Studi: Kasus Pertama Covid-19 di Tiongkok Mungkin Terjadi pada Oktober 2019
Logo BeritaSatu
Breaking News
INDEX
Breaking News

AGRI 1577 (0)   |   BASIC-IND 938 (0)   |   BISNIS-27 477 (-5)   |   COMPOSITE 5975 (-53)   |   CONSUMER 1621 (0)   |   DBX 1411 (-16)   |   FINANCE 1361 (0)   |   I-GRADE 166 (-1)   |   IDX30 471 (-4)   |   IDX80 128 (-1)   |   IDXBASIC 1248 (-11)   |   IDXBUMN20 358 (-2)   |   IDXCYCLIC 736 (-3)   |   IDXENERGY 747 (1)   |   IDXESGL 129 (-1)   |   IDXFINANCE 1325 (-12)   |   IDXG30 135 (-1)   |   IDXHEALTH 1296 (-14)   |   IDXHIDIV20 416 (-3)   |   IDXINDUST 956 (-21)   |   IDXINFRA 871 (-0)   |   IDXMESBUMN 102 (-0)   |   IDXNONCYC 740 (-6)   |   IDXPROPERT 877 (-12)   |   IDXQ30 135 (-1)   |   IDXSMC-COM 282 (-1)   |   IDXSMC-LIQ 337 (-1)   |   IDXTECHNO 3348 (-40)   |   IDXTRANS 1056 (-1)   |   IDXV30 127 (-1)   |   INFOBANK15 952 (-11)   |   INFRASTRUC 1036 (0)   |   Investor33 406 (-3)   |   ISSI 176 (-1)   |   JII 577 (-4)   |   JII70 205 (-1)   |   KOMPAS100 1130 (-11)   |   LQ45 888 (-8)   |   MANUFACTUR 1250 (0)   |   MBX 1590 (-13)   |   MINING 1939 (0)   |   MISC-IND 1036 (0)   |   MNC36 301 (-2)   |   PEFINDO25 297 (-3)   |   PROPERTY 351 (0)   |   SMinfra18 295 (-1)   |   SRI-KEHATI 340 (-3)   |   TRADE 872 (0)   |  

Studi: Kasus Pertama Covid-19 di Tiongkok Mungkin Terjadi pada Oktober 2019

Sabtu, 26 Juni 2021 | 10:17 WIB
Oleh : Surya Lesmana / LES

Shanghai, Beritasatu.com - Virus yang menyebabkan Covid-19 kemungkinan mulai terjadi di Tiongkok pada awal Oktober 2019, dua bulan sebelum kasus pertama diidentifikasi di pusat Kota Wuhan. Demikian laporan sebuah studi baru pada Jumat (25/6/2021) waktu setempat.

Para peneliti dari Universitas Kent Inggris menggunakan metode dari ilmu konservasi untuk memperkirakan, SARS-CoV-2 pertama kali muncul dari awal Oktober hingga pertengahan November 2019, menurut sebuah makalah yang diterbitkan dalam jurnal PLOS Pathogens.

Tanggal kemunculan virus tersebut diperkirakan pada 17 November 2019, dan mungkin sudah menyebar secara global pada Januari 2020, mereka memperkirakan. Kasus resmi Covid-19 pertama Tiongkok terjadi pada Desember 2019 dan dikaitkan dengan pasar makanan laut Huanan di Wuhan.

Namun diketahui, beberapa kasus awal tidak memiliki hubungan yang dengan Huanan yang menyiratkan, SARS-CoV-2 sudah beredar sebelum mencapai pasar tersebut.

Sebuah studi bersama yang diterbitkan oleh Tiongkok dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada akhir Maret mengakui, mungkin ada infeksi sporadis pada manusia sebelum wabah muncul di Wuhan.

Dalam sebuah makalah yang dirilis minggu ini, Jesse Bloom dari Pusat Penelitian Kanker Fred Hutchinson di Seattle memulihkan data pengurutan yang dihapus dari kasus awal Covid-19 di Tiongkok.

Data menunjukkan, sampel yang diambil dari pasar Huanan "tidak mewakili" SARS-CoV-2 secara keseluruhan, dan merupakan varian dari urutan yang beredar sebelumnya, yang menyebar ke bagian lain Tiongkok.

Institut Kesehatan Nasional AS mengonfirmasi kepada Reuters bahwa sampel yang digunakan dalam penelitian ini telah diserahkan ke Sequence Read Archive (SRA) pada Maret 2020 dan kemudian dihapus atas permintaan penyelidik Tiongkok, yang mengatakan akan diperbarui dan diserahkan ke arsip lain.

Hal ini menimbulkan kritik bahwa penghapusan itu adalah bukti lebih lanjut Tiongkok berusaha menutupi asal-usul Covid-19.

"Mengapa para ilmuwan (Tiongkok) meminta basis data internasional kemudian menghapus data penting yang memberi tahu kita tentang bagaimana Covid-19 dimulai di Wuhan?" kata Alina Chan, seorang peneliti di Harvard's Broad Institute, menulis di Twitter.

Studi lain dari para ilmuwan Australia, yang diterbitkan pada Kamis di jurnal Scientific Reports melaporkan, mereka menggunakan data genom untuk menunjukkan bahwa SARS-CoV-2 mengikat reseptor manusia jauh lebih mudah daripada spesies lain. Hal ini menunjukkan, virus itu sudah beradaptasi dengan manusia ketika pertama kali muncul.

Dikatakan, mungkin ada hewan tak dikenal lain dengan afinitas yang lebih kuat yang berfungsi sebagai spesies perantara, tetapi hipotesis bahwa itu bocor dari laboratorium tidak dapat dikesampingkan.

"Meskipun jelas virus awal memiliki kecenderungan tinggi untuk reseptor manusia, itu tidak berarti mereka buatan manusia," kata Dominic Dwyer, ahli penyakit menular di Rumah Sakit Westmead Australia yang merupakan bagian dari tim WHO yang menyelidiki Covid-19 di Wuhan tahun ini.

"Kesimpulan seperti itu tetap spekulatif," katanya.

Sampel serum masih perlu diuji untuk membuat kasus yang lebih kuat tentang asal-usul Covid-19, kata Stuart Turville, profesor di Kirby Institute, sebuah organisasi penelitian medis Australia yang menanggapi studi University of Kent.

"Sayangnya dengan tekanan hipotesis kebocoran laboratorium saat ini dan kepekaan dalam melakukan penelitian lanjutan ini di Tiongkok, mungkin perlu waktu sampai kita melihat laporan seperti itu," katanya.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: channelnewsasia.com

BAGIKAN

BERITA LAINNYA

Wiku: Perlu Strategi Mitigasi untuk Penyumbang Kasus Covid-19 Terbanyak

Perlu kebijakan khusus yakni strategi mitigasi bagi DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten sebagai penyumbang terbanyak kasus Covid-19 di Indonesia

KESEHATAN | 27 Januari 2022

Tegur Pemda, Satgas Minta Prokes Masyarakat Dipantau

Satgas Covid-19 menegur dan meminta pemerintah daerah (pemda) kembali meningkatkan pengawasan terhadap penerapan protokol kesehatan (prokes)

KESEHATAN | 27 Januari 2022

Pemerintah Diingatkan Berhati-hati Membuat Narasi Covid-19

Erlina Burhan menyarankan pemerintah untuk lebih berhati-hati  membuat sebuah narasi sosialisasi Covid-19 yang akan disampaikan kepada masyarakat.

KESEHATAN | 27 Januari 2022

Menkes: Pasien Covid-19 yang Bergejala Sedang dan Berat Bisa Dirawat di RS

Menteri Kesehatan (Menkes) menegaskan, pasien Covid-19 yang direkomendasikan bisa dirawat di RS adalah mereka yang bercirikan gejala sedang dan berat

KESEHATAN | 27 Januari 2022

IDAI: Percepat Vaksinasi Covid-19 karena Anak Dapat Jadi Penular Aktif

IDAI menyatakan, anak dapat menjadi penular yang aktif sehingga pemerintah perlu mempercepat vaksinasi Covid-19 pada kelompok anak-anak

KESEHATAN | 27 Januari 2022

Menkes: Kasus Covid-19 Melonjak Akibat Cepat dan Tingginya Penularan Omicron

Kasus Covid-19 terus meningkat khususnya wilayah DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten akibat cepat, banyak dan tingginya penularan varian Omicron.

KESEHATAN | 27 Januari 2022

Kasus Harian Covid-19 Indonesia 8.077, DKI Jakarta 4.149

Kemenkes kasus harian Covid-19 di Indonesia, Kamis (27/1/2022), mencapai 8.077 dan DKI Jakarta masih menjadi penyumbang terbanyak dengan 4.149.

KESEHATAN | 27 Januari 2022

Bertambah 222, Kasus Omicron di Indonesia Capai 1.988 Pasien

Kasus positif Covid-19 varian Omicron kembali meningkat menjadi 1.988 pasien.

KESEHATAN | 27 Januari 2022

126,4 Juta Masyarakat Indonesia Telah Jalani Vaksinasi Lengkap

Kemenkes melaporkan jumlah warga Indonesia yang telah mendapat vaksinasi Covid-19 lengkap pada Kamis (27/1/2022) sebanyak 126,4 juta atau tepatnya 126.413.464.

KESEHATAN | 27 Januari 2022

Update Covid-19: Waspada, Kasus Harian Tembus 8.000

Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Kamis (27/1/2022), melaporkan kasus harian Covid-19 mencapai 8.077 orang.

KESEHATAN | 27 Januari 2022


TAG POPULER

# Edy Mulyadi


# JKN-KIS


# Presidential Threshold


# Omicron


# Wiyanto Halim



TERKINI
Wiku: Perlu Strategi Mitigasi untuk Penyumbang Kasus Covid-19 Terbanyak

Wiku: Perlu Strategi Mitigasi untuk Penyumbang Kasus Covid-19 Terbanyak

KESEHATAN | 6 menit yang lalu










BeritaSatu Logo
TERKONEKSI BERSAMA KAMI
BeritaSatu Facebook
BeritaSatu Twitter
BeritaSatu Instagram
BeritaSatu YouTube
Android Icon iOS Icon
Copyright © 2022 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings