Harga Minyak Tertekan Kekhawatiran Dampak Penutupan Pemerintah AS

Harga Minyak Tertekan Kekhawatiran Dampak Penutupan Pemerintah AS
Ilustrasi minyak dunia. ( Foto: vungtauoil.com )
/ WBP Sabtu, 12 Januari 2019 | 07:16 WIB

New York - Harga minyak turun pada akhir perdagangan Jumat atau Sabtu pagi WIB (12/1), menghentikan reli selama sembilan hari berturut-turut. Pelemahan dipicu menguatnya greenback dan kemerosotan saham-saham energi akibat kekhawatiran penutupan pemerintah AS yang sedang berlangsung.

Minyak mentah AS, West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Februari turun US$ 1 menjadi US$ 51,59 per barel di New York Mercantile Exchange. Sementara patokan global, minyak mentah Brent untuk pengiriman Maret jatuh US$ 1,2 menjadi US$ 60,48 per barel di London ICE Futures Exchange.

Minyak mentah berjangka melemah bersama penurunan sektor energi di 11 sektor utama S&P 500, terjadi ketika penutupan pemerintah AS telah berlangsung selama tiga minggu dan tidak menunjukkan tanda-tanda berakhir.

Para analis dan investor telah mengaktifkan mode risk-off (penghindaran risiko) dan menjadi lebih berhati-hati tentang memegang aset-aset berdenominasi dolar AS.

Dalam hal itu, karena dolar AS menguat pada perdagangan Jumat (11/1), maka minyak mentah menjadi lebih tidak menguntungkan karena lebih mahal bagi para pedagang dan investor.

Namun baik minyak mentah WTI maupun Brent membukukan kenaikan mingguan untuk minggu kedua berturut-turut, dengan minyak mentah AS naik hampir 8,0 persen dan Brent naik sekitar 6,0 persen.

Mengimbangi dampak politik yang merugikan, jumlah rig pengeboran minyak di Amerika Serikat turun empat rig atau penurunan mingguan kedua, karena meningkatnya kehati-hatian produsen minyak dalam rencana pengeboran mereka untuk 2019, menurut perusahaan jasa energi AS Baker Hughes pada Jumat (11/1).



Sumber: Xinhua, Antara
CLOSE