Penyakit Degeneratif Bisa Diatasi dengan Herbal

Penyakit Degeneratif Bisa Diatasi dengan Herbal
Dekan Fakultas Kedokteran UGM, Prof dr Ova Emilia. ( Foto: Suara Pembaruan/Fuska Sani Efani )
Fuska Sani Evani / PCN Minggu, 23 April 2017 | 07:10 WIB

Yogyakarta- Kematian akibat penyakit degeneratif di Indonesia, menduduki peringkat tertinggi, yang akhirnya menjadi beban baik bagi penyandangnya maupun lingkungan. Terlebih lagi, ujar Dekan Fakultas Kedokteran UGM, Prof dr Ova Emilia, saat ini penyakit degerartif tidak berpatok pada usia tua, karena gejala degeratif pada anak muda juga sudah muncul seiring dengan perubahan gaya hidup.

Saat membuka seminar "Peran Herbal untuk Mencegah Proses Degenerasi," di Auditorium Fakultas Kedokteran UGM, Sabtu (22/4), Ova Emilia menyatakan, sampai saat ini, herbal masih dipandang sebelah mata oleh dunia medik modern, padahal sesungguhnya, penyakit degeratif mampu dicegah dengan cara herbal.

"Sayangnya, pada penyakit degeratif yang seharusnya bisa dicegah, kurang mendapat perhatian termasuk perusahaan asuransi, kurang mengedepankan aspek promotif upaya pencegahan penyakit dan menomorsatukan pengobatan,” ujarnya.

Untuk itulah, lanjut Ova, Fakultas Kedokteran UGM sejak tahun 2005 membuka mata kuliah khusus herbal, dengan beban tiga Satuan Kredit Semester (SKS), yang bertujuan untuk mengatasi kekhawatiran pada penggunaan obat herbal.

Menurut Ova, terapi herbal, akupuntur yang semuanya itu merupakan pengobatan oriental merupakan modal besar yang bersifat komplementer dengan terapi-terapi medis barat. Namun, karena pendekatannya berbeda, kedudukan herbal dalam dunia medis barat tidak kuat.

Nyatanya, lanjut Ova, di dunia mana pun mengenal suplemen makanan yang sesungguhnya herbal dalam kemasan modern.

Dalam seminar yang didukung perusahaan jamu nasional PT Sido Muncul tersebut, Ova menegaskan, semestinya, herbal dan ilmu pengobatan modern saling mengisi, terlebih jika mengacu pada kepentingan yang sama yakni kepentingan pasien.

Sedangkan, Kepala Pusat Kedokteran Herbal Fakultas Kedokteran UGM Prof Mae Sri Hartati menyatakan, tanaman herbal banyak ditemukan di Indonesia. Setidaknya ada 30.000 spesies yang telah dideterminasi oleh para ahli biologi, dan bahkan sekitar 9.600 yang sudah terdeteksi bisa digunakan untuk pengobatan.

Pusat Kedokteran Herbal Fakultas Kedokteran UGM ini juga didirikan karena banyak para màhasiswa baik S1 maupun S2 yang mengambil skripsi yang berhubungan dengan herbal. "Karena itu Pusat Kedokteran Herbal ini didirikan, yang juga diimplementasikan di RSUP Dr Sardjito,” ujarnya.

Sementara itu, dalam keterangan tertulisnya, Direktur PT Sido Muncul, Irwan Hidayat menyatakan terus akan mendukung upaya pengembangan dan penelitian tentang herbal, termasuk FK UGM, sehingga diharapkan dunia kedokteran memiliki wawasan terhadap industri jamu.