Saatnya Rakyat Kecil Tersentuh Layanan Sahabat Keuangan

Saatnya Rakyat Kecil Tersentuh Layanan Sahabat Keuangan
Presiden Direktur Finmas, Peter Lydian, memimpin peluncuran aplikasi bersama CEO dan pendiri Oriente Hubert Tai, pendiri Oriente Geoffrey Prentice, pendiri Oriente Lawrence Chu, Sinar Mas Franky Widjaja dan Direktur Perizinan dan Pengawasan Fintech OJK Hendrikus Passagi. ( Foto: Beritasatu Photo / Istimewa )
Feriawan Hidayat / FER Senin, 15 April 2019 | 20:20 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Menurut penelitian Asian Development Bank (ADB), Indonesia yang diberkati dengan surplus demografi 265 juta jiwa mengalami kesenjangan inklusi keuangan dengan nilai sekitar US $ 57 miliar, dimana masyarakat yang belum terlayani akses jasa dan produk keuangan sebesar 203 juta orang

Mencapai inklusi finansial tidak semata-mata terpenuhi hanya dengan pemberian kredit. Tentunya, dibutuhkan pendidikan untuk memahami penggunaan pinjaman dan pembiayaan yang bertanggung jawab, cara mengatur keuangan pribadi dan keluarga yang baik serta mengerti seluk beluk mengelola bisnis, sehingga masyarat menjadi 'melek finansial'.

Masalah keuangan dapat diatasi dengan perhatian dan pengertian layaknya seorang sahabat. Saatnya rakyat kecil tersentuh layanan sahabat keuangan.

Baca Juga: Finmas Dorong Percepatan Inklusi Keuangan

Peter Lydian, Presiden Direktur Finmas, Peter Lydian, mengatakan, Finmas bertujuan untuk membantu jutaan orang Indonesia membuka potensi keuangan mereka melalui pendekatan #SahabatFinansial yang didasarkan pada prinsip-prinsip tanggung jawab, keamanan, kenyamanan, dan keterjangkauan.

"Kami bersyukur menerima dukungan dan bimbingan OJK dan Sinar Mas di samping sumber daya dan keahlian teknologi dari Oriente dalam perjalanan kami untuk menjangkau setiap pengusaha mikro dan konsumen Indonesia yang kurang terlayani,” kata Peter Lydian, dalam keterangan resmi yang diterima Beritasatu.com, Senin (15/4/2019).

Peter mengatakan, sahabat finansial masyarakat itu adalah teknologi. Penetrasi smartphone telah memajukan serta menata ulang digitalisasi sektor finansial, memudahkan akses keuangan dan merubah pola-pikir dan perilaku masyarakat Indonesia, serta membuat sistem ekonomi Indonesia menjadi lebih efisien.

"Dengan demikian, digital menjadi platform utama koneksi antar-lembaga untuk melayani konsumen. Kegiatan bisnis offline masyarakat akan diintegrasikan dengan kemudahan online para pemain atau lembaga penyedia keuangan," papar Peter Lydian.

Lebih lanjut, Peter menambahkan, teknologi menjadi sahabat konsumen yang memberdayakan masyarakat untuk mengubah pola pikir dan perilaku mereka, menciptakan generasi yang terpelajar dan Fintelect. Teknologi merupakan sahabat publik yang mampu memberdayakan kemajuan dan pemerataan ekonomi dengan menyediakan akses ke kredit, membangun identitas finansial, membuka kunci potensi kemandirian finansial.

"Teknologi adalah sahabat sektor jasa keuangan dengan mengintegrasikan rantai nilai finansial tradisional dan modern serta hulu dan hilir. Mengubah tatanan kompetisi tetapi tidak mengganggu ekosistem," tandas Peter Lydian.

Ketua Umum Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia, Adrian Gunadi, menambahkan, teknologi mendukung pemerintah dengan memberi energi pada sistem keuangan, memajukan mesin ekonomi sehingga Indonesia gesit, mudah beradaptasi dengan kekuatan ekonomi dan politik dunia yang kerap berubah.

"Diharapkan dengan keberadaan asosiasi, industri fintech P2P lending dapat bertumbuh kuat dan sehat serta bermanfaat bagi kalangan yang belum terlayani oleh lembaga keuangan konvensional. Di Indonesia, fintech ditujukan untuk inklusi keuangan," ujar Adrian Gunadi.

Sebagai sahabat sejati yang berkeinginan membuat semua menjadi lebih mengerti, diperlukan kesadaran pribadi sebagai konsumen untuk mengenali hak dan kewajiban serta manfaat dan resiko sebelum mengajukan pinjaman online. Lalu bagaimana cara kita memilih sahabat finansial yang baik?

"Pilih hanya yang terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Pakai aplikasi pinjaman online yang aman dan nyaman serta terverifikasi. Yakin bahwa pinjaman bernilai manfaat dan untuk tujuan produktif," pungkas Adrian Gunadi.



Sumber: BeritaSatu.com