JKN Dikatakan Sukses Bila Penuhi Lima Faktor Ini

JKN Dikatakan Sukses Bila Penuhi Lima Faktor Ini
Penandatanganan kerja sama asuransi swasta dengan BPJS Kesehatan terkait koordinasi manfaat atau coordination of benefit (COB) Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) di kantor pusat BPJS Kesehatan, Rabu (4/6). ( Foto: istimewa )
Dina Manafe / WBP Rabu, 30 Desember 2015 | 19:06 WIB

Jakarta - Ketua Komisi Monitoring dan Evaluasi Dewan Jaminan Sosial Nasional (DJSN), Zaenal Abidin, menilai selama dua tahun berjalan, pelaksanaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) masih memerlukan banyak perbaikan. JKN bisa dikatakan sukses bila lima faktor penentu berikut ini sudah dipenuhi.

Pertama ketersediaan fasilitas kesehatan primer atau tingkat pertama yang merata di seluruh daerah. Selama ini, tingkat kepuasan peserta terhadap fasilitas kesehatan belum pernah disurvei atau didata. “Kalau disurvei, pandangan masyarakan pasti berbeda. Yang punya rumah dekat dengan fasilitas kesehatan pasti mengatakan puas, tetapi di daerah terpencil pasti mengatakan tidak," kata Zainal Abidin di sela-sela diskusi hasil survei kepuasan peserta BPJS Kesehatan dan fasilitas kesehatan di Kantor Pusat BPJS Kesehatan, Jakarta, Rabu (30/1).

Faktor penentu kedua, kata Zainal, ketersediaan dokter dan tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan tingkat primer. Ketiga, remunerasi atau pendapatan yang adil bagi tenaga medis di semua fasilitas kesehatan. Keempat, besaran iuran peserta BPJS Kesehatan, khususnya Penerima Bantuan Iuran (PBI) yang keekonomian.

Terakhir, masyarakat memberlakukan pola hidup sehat agar BPJS tidak defisit lantaran besaran klaim pengobatan lebih besar dari iuran yang terkumpul. “Sejak dua tahun berjalan, catatan saya, JKN harus menjamin akses dan mutu pelayanan kepada seluruh penduduk yang menjadi peserta,” kata Zainal.

Zainal mengungkapkan, meski banyak keluhan pada JKN, kepuasan masyarakat terhadap program ini sangat tinggi. Survei yang dilakukan DJSN baru-baru ini menunjukkan, tingkat kepuasan peserta BPJS Kesehatan mencapai 86,79 persen. Survei ini hanya dilakukan di beberapa kota di Indonesia. Angka ini jauh lebih tinggi dari survei indeks kepuasan SWAsembada Media Bisnis pada 2015. Survei Swa menunjukkan indeks kepuasan peserta BPJS Kesehatan masuk ke dalam kategori tinggi, yaitu sebesar 78,9 persen.

Data yang dilansir lembaga survei independen tersebut menyebutkan, indeks kepuasan peserta PBI lebih tinggi yaitu 79,7 persen dibandingkan kepuasan peserta non PBI 78,1 persen. Jika ditelisik lebih dalam, indeks kepuasan peserta non PBI untuk masing-masing jenisnya relatif sama, yaitu Pekerja Penerima Upah (PPU) 78,2 persen, Pekerja Bukan Penerima Upah (PBPU) sebesar 78,2 persen, dan bukan pekerja sebesar 77,8 persen.

Head of Research PT SWAsembada Media Bisnis Rohmat Purnadi mengatakan, dari sisi kontak titik pelayanan, secara umum indeks kepuasan peserta BPJS Kesehatan tidak jauh berbeda, yaitu 78 persen - 79,5 persen dengan rata-rata indeks nasional sebesar 78,9 persen. Perinciannya puskesmas sebesar 78,6 persen, dokter praktik perorangan (DPP) 79,5 persen, klinik 78,9 persen, fasilitas kesehatan rujukan tingkat lanjutan 79,1 persen, Kantor Cabang BPJS Kesehatan 78,5 persen, dan BPJS Kesehatan Center 79,0 persen.

Sumber: Suara Pembaruan