Neraca Perdagangan Februari Surplus US$ 330 Juta

Neraca Perdagangan Februari Surplus US$ 330 Juta
Ilustrasi ekspor-impor. ( Foto: Antara / Muhammad Adimaja )
Lona Olavia / Arnoldus Kristianus / WBP Jumat, 15 Maret 2019 | 11:05 WIB

Jakarta, Beritasatu.com  - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, neraca perdagangan Indonesia pada Februari 2019 surplus US$ 330 juta. Angka ini selisih dari ekspor Februari sebesar US$ 12,53 miliar, dan impor US$ 12,2 miliar.

“Sesudah empat bulan defisit, alhamdulilah Februari surplus meski impor turun tajam dan ekspor turun juga,” ujar Kepala BPS Suhariyanto di Jakarta, Jumat (15/3/2019).

BPS mencatat ekspor Februari 2019 turun 10,03 persen (month on month/MoM) menjadi US$ 12,53 miliar. Adapun secara tahunan atau year on year, ekspor Februari 2019 turun 11,33 persen dibandingkan Februari 2018. Sedangkan impor pada Februari, turun tajam hingga 18,61 persen (MoM) sebesar US$ 12,20 miliar. Jika dibandingkan Februari 2018 (YoY) turun 13,98 persen.

BPS mencatat penurunan ekspor Februari dipicu pelemahan di seluruh sektor. Ekspor migas turun 21,75 persen menjadi US$ 1,09 miliar, pertanian turun 0,76 persen menjadi US$ 0,23 miliar, manufaktur turun 8,06 persen menjadi US$ 9,41 miliar, pertambangan dan lainnya turun 20,8 persen menjadi US$ 1,8 miliar. Sedangkan impor Indonesia menurut penggunaan barang turun di seluruh kelompok. Di mana, konsumsi turun 26,94 persen menjadi US$ 1,01 miliar, bahan baku turun 15,04 persen menjadi US$ 9,01 miliar, dan barang modal turun 0,8 persen menjadi US$ 2,19 miliar. “Impor turun tajam karena adanya penurunan bahan kimia dan organik hingga US$ 152,7 juta, plastik dan barang dari plastik turun US$ 194,8 juta, mesin pesawat mekanik turun US$ 209,1 juta, besi baja turun US$ 474,5 juta, dan peralatan listrik turun US$ 477,3 juta,” jelas Suhariyanto.

Sebelumnya, BPS mencatat pada Januari 2019 defisit perdagangan mencapai US$ 1,16 miliar atau yang terdalam sejak tahun 2013. “Ekspor Februari selalu mengalami penurunan dibanding Januari karena jumlah hari dibulan Februari selalu lebih pendek, selisih tiga hari, itu berpengaruh besar. Dan ada juga perlambatan ekonomi di beberapa tujuan negara utama,” kata Suhariyanto.

Ekspor nonmigas untuk diketahui memberikan kontribusi hingga 91,31 persen pengaruhnya ke ekspor. Untuk tujuan ekspor nonmigas, terjadi penurunan ke Jepang sebesar 162,3 persen, Tiongkok 191,1 persen, dan AS 238,7 persen. Sedangkan, kenaikan terjadi ke Malaysia 84,8 persen, Hong Kong 68,2 persen, dan Kazakhstan 50,6 persen. “Situasi ekonomi global di tahun 2019 sesuai prediksi dari berbagai lembaga internasional agak gloomy. World Bank prediksi ekonomi turun 3 persen ke 2,9 persen, AS dari 2,9 persen ke 2,5 persen dan Tiongkok. Ini jadi tantangan utama untuk menggenjot ekspor karena pelemahan ekonomi global dan fluktuasinya harga komoditas,” jelas Suhariyanto.



Sumber: BeritaSatu.com