BNN Jelaskan Alasan Indonesia Larang Ganja
Logo BeritaSatu
Breaking News
INDEX
Breaking News

AGRI 1577 (0)   |   BASIC-IND 938 (0)   |   BISNIS-27 477 (-5)   |   COMPOSITE 5975 (-53)   |   CONSUMER 1621 (0)   |   DBX 1411 (-16)   |   FINANCE 1361 (0)   |   I-GRADE 166 (-1)   |   IDX30 471 (-4)   |   IDX80 128 (-1)   |   IDXBASIC 1248 (-11)   |   IDXBUMN20 358 (-2)   |   IDXCYCLIC 736 (-3)   |   IDXENERGY 747 (1)   |   IDXESGL 129 (-1)   |   IDXFINANCE 1325 (-12)   |   IDXG30 135 (-1)   |   IDXHEALTH 1296 (-14)   |   IDXHIDIV20 416 (-3)   |   IDXINDUST 956 (-21)   |   IDXINFRA 871 (-0)   |   IDXMESBUMN 102 (-0)   |   IDXNONCYC 740 (-6)   |   IDXPROPERT 877 (-12)   |   IDXQ30 135 (-1)   |   IDXSMC-COM 282 (-1)   |   IDXSMC-LIQ 337 (-1)   |   IDXTECHNO 3348 (-40)   |   IDXTRANS 1056 (-1)   |   IDXV30 127 (-1)   |   INFOBANK15 952 (-11)   |   INFRASTRUC 1036 (0)   |   Investor33 406 (-3)   |   ISSI 176 (-1)   |   JII 577 (-4)   |   JII70 205 (-1)   |   KOMPAS100 1130 (-11)   |   LQ45 888 (-8)   |   MANUFACTUR 1250 (0)   |   MBX 1590 (-13)   |   MINING 1939 (0)   |   MISC-IND 1036 (0)   |   MNC36 301 (-2)   |   PEFINDO25 297 (-3)   |   PROPERTY 351 (0)   |   SMinfra18 295 (-1)   |   SRI-KEHATI 340 (-3)   |   TRADE 872 (0)   |  

BNN Jelaskan Alasan Indonesia Larang Ganja

Senin, 26 Juli 2021 | 21:00 WIB
Oleh : Fana F Suparman / WM

Jakarta, Beritasatu.com - Koordinator Kelompok Ahli BNN, Komjen Pol (Purn) Ahwil Luthan membeberkan alasan Indonesia masih melarang ganja dan menempatkannya sebagai narkotika golongan I. Diketahui, pada akhir tahun lalu, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) merestui rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk menghapus tanaman itu dari kategori obat paling berbahaya. Sebanyak 27 dari 53 negara anggota Komisi Obat Narkotika (CND) menyatakan dukungan dengan mengizinkan penggunaan ganja untuk tujuan medis

Ahwil menjelaskan, ganja atau cannabis sativa atau yang kesohor di dunia internasional dengan nama mariyuana memiliki dua zat yang sangat menentukan, yakni THC atau tetrahydrocannabinol dan CBD atau cannabidiol.

Dikatakan, zat CBD memang memiliki manfaat dari sisi medis, sementara zat THC justru berbahaya karena dapat menyebabkan sejumlah gangguan kesehatan seperti disorientasi waktu dan tempat. Ahwil mengungkapkan, ganja di Indonesia memiliki kandungan THC sangat tinggi mencapai sekitar 18%, sementara kandungan CBD mendekati 0%.

"Mungkin ini karena jenis tanamannya, mungkin matahari, tempat penanaman, dan ketinggian dan lain-lain, zat THC dari ganja-ganja di Indonesia, apalagi yang dari Aceh itu di atas 18%. Sedangkan cannabidiol-nya mendekati zero. Sedangkan yang kita perlukan CBD-nya ini. Cannabidiol-nya ini. Ini yang berguna untuk dunia medis. Ini utk Indonesia. Kita bicara Indonesia," kata Ahwil dalam Lunch Talk Beritasatu TV, Senin (26/7/2021).

Ahwil membeberkan bahaya zat THC. Dalam kasus penggunaan ganja oleh seorang pilot misalnya, Ahwil mengatakan, zat THC dapat membuat pilot kehilangan orientasi penglihatan yang berbahaya bagi dunia penerbangan. Ahwil juga mencontohkan kasus kecelakaan maut di kawasan Tugu Tani, Jakarta Pusat pada 2012 silam yang menewaskan sejumlah pengguna jalan. Saat itu, kata Ahwil, lantaran pengaruh ganja, pelaku merasa sudah menginjak pedal rem, namun ternyata yang diinjak pedal gas.

"Ya itu karena disorientasi penglihatan itu. Itu yang berbahaya di THC itu tadi. Sedangkan yang berguna untuk dunia medis tadi adalah CBD," katanya.

Lebih jauh, Ahwil mengatakan, Indonesia masih terikat dengan Konvensi Tunggal tentang Narkotika PBB atau Single Convention on Narcotic Drugs tahun 1961 yang terdiri dari tiga poin utama, yakni opium, koka dan mariyuana. Selain itu, Indonesia juga terikat dengan Convention on Psychotropic tahun 1971 yang sudah dituangkan dalam UU Narkotika.

Ahwil mengingatkan di banyak negara yang saat ini telah melegalkan, pohon ganja yang ditanam umumnya telah mengalami rekayasa genetika yang membuat kandungan zat THC turun, dan di sisi lain kandungan zat CBD meningkat. Dengan kondisi saat ini, Ahwil mengatakan, Indonesia belum mampu untuk membuat rekayasa tersebut.

"Ini kan teknologi nya cukup tinggi. Jangankan yang itu, kita sekarang untuk mengatasi pandemi saja pusing. Rekayasa genetik itu pasti sangat mahal. Dan kebetulan ini dari beberapa jenis ganja yang pernah kita dapatkan, karena, misalnya ganja yang terkenal untuk Eropa itu dari Maroko, itu THC-nya masih di bawah ganja Aceh. Dari Afghanistan itu masih di bawah, yang dari Amerika Latin itu juga THC-nya masih di bawah. Jadi THC yang ada di kita khususnya yang dari Aceh itu adalah 18%, ada yang di atas. Ini sangat tinggi sekali. Sedangkan CBD-nya tidak sampai," katanya.

Selain itu, negara-negara yang melegalkan penggunaan ganja pun memiliki aturan yang ketat. Di Belanda, misalnya, masyarakat hanya dapat mengonsumsi ganja di tempat-tempat yang telah ditentukan dengan pengawasan ketat. Hal ini menutup ruang adanya peredaran gelap ganja.

"Jadi tidak akan mungkin beredar di luar. Nah ini teknik yang dipakai mereka," katanya.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: BeritaSatu.com

BAGIKAN

BERITA LAINNYA

PII Dorong Insinyur Bantu Kembangkan Teknologi Dunia Kesehatan

Persatuan Insinyur Indonesia atau PII mendorong para insinyur untuk membantu mengembangkan teknologi dalam dunia kesehatan.

KESEHATAN | 25 September 2021

Pemerintah Dapat Izinkan Kegiatan Besar, Asalkan Patuhi Syarat

Pemerintah dapat memberi izin penyelenggaraan kegiatan besar dengan kewajiban mengikuti sejumlah pedoman yang ditetapkan.

KESEHATAN | 25 September 2021

Pemerintah Pertegas Vaksinasi Booster Hanya untuk Tenaga Kesehatan

Pemerintah menegaskan vaksin booster hanya diberikan untuk nakes untuk melindungi mereka dalam menjalankan tugasnya di tengah pandemi Covid-19.

KESEHATAN | 25 September 2021

Wakil Ketua MPR Hadiri Vaksinasi di Ponpes Buntet Cirebon

Wakil Ketua MPR Ahmad Muzani menyaksikan pelaksanaan vaksinasi yang dilakukan terhadap santri dan warga sekitar di lingkungan pondok pesantren Buntet, Cirebon.

KESEHATAN | 25 September 2021

Laju Penularan Covid-19 Melandai, PBNU: Masyarakat Tak Boleh Lengah

PBNU meminta masyarakat tak lengah menerapkan protokol kesehatan kendati angka laju penularan menunjukkan tanda-tanda melandai dalam beberapa pekan terakhir

KESEHATAN | 25 September 2021

LPEI Salurkan Tabung Oksigen untuk RS Soetarto Yogyakarta

Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) komitmen membantu fasilitas kesehatan dalam menangani pandemi Covid-19.

KESEHATAN | 25 September 2021

Pentingnya Melakukan Premarital Check Up Sebelum Menikah

Premarital check up atau pemeriksaan kesehatan pranikah, dilakukan minimal enam bulan sebelum dilangsungkannya hari pernikahan.

KESEHATAN | 25 September 2021



Angkie Yudistia: Vaksinasi Disabilitas Jabar Jadi Percontohan Nasional

Pelaksanakan vaksinasi Covid-19 bagi penyandang disabilitas di wilayah Jabar bisa menjadi percontohan vaksinasi untuk disabilitas tingkat nasional

KESEHATAN | 25 September 2021


TAG POPULER

# Kasus Aktif Covid-19


# Azis Syamsuddin


# Timnas Brasil


# Kripto


# Pembakaran Mimbar Masjid



TERKINI
1.600 Petugas Pemadam Perangi Kebakaran Baru di California Utara

1.600 Petugas Pemadam Perangi Kebakaran Baru di California Utara

DUNIA | 12 menit yang lalu










BeritaSatu Logo
TERKONEKSI BERSAMA KAMI
BeritaSatu Facebook
BeritaSatu Twitter
BeritaSatu Instagram
BeritaSatu YouTube
Android Icon iOS Icon
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings