BI: Pelemahan Rupiah Bukan Disebabkan Faktor Domestik

BI: Pelemahan Rupiah Bukan Disebabkan Faktor Domestik
Nilai tukar rupiah terhadap dolar. ( Foto: BeritaSatu Photo / Joanito De Saojoao )
Triyan Pangastuti / FMB Senin, 11 Februari 2019 | 14:18 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Nilai tukar rupiah pada perdagangan hari ini, terpantau bergerak melemah hingga siang pukul 12.58. Berdasarkan data Bloomberg menunjukkan, rupiah melemah 89 poin atau Rp 14.044 per dolar AS, dan pelemahan rupiah ini dinilai BI bukan berasal dari faktor domestik.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter BI Nanang Hendarsah mengatakan pelemahan rupiah bukan karena pengaruh kondisi domestik, termasuk adanya rilis neraca pembayaran Indonesia 2018 dan hasil current account deficit. Pelemahan rupiah yang terjadi lebih disebabkan sentimen eksternal.

“Tidak ada faktor domestik yang mempengaruhi pasar, current account defisit (CAD) atau defisit transaksi berjalan sedikit di bawah 3 persen itu bukan menjadi faktor negatif,” kata dia saat dihubungi Investor Daily, Senin (11/2).

Lanjutnya pelemahan lebih karena risk off dan flight to quality masih mewarnai pasar keuangan global, terutama kekhawatiran atas terjadinya perlambatan pertumbuhan ekonomi global setelah rilis data produksi industri Italia dan Prancis periode Desember 2018 mengalami kontraksi sehingga menguatkan kemungkinan pemburukan ekonomi Eurozone.

Disisi lain, ia juga menilai pelemahan nilai tukar rupiah juga disebabkan oleh meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap hasil trade talk antara AS dan Tiongkok. Lantaran adanya kekhawatiran jika kedua negara tidak menemui kesepakatan.

“Pasar khwatir trade talk dari AS dan Tiongkok tidak menemui kesepakatan lebi h lanjut, sampai batas waktu 90 hari yang disepakati. Hal tersebut memperkuat pernyataan dari Presiden Trump yang belum menemui Presiden Xi Jinping hingga deadline tanggal 1 Maret 2019” pungkasnya.

Kemudian faktor risk off di pasar keuangan global membuat indeks saham global melemah dan terjadi aksi flight to quality, sehingga membuat yield sovereign bond negara utama mengalami penurunan. Flight to quality adalah di mana investor melepas aset berisiko tinggi dan lari ke aset yang lebih aman, misalnya obligasi AS atau emas. Risk on risk off adalah di mana investor menindahkan investasi mereka ke investasi berisiko tinggi saat kondisi perekonomian aman, dan pindah ke investasi berisiko rendah saat kondisi perekonomian berisiko tinggi.

"Kekhawatiran pasar terhadap perlambatan pertumbuhan ekonomi Eropa dan kegagalan trade talk antara AS dengan Tiongkok juga membuat dolar AS berlanjut menguat terhadap nilai mata uang negara-negara G10 dan sebagian negara berkembang," tukas Nanang.

Sebagai informasi, neraca pembayaran selama 2018 tercatat defisit USD 7,1 miliar dan defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD) yang membengkak menjadi 2,98 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). Adapun defisit NPI tahun lalu merupakan yang terbesar sejak 20, lantaran NPI mengalami defisit sebesar US$ 7,3 miliar pada 2013, kemudian surplus US$ 15,2 miliar pada 2014, defisit US$ 1,1 miliar pada 2015, surplus US$ 12,1 miliar pada 2016, dan surplus US$ 11,6 miliar pada 2017.



CLOSE