Terbesar Sejak 2014, Neraca Perdagangan Januari Defisit US$ 1,16 M

Terbesar Sejak 2014, Neraca Perdagangan Januari Defisit US$ 1,16 M
Ilustrasi ekspor-impor. ( Foto: Antara / Muhammad Adimaja )
Lona Olavia / FMB Jumat, 15 Februari 2019 | 10:12 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Mengawali tahun 2019, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, pada Januari terjadi defisit neraca perdagangan sebesar US$ 1,16 miliar. Di mana, ekspor hanya sebesar US$ 13,87 miliar, namun impor mencapai US$ 15,03 miliar.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, bila dibandingkan defisit Desember, defisit Januari naik sedikit dari US$ 1,03 miliar. Penyebabnya karena defisit migas US$ 454,8 juta dan nonmigas US$ 704 juta.

“Januari 2014 terjadi defisit US$ 443,9 juta, Januari 2015 surplus US$ 632,2 juta, Januari 2016 surplus US$ 114 juta, Januari 2017 surplus US$ 1,4 miliar, Januari 2018 defisit US$ 756 juta, Januari 2019 defisit US$ 1,16 miliar. Jadi, sejak 2014 ini yang terbesar defisitnya, dalam dan di atas US$ 1 miliar,” ujarnya di Jakarta, Jumat (15/2).

Suhariyanto mengatakan defisit dikarenakan ekonomi global masih redup, lembaga keuangan juga masih kurang bagus proyeksinya, ekonomi Tiongkok dan AS turun lalu ada perang dagang. Ditambah harga komoditas yang masih fluktuatif dan menjadi tantangan terbesar. “Harga komoditas seperti batu bara turun 2,76 persen, begitu juga untuk tembaga, zinc, aluminium, sedangkan minyak mentah ICP meningkat dari Desember US$ 54,81 per barel menjadi US$ 56,55 per barel," kata Suhariyanto.

Secara rinci, nilai ekspor Indonesia Januari 2019 mencapai US$ 13,87 miliar atau menurun 3,24 persen dibanding ekspor Desember 2018. Demikian juga dibanding Januari 2018 menurun 4,70 persen. Ekspor nonmigas Januari 2019 mencapai US$12,63 miliar, naik tipis 0,38 persen dibanding Desember 2018. Sementara itu dibanding ekspor nonmigas Januari 2018, turun 4,50 persen.

Peningkatan terbesar ekspor nonmigas Januari 2019 terhadap Desember 2018 terjadi pada bijih, kerak, dan abu logam sebesar US$80,3 juta (37,08 persen), sedangkan penurunan terbesar terjadi pada mesin-mesin/pesawat mekanik sebesar US$127,1 juta (22,42 persen).

Menurut sektor, ekspor nonmigas hasil industri pengolahan Januari 2019 turun 4,47 persen dibanding bulan yang sama tahun 2018, demikian juga ekspor hasil tambang dan lainnya turun 6,25 persen, sementara ekspor hasil pertanian naik 9,99 persen.

Ekspor nonmigas Januari 2019 terbesar adalah ke Tiongkok yaitu US$1,71 miliar, disusul Amerika Serikat US$1,51 miliar dan Jepang US$1,20 miliar, dengan kontribusi ketiganya mencapai 34,96 persen. Sementara ekspor ke Uni Eropa (28 negara) sebesar US$1,38 miliar. “Makanya, harus ada diversifikasi produk dan buka pasar nontradisional, karena ekonomi 2019 agak gloomy,” katanya.

Menurut provinsi asal barang, ekspor Indonesia terbesar pada Januari 2019 berasal dari Jawa Barat dengan nilai US$2,58 miliar (18,62 persen), diikuti Kalimantan Timur US$1,46 miliar (10,55 persen) dan Jawa Timur US$1,43 miliar (10,30 persen)

Sedangkan, nilai impor Indonesia Januari 2019 mencapai US$15,03 miliar atau turun 2,19 persen dibanding Desember 2018. Demikian pula jika dibanding Januari 2018 turun 1,83 persen. Impor nonmigas Januari 2019 mencapai US$13,34 miliar atau turun 0,004 persen dibanding Desember 2018. Sebaliknya meningkat 2,21 persen jika dibanding Januari 2018.

Impor migas Januari 2019 mencapai US$1,69 miliar atau turun 16,58 persen dibanding Desember 2018. Demikian juga jika dibanding Januari 2018 turun 25,22 persen

Penurunan impor nonmigas terbesar Januari 2019 dibanding Desember 2018 adalah golongan mesin/pesawat mekanik US$212,2 juta (8,54 persen), sedangkan peningkatan terbesar adalah golongan bahan kimia organik sebesar US$119,5 juta (25,44 persen).

Negara pemasok barang impor nonmigas terbesar selama Januari 2019 ditempati oleh Tiongkok dengan nilai US$4,14 miliar (31,02 persen), Jepang US$1,37 miliar (10,28 persen), dan Thailand US$0,73 miliar (5,51 persen). Impor nonmigas dari ASEAN 18,57 persen, sementara dari Uni Eropa 8,91 persen.

Nilai impor golongan penggunaan barang baik barang konsumsi, bahan baku/penolong, dan barang modal selama Januari 2019 mengalami penurunan dibanding bulan yang sama tahun sebelumnya masing-masing sebesar 10,39 persen, 0,11 persen, dan 5,10 persen. 



Sumber: Suara Pembaruan