Kasus Anak Kecanduan Video Porno Terus Meningkat

Kasus Anak Kecanduan Video Porno Terus Meningkat
Dosen bidang teknologi informatika (TI) Universitas Mercu Buana (UMB) Jakarta, Afiyati Reno
/ GOR Senin, 7 Maret 2016 | 01:59 WIB

Jakarta – Sungguh memprihatinkan, temuan terbaru menunjukkan lebih dari 65% pelajar Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Jakarta sudah pernah menonton video porno. Bahkan sejumlah anak SMP sudah masuk kategori kecanduan video porno.

Dalam sebuah penelitian yang digagas dosen bidang teknologi informatika (TI) Universitas Mercu Buana (UMB) Jakarta, Afiyati Reno,dengan cara menyebar kuesioner terhadap pelajar kelas 1 SMP di sejumlah sekolah di Jakarta Barat, menunjukkan 65% lebih pelajar kelas 1 SMP sudah pernah menonton video porno, yang dapat diperoleh dengan mudah melalui gadget yang terhubung dengan internet. Sementara, 30% lainnya adalah anak-anak perempuan kelas 1 SMP yang memang tidak mau menonton video porno.

“Saya adakan kuesioner ke anak SMP kelas 1. Lebih dari 65% sudah pernah nonton video porno, yang 30% lagi kebanyakan anak perempuan yang memang tidak tertarik, “ kata Afiyanti saat ditemui di kampus UMB Meruya, Jakarta Barat.

Anak SD
Selain aktif mengembangkan penelitian bidang pengembangan teknologi ramah anak, dosen TI UMB ini juga aktif menggelar berbagai seminar dan diskusi dengan sasaran komunitas ibu-ibu yang memiliki anak SD dan SMP.

Afi terkejut dilapori orang tua yang menemukan anaknya yang masih pelajar sekolah dasar (SD) terpapar pornografi hingga tingkat kecanduan.

“Ibunya datang menangis-nangis. Anaknya duduk di kelas 4 SD kecanduan pornografi. Saat ini anaknya harus berhenti sekolah untuk menjalani terapi selama kurang lebih satu setengah tahun,” kata Afiyati.

Kasus anak terpapar pornografi itu sebetulnya kesalahan orang tua. Menurut Afiyati, umumnya anak mendapatkan gadget canggih dengan teknologi tinggi, hanya karena orang tua ingin anaknya ikut gaya-gayaan.

Bahaya bermain game
Afi juga mengimbau kepada orangtua, agar terus mengawasi anak-anaknya dari permainan game secara berlebihan. Sebab jika dibiarkan secara berkesinambungan maka anak akan malas berpikir dan hilang kemampuan bersosialisasi dengan masyarakat.

Dalam seminar dengan tema Berteknologi Dengan Sehat di SMP 10 Al-Azhar Kembangan, Jakarta Barat, Afi menjelaskan dampak anak usia dini diperkenalkan dengan Gadget.

"Ada cara untuk memblokir konten pornografi dan memantau gadget anak-anak kita. Saya bersama teman-teman juga selalu memblokir konten video porno tapi kendalanya yaitu ketika kita blok 5 Video yang masuk 20 video, seperti mati satu tumbuh seribu," tuturnya.

Sumber: PR
CLOSE