuk Bayi dan Anak-anak
Logo BeritaSatu
Breaking News
INDEX
Breaking News

AGRI 1577 (0)   |   BASIC-IND 938 (0)   |   BISNIS-27 477 (-5)   |   COMPOSITE 5975 (-53)   |   CONSUMER 1621 (0)   |   DBX 1411 (-16)   |   FINANCE 1361 (0)   |   I-GRADE 166 (-1)   |   IDX30 471 (-4)   |   IDX80 128 (-1)   |   IDXBASIC 1248 (-11)   |   IDXBUMN20 358 (-2)   |   IDXCYCLIC 736 (-3)   |   IDXENERGY 747 (1)   |   IDXESGL 129 (-1)   |   IDXFINANCE 1325 (-12)   |   IDXG30 135 (-1)   |   IDXHEALTH 1296 (-14)   |   IDXHIDIV20 416 (-3)   |   IDXINDUST 956 (-21)   |   IDXINFRA 871 (-0)   |   IDXMESBUMN 102 (-0)   |   IDXNONCYC 740 (-6)   |   IDXPROPERT 877 (-12)   |   IDXQ30 135 (-1)   |   IDXSMC-COM 282 (-1)   |   IDXSMC-LIQ 337 (-1)   |   IDXTECHNO 3348 (-40)   |   IDXTRANS 1056 (-1)   |   IDXV30 127 (-1)   |   INFOBANK15 952 (-11)   |   INFRASTRUC 1036 (0)   |   Investor33 406 (-3)   |   ISSI 176 (-1)   |   JII 577 (-4)   |   JII70 205 (-1)   |   KOMPAS100 1130 (-11)   |   LQ45 888 (-8)   |   MANUFACTUR 1250 (0)   |   MBX 1590 (-13)   |   MINING 1939 (0)   |   MISC-IND 1036 (0)   |   MNC36 301 (-2)   |   PEFINDO25 297 (-3)   |   PROPERTY 351 (0)   |   SMinfra18 295 (-1)   |   SRI-KEHATI 340 (-3)   |   TRADE 872 (0)   |  

GKIA Tidak Benarkan Penggunaan Kental Manis untuk Bayi dan Anak-anak

Selasa, 25 Mei 2021 | 09:01 WIB
Oleh : Feriawan Hidayat / FER

Jakarta, Beritasatu.com - Koordinator Presidium Gerakan Kesehatan Ibu dan Anak (GKIA) yang juga Ketua Umum Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI), Nia Umar, merasa prihatin dengan banyaknya kalangan ibu yang memberikan kental manis kepada bayi dan anak-anak mereka. Padahal, kental manis tidak boleh diberikan kepada bayi dan anak-anak karena kandungan gulanya yang cukup tinggi.

"Sebetulnya memang kondisi ini sangat memprihatinkan, karena sebenarnya kental manis itu tidak boleh diberikan kepada bayi dan anak. Itu hanya untuk topping buat makanan seperti es campur ataupun buat kopi. Itu pun sebenarnya tinggi gula sekali. Jadi, memang sangat disayangkan jika masih banyak ibu yang memberikannya kepada anak-anak, apalagi bayi mereka,” ujar Nia Umar, di Jakarta, Selasa (25/5/2021).

Menurut Nia, konsumsi minuman dengan kadar gula sangat tinggi seperti kental manis merupakan indikator asupan makanan yang buruk, karena merupakan konsumsi yang tinggi kalori. Pasalnya, kalori yang didapat dari gula memberikan nilai gizi yang rendah yang menyebabkan kenaikan berat badan yang tidak sehat.

"Jadi, tingginya kadar gula pada kental manis membuat produk ini tidak sehat untuk dikonsumsi terutama oleh balita, anak-anak dan remaja, karena risiko kerusakan gigi, obesitas dan penyakit degeneratif yang akan terbawa sampai dewasa,” katanya.

Menurut Standard Nasional Indonesia (SNI) 01-2971-1998, kental manis adalah produk yang diperoleh dengan menghilangkan sebagian air dari susu segar atau hasil rekonstitusi susu bubuk berlemak penuh, atau hasil rekombinasi susu bubuk tanpa lemak dengan lemak susu/lemak nabati, yang telah ditambah gula, dengan atau tanpa penambahan bahan makanan lain dan bahan tambahan makanan lain yang diizinkan.

"Kandungan gula pada kental manis menurut ketentuan SNI adalah 43% hingga 48%, yang merupakan gula yang ditambahkan. Jadi, kental manis sama sekali tidak bisa ditempatkan sejajar dengan susu sebagaimana dipahami secara umum,” ucap Nia.

Nia mengatakan, penting bagi masyarakat khususnya para ibu untuk membentuk pola makan sehat dalam keluarga, yang dimulai dengan memberi arahan tentang pola makan yang baik dan benar pada anak-anak sejak dini sebagaimana telah dipaparkan dalam tumpeng gizi seimbang.

“Gula adalah produk berkalori dengan kandungan gizi kosong yang menempati puncak tumpeng gizi seimbang, yang artinya perlu dibatasi jumlah asupannya. Artinya, kental manis adalah produk yang harus mendapat batasan jelas dan tidak bisa dikategorikan sebagai asupan gizi seimbang, apalagi ditujukan bagi anak yang sedang tumbuh kembang,” tukasnya.

Nia mengamati ada beberapa faktor yang menyebabkan pemberian kental manis kepada bayi dan anak-anak. Salah satunya adalah karena ketidaktahuan informasi mengenai kental manis itu bukan susu yang disebabkan edukasi ke masyarakat yang masih kurang. Menurutnya, informasi yang lebih banyak diterima masyarakat adalah iklan yang ditayangkan di TV dan medsos yang muatannya hanya kepentingan jualan.

"Ini yang akhirnya menyebabkan yang sampai ke masyarakat itu, ya susu kental manis. Iklannya pun memvisualisasikan anak-anak yang minum, padahal anak-anak kan nggak boleh minum kental manis,” tandasnya.

Nia meminta Kemperin (Kenterian Perindustrian) dan Kemdag (Kementerian Perdagangan) serta BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan), menjadi wasit yang adil dalam mengatur iklan-iklan kental manis. Selain mengatur perekonomian perdagangan di negara ini, mereka juga harus memiliki aturan main yang tidak merugikan kesehatan ibu dan anak.

“Jadi, iklan-iklan produk-produk yang mengganggu kesehatan bayi dan anak seperti kental manis ini. Sebaiknya juga diatur supaya tidak membuat masyarakat bingung dan termakan iklan-iklan yang klaim-klaim kesehatannya sangat berlebihan,” ucapnya.

Menurut Nia, GKIA juga meminta agar tulisan di kaleng kental manis, "perhatikan! tidak untuk menggantikan air susu ibu, tidak cocok untuk bayi sampai usia 12 bulan, tidak dapat digunakan sebagai satu-satunya sumber gizi", harus dibuat besar agar mudah dibaca dengan jelas oleh masyarakat konsumen.

"Di depan mereknya, tulisan pada kotak peringatan itu harus sudah kelihatan dengan jelas di kalengnya. Hal ini penting supaya masyarakat sadar, kental manis itu bukan produk yang bisa menggantikan ASI, karena ASI itu memang tidak tergantikan,” tegasnya.

Untuk membantu pemerintah mencegah masyarakat memberikan SKM kepada para bayi dan anak mereka, menurut Nia, AIMI ikut memberikan edukasi ke masyarakat.

"Kita selalu gencarkan sosialisasi tentang pentingnya menyusui bayi, risikonya kalau tidak menyusui itu apa, dan menjelaskan mengenai dampak dari kandungan gula yang tinggi dari manakanan dan minuman jika diberikan kepada bayi dan anak-anak,” tandasnya.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: BeritaSatu.com


BAGIKAN




BERITA LAINNYA

Penanganan Covid-19 Tingkat RT, Satgas: Perkuat 3T

Satgas Covid-19 meminta agar testing, tracing, dan treatment (3T) dapat diperkuat.

KESEHATAN | 24 Mei 2021

Ketua Satgas Covid-19 Ajak Masyarakat Bekerja Keras Tekan Laju Penularan Covid-19 Pascalebaran

Kenaikan kasus aktif Covid-19 di Indonesia setelah libur panjang Lebaran diketahui tidak sebesar lonjakan kasus pada periode yang sama pada tahun sebelumnya

KESEHATAN | 24 Mei 2021

WHO: Covid-19 Telah Renggut Nyawa 115.000 Tenaga Kesehatan

Dirjen WHO, Tedros memuji pengorbanan yang dilakukan oleh petugas kesehatan di seluruh dunia untuk memerangi pandemi covid-19.

KESEHATAN | 24 Mei 2021

Pascalibur Lebaran, Kasus Covid-19 Merangkak Naik

Ketua KPCPEN sekaligus Menko Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengatakan pascalibur Lebaran kasus positif Covid-19 mengalami kenaikan.

KESEHATAN | 24 Mei 2021

PPKM Skala Mikro Diperpanjang dan Cakupan Ditambah 4 Provinsi

Pemerintah memutuskan untuk memperpanjang penerapan pemberlakukan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) berskala mikro, dari 1 hingga 14 Juni 2021

KESEHATAN | 24 Mei 2021

Vaksinasi Covid-19 Dosis 1 di Indonesia Capai 14,9 Juta

Kementerian Kesehatan melaporkan jumlah orang yang sudah menerima vaksinasi Covid-19 dosis pertama sampai Senin (24/5/2021) mencapai lebih dari 14,9 juta.

KESEHATAN | 24 Mei 2021

Melki Laka Lena: Vaksinasi Ilegal Harus Jadi Catatan dan Pelajaran Serius untuk Semua Pihak

Adanya vaksinasi ilegal yang terjadi di Jakarta maupun Medan, Sumatera Utara (Sumut) harus menjadi catatan dan pelajaran serius bagi semua pihak.

KESEHATAN | 24 Mei 2021

Update Tes Covid-19, Jumlah Spesimen Diperiksa Hari Ini 65.469

Kementerian Kesehatan melaporkan hari ini, Senin (24/5/2021), jumlah spesimen Covid-19 yang diperiksa sebanyak 65.469.

KESEHATAN | 24 Mei 2021

Mau Pulang ke Jabodetabek, 532 Pemudik Ditemukan Positif Covid-19 di Bakauheni

Sebanyak 532 pemudik yang hendak pulang ke kawasan Jabodetabek ditemukan positif Covid-19 di Bakauheni, Lampung.

KESEHATAN | 24 Mei 2021

Update Covid-19: Tambah 5.907, Kasus Positif di Indonesia Jadi 1.781.127

Kementerian Kesehatan melaporkan kasus harian Covid-19 di Indonesia, Senin (24/5/2021) sebanyak 5.907. Total kasus positif di Indonesia menjadi 1.781.127.

KESEHATAN | 24 Mei 2021


BeritaSatu Logo
TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Android Icon iOS Icon
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS