BPS: Neraca Perdagangan April Defisit US$ 2,5 M

BPS: Neraca Perdagangan April Defisit US$ 2,5 M
PT INKA mengekspor sebanyak 15 gerbong kereta ke Bangladesh dari Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, Minggu (20/1) ( Foto: Istimewa )
Herman / Faisal Maliki Baskoro / FMB Rabu, 15 Mei 2019 | 11:45 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Setelah dua bulan mencatat surplus, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia bulan April 2019 mengalami defisit US$ 2,5 miliar, melebar dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar US$ 1,67 miliar.

"Defisit neraca perdagangan sebesar US$2,5 miliar di April 2019 ini berasal dari defisit migas sebesar US$1,49 miliar, dan nonmigasnya defisit di angka US$1,01 miliar. Tentunya kita harapkan ke depan neraca perdagangan kita akan membaik," kata Kepala BPS Suhariyanto, di gedung BPS, Rabu (15/5/2019).

Bila diakumulasikan selama periode Januari-April 2019, neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit sebesar US$2,26 miliar.

Menurut data BPS yang diumumkan hari ini, Rabu (15/5/2019), nilai ekspor Indonesia April 2019 mencapai US$12,60 miliar atau menurun 10,80 persen dibanding ekspor Maret 2019. Demikian juga jika dibanding April 2018 menurun 13,10 persen. Nilai impor Indonesia April 2019 mencapai US$15,10 miliar atau naik 12,25 persen dibanding Maret 2019, tetapi bila dibandingkan April 2018 turun 6,58 persen.

Secara kumulatif, nilai ekspor Indonesia Januari–April 2019 mencapai US$53,20 miliar atau menurun 9,39 persen dibanding periode yang sama tahun 2018, demikian juga ekspor nonmigas mencapai US$48,98 miliar atau menurun 8,54 persen. Ekspor April 2019 Mencapai US$12,60 miliar. Ekspor nonmigas April 2019 mencapai US$11,86 miliar, turun 8,68 persen dibanding Maret 2019. Demikian juga dibanding ekspor nonmigas April 2018, turun 10,98 persen.

Dari data BPS, penurunan terbesar ekspor nonmigas April 2019 terhadap Maret 2019 terjadi pada perhiasan/permata sebesar US$339,2 juta (54,28 persen), sedangkan peningkatan terbesar terjadi pada karet dan barang dari karet sebesar US$72,4 juta (15,10 persen).

Menurut sektor, ekspor nonmigas hasil industri pengolahan Januari–April 2019 turun 7,83 persen dibanding periode yang sama tahun 2018, demikian juga ekspor hasil tambang dan lainnya turun 12,26 persen, sedangkan ekspor hasil pertanian turun 3,29 persen.

Impor nonmigas April 2019 mencapai US$12,86 miliar atau naik 7,82 persen dibanding Maret 2019, namun turun 7,02
persen jika dibanding April 2018. Peningkatan impor nonmigas terbesar April 2019 dibanding Maret 2019 adalah golongan mesin dan peralatan listrik sebesar US$204,2 juta (14,12 persen), sedangkan penurunan terbesar adalah golongan serealia sebesar US$98,7 juta (25,15 persen).

Impor migas April 2019 mencapai US$2,24 miliar atau naik 46,99 persen dibanding Maret 2019, namun turun 3,99 persen
dibandingkan April 2018.

Secara kumulatif, nilai impor Indonesia Januari sampai April 2019 mencapai US$55,77 miliar atau menurun 7,24 persen dibanding periode yang sama tahun 2018. Sedangkan untuk impor nonmigas mencapai US$48,77 miliar atau menurun 4,48 persen.

Ekspor nonmigas April 2019 terbesar adalah ke Tiongkok yaitu US$2,04 miliar, disusul Amerika Serikat US$1,38 miliar dan Jepang US$1,05 miliar, dengan kontribusi ketiganya mencapai 37,65 persen. Sementara ekspor ke Uni Eropa (28 negara) sebesar US$1,16 miliar.

Sementara, tiga negara pemasok barang impor nonmigas terbesar selama Januari–April 2019 ditempati oleh Tiongkok dengan nilai US$14,37 miliar (29,47 persen), Jepang US$5,32 miliar (10,92 persen), dan Thailand US$3,21 miliar (6,59 persen). Impor nonmigas dari ASEAN 18,88 persen, sementara dari Uni Eropa 8,29 persen.



Sumber: BeritaSatu.com