Logo BeritaSatu

Data Belum Cukup, Terlalu Dini Sebut Omicron Mematikan

Rabu, 1 Desember 2021 | 07:05 WIB
Oleh : Hendro D Situmorang / BW

Jakarta, Beritasatu.com - Epidemiolog dari Centre for Environmental and Population Health Griffith University Australia, Dicky Budiman, menyatakan, masih terlalu dini menyebut Covid-19 varian Omicron atau B.11529 ini mematikan atau bergejala ringan, karena datanya belum cukup.

Menurutnya, yang sering menjadi ukuran banyak pihak adalah kecepatan dalam menular dan kemudahan dalam menginfeksi. “Data dari Afrika Selatan dalam waktu relatif singkat yakni 3 minggu sudah bisa mendominasi. Sementara berbeda dengan varian Delta yang memerlukan waktu 3 bulan,” katanya.

Oleh karena itu, Omicron diberi label varian yang menjadi perhatian (Variants of Concern) oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) karena penyebarannya cepat di Afrika Selatan dan banyak mutasi yang mengganggu.

Kemudian untuk gejala masih terlalu dini menyatakan ini mematikan, karena kemajuan dari satu infeksi itu perlu waktu 3-4 minggu ke depan. Menghitung varian virus pun ada massa waktu yang tidak bisa dipercepat. Setelah melalui proses itu baru bisa dikatakan gejalanya dan tingkat keparahannya.

"Saya belum bisa menyatakan varian Omicron ini memberikan gejala lebih berat, mematikan atau ringan, karena masih terlalu dini dan datanya belum cukup. Apalagi masalah kematian karena itu adalah indikator akhir kalau bicara kematian 4 minggu berikutnya baru bisa dihitung. Kalau saat ini ada yang menyatakan varian ini tidak parah, belum tentu juga karena ada proses yang harus dilalui," katanya ketika dihubungi Beritasatu.com, Selasa (30/11/2021).

Diakui, potensi bahaya dari Omicron ini ada atau timbul dari data awal yang menunjukkan bahwa varian ini cepat menyebar dan menginfeksi hanya dalam waktu 3 minggu sudah bisa mendominasi setengah dari varian yang bersirkulasi.

"Yang mana bila dilihat pada varian yang saat ini kita tahu dampak dahsyatnya varian Delta. Itu varian mencapai 50 % dominasi varian yang bersirkulasi yang diperlukan waktu 3 bulan," urai panel ahli WHO tersebut.

Dikatakan, dengan kecepatan Omicron yang mengalahkan Delta, maka memberikan pesan bahwa Omicron potensi memiliki angka reproduksi yang jauh lebih tinggi dari Delta. Selain itu juga diperkuat dengan angka test positivity rate di satu wilayah yang bisa meningkat tajam dalam waktu kurang dari 3 minggu. Misal dari 1% bisa menjadi 30% karena varian baru.

"Jadi terkait dinyatakannya varian Omicron ini berpotensi menurunkan efikasi vaksin, hal ini yang masih harus menunggu data validnya sekitar 4 minggu ke depan lagi," pungkas Dicky.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: BeritaSatu.com

BAGIKAN

BERITA LAINNYA

Jenderal Andika Diminta Cek Video Tindakan Berlebih TNI di Tragedi Kanjuruhan

Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa diminta  melakukan tindakan cepat sesuai aturan terkait tragedi Kanjuruhan

NEWS | 3 Oktober 2022

Tragedi Kanjuruhan, Mahfud Minta Polri Segera Ungkap Pelaku

Mahfud MD meminta Polri agar segera mengungkap pelaku yang harus bertanggung jawab dalam tragedi Kanjuruhan

NEWS | 3 Oktober 2022

Divisi Propam Akan Dirombak, Polri: Perlu Proses dan Kajian

Perombakan struktural secara terbatas terhadap Divisi Propam Polri membutuhkan proses, analisis, serta pengkajian terlebih dahulu.

NEWS | 3 Oktober 2022

Usut Tragedi Kanjuruhan, Tim Pencari Fakta Targetkan Rampung dalam 3 Pekan

Mahfud MD menyampaikan, tim pencari fakta menargetkan pengusutan tragedi Kanjuruhan rampung dalam tiga pekan ke depan.

NEWS | 3 Oktober 2022

Terima Amanah Nasdem, Anies Baswedan: Saya Siap Capres

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menegaskan, dirinya menerima amanah dari Partai Nasdem untuk dicalonkan sebagai capres di Pilpres 2024.

NEWS | 3 Oktober 2022

Deklarasi Anies Baswedan Capres, Paloh Pimpin Hening Cipta Tragedi Kanjuruhan

Deklarasi Anies Baswedan capres dari Partai Nasdem, diawali dengan hening cipta atas tragedi Kanjuruhan yang dipimpin Ketua Umum Nasdem Surya Paloh.

NEWS | 3 Oktober 2022

Mahfud MD Pimpin Tim Pencari Fakta Usut Tragedi Kanjuruhan

Pemerintah membentuk tim gabungan independen pencari fakta (TGIPF) yang dipimpin Mahfud MD untuk mengusut tragedi Kanjuruhan.

NEWS | 3 Oktober 2022

Surya Paloh Umumkan Anies Baswedan sebagai Capres Nasdem

Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh mengumumkan Anies Baswedan sebagai capres yang diusung Partai Nasdem di Pilpres 2024.

NEWS | 3 Oktober 2022

Kakorlantas Singgung Pungli yang Dialami Komika Soleh Solihun

Kakorlantas Polri, Inspektur Jenderal Polisi Firman Shantyabudi menyinggung mengenai pungutan liar (pungli) yang dialami komika Soleh Solihun.

NEWS | 3 Oktober 2022

Operasi Zebra Jaya 2022 digelar Serentak di 33 Polda

Polda Metro Jaya menggelar Operasi Zebra Jaya 2022 serentak di 33 Polda di seluruh Indonesia

NEWS | 3 Oktober 2022


TAG POPULER

# Tragedi Kanjuruhan


# Lesti Kejora


# Pembantaian di Papua Barat


# Arema FC


# Raja Charles III


 

NEWSLETTER

Dapatkan informasi terbaru dari kami
Email yang Anda masukkan tidak valid.

TERKINI
Presiden Jokowi Kagum Impor Jagung Menurun Tajam

Presiden Jokowi Kagum Impor Jagung Menurun Tajam

EKONOMI | 11 menit yang lalu










CONTACT US Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings