Setelah 2 Bulan Surplus, Neraca Perdagangan RI Diprediksi Defisit

Setelah 2 Bulan Surplus, Neraca Perdagangan RI Diprediksi Defisit
Ilustrasi ekspor dan impor. ( Foto: Antara )
Faisal Maliki Baskoro / FMB Selasa, 14 Mei 2019 | 15:47 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Setelah dua bulan berturut-turut mencatat surplus, neraca perdagangan Indonesia pada April 2019 diperkirakan kembali mencatat defisit. Badan Pusat Statistik akan mengumumkan data perdagangan Indonesia, Rabu (15/5/2019).

Ekonom DBS Group Research Indonesia Masyita Crystallin mengatakan sejalan dengan tren regional, ekspor dan impor cenderung tetap lemah.

"Neraca perdagangan mungkin kembali ke zona defisit bulan ini setelah mengalami surplus selama dua bulan berturut-turut," kata dia dalam risetnya hari ini, Selasa (14/5/2019).

Pada bulan Februari, RI mencatat surplus US$ 330 juta. Angka ini selisih dari ekspor Februari sebesar US$ 12,53 miliar, dan impor US$ 12,2 miliar. Lalu pada bulan Maret, surplus US$ 540 juta hasil selisih ekspor Maret 2019 sebesar US$ 14,03 miliar, dan impor mencapai US$ 13,49 miliar.

Defisit transaksi berjalan menurun pada triwulan pertama menjadi -2,6 persen dari produk domestik bruto (PDB) dibandingkan dengan -3,6 persen dari PDB pada triwulan IV-2018, terutama didorong oleh peningkatan dalam neraca perdagangan barang. Sementara neraca perdagangan jasa dan neraca pendapatan sedikit memburuk. Penurunan defisit ini juga sejalan dengan pertumbuhan PDB moderat pada triwulan pertama, sebesar 5,1 persen, dibandingkan dengan 5,2 persen pada triwulan IV-2018.

"Namun, kami berpendapat bahwa defisit transaksi berjalan kemungkinan melebar pada triwulan II-2019 dan seterusnya karena pembangunan infrastruktur akan mulai meningkat setelah pemilihan umum, di samping kenaikan harga minyak dan peningkatan perang dagang AS-Tiongkok, yang akan berdampak negatif pada perdagangan Asia," kata dia.

Meskipun lingkungan inflasi rendah, BI kemungkinan menahan diri dan tidak menurunkan suku bunga acuannya pada pertemuan kebijakan minggu ini karena pertumbuhan PDB tetap kuat jika dibandingkan dengan perlambatan lebih dalam di seluruh Asia. Sementara rupiah kemungkinan tetap di bawah tekanan karena ketegangan perdagangan AS-Tiongkok meningkat dan defisit transaksi berjalan melebar.

Menurut survei Reuters, Indonesia diperkirakan akan mencatat defisit perdagangan pertama dalam tiga bulan pada bulan April 2019, dengan ekspor dan impor diperkirakan akan terus turun.



Sumber: BeritaSatu.com