Menag Instruksikan Pemilihan Ulang Rektor UIN Makassar

Menag Instruksikan Pemilihan Ulang Rektor UIN Makassar
Gedung UIN Makassar ( Foto: UIN Makassar )
M Kiblat Said / MUT Selasa, 21 April 2015 | 08:53 WIB

Makassar - Harapan Prof Andi Faisal Bakti PhD untuk menduduki posisi Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin, Makassar, belum bisa langsung terealisasikan. Hal ini lantaran meski telah memenangkan pemilihan rektor sejak Agustus 2014, dirinya tak kunjung dilantik. Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifuddin bahkan menginstruksikan pemilihan rektor diulang.

Instruksi Menag itu diterima Pelaksana Tugas Rektor UIN, Prof Dr Ahmad Thib Raya MA, Jumat (17/4), sekaligus membatalkan hasil Pemilihan Rektor 7 Agustus 2014 lalu. Pertimbangan pembatalan diantaranya karena saat pemilihan lalu jumlah anggota senat yang hadir tidak quorum.

Pendukung Andi Faisal kepada Suara Pembaruan, Selasa (21/4) mengatakan, keputusan Menag Lukman Hakim itu sangat terburu-buru. Keputusan itu juga bertolak belakang dengan pernyataannya ketika berada di Makassar, Minggu (8/3) lalu, saaat itu Lukman berjanji akan segera melantik rektor terpilih dan tidak akan ada pemilihan ulang. Lukman malah menginstruksikan untuk dilakukan pemilihan ulang dan membatalkan hasil pemilihan lalu.

Kisruh pemilihan rektor di perguruan tinggi Islam terbesar di Kawasan Timur Indonesia (KTI) itu mencuat setelah pemilihan 7 Agustus 2014, ketika itu pemilihan diikuti tiga calon, Prof Andi Faisal Bakti, Prof Arifuddin Ahmad dan Prof Musyafir Pababari dan dimenangkan oleh Andi Faisal.

Sedangkan satu calon lainnya, Prof Mardan yang mengikuti proses pencalonan sejak awal, pada saat pemilihan bersama 22 anggota senat menolak ikut karena menganggap pelaksanaan pemilihan tidak mengacu pada statuta UIN Alauddin. Pasca-pemilihan rektor suasana makin memanas, pamflet dan spanduk bermunculan di dalam kampus, menolak hasil pemilihan.

Di tengah ketidak pastian pelantikannnya, Andi Faisal mendaftarkan gugatan ke PTUN, Selasa (24/3), namun belum ada putusan atas gugatan itu, Menag mendahului mengelurkan instruksi agar pemilihan diulang dan membatalkan hasil pemilihan yang lalu. “Harusnya Menag tidak mengeluarkan instruksi sebelum ada keputusan PTUN,” kata Faisal.

Sementara itu, menanggapi instruksi Menag, Ketua Panitia Seleksi Calon Rektor (PSCR), Dr Salehuddin Yasin MAg mengatakan pekerjaan untuk melakukan pemilihan ulang cukup berat. Prosesnya harus dimulai dari awal lagi.

"Mungkin ada yang lain bisa melaksanakan, kalau saya tidak bersedia lagi untuk menjadi ketua dalam pemilihan ulang," kata Salehuddin.

Menurutnya, jika dikatakan pemilihan pada 7 Agustus tidak sesuai statuta UIN, pihaknya sudah mengajukan usulan revisi terhadap Keputusan Menteri Agama Nomor 20 Tahun 2014 tentang Statuta UIN. Permohonan revisi diajukan karena banyak kesalahan dalam statuta tersebut, diantaranya tidak menyebut Fakultas Ekonomi dan Bisnis sebagai salah satu fakultas yang ada di UIN.

Masalah quorum, itu telah diatur dalam tata tertib pemilihan. Panitia telah memberikan tambahan waktu untuk menunggu anggota senat hadir, sampai batas waktu nyang telah ditentukan tidak juga hadir maka pemilihan dianggap quorum. Dengan turunnya instruksi Menag, pelaksana tugas Rektor UIN Prof Dr Ahmad Thib terpaksa harus bekerja keras mempersiapkan pemilihan ulang sebab Menag memberi batasan waktu pemilihan satu bulan.

Sumber: Suara Pembaruan