Garap Pasar Milenial, SGB Semarang Targetkan Pertumbuhan 20%

Garap Pasar Milenial, SGB Semarang Targetkan Pertumbuhan 20%
Pimpinan Cabang PT Solid Gold Berjangka (SGB) Semarang, Conny Lumandung, saat berbicara dalam talk show 16 tahun SGB Semarang, Rabu (12/6/2019). ( Foto: Beritasatu Photo / Stefy Thenu )
Stefi Thenu / FER Rabu, 12 Juni 2019 | 20:29 WIB

Semarang, Beritasatu.com - PT Solid Gold Berjangka (SGB) Cabang Semarang semakin serius mengarap perubahan pasar pada segmen kalangan milenial, dengan menargetkan pertumbuhan 20 persen pada akhir tahun ini.

"Kami siap menggarap segmen milenial, dengan masuk ke kampus-kampus, sekaligus untuk mensosialisasi investasi perdagangan berjangka agar dapat dipahami dan diminati para mahasiswa sebagai calon investor muda,” ujar Pimpinan Cabang PT Solid Gold Berjangka Semarang Conny Lumandung, di sela-sela acara talk show 16 tahun SGB Semarang, bersama dengan PT Bursa Berjangka Jakarta (BBJ) dan PT Kliring Berjangka Indonesia (KBI), di Patra Convention Hotel Semarang, Rabu (12/6/2019).

Conny menuturkan, sebagai pelaku investasi di perdagangan berjangka, perusahaannya siap mengikuti paradigma baru bisnis yang mengikuti tren dengan menggarap pangsa pasar milenial. Sejumlah strategi disiapkan diantaranya dengan mengoptimalkan sarana digital untuk menjangkau nasabah, gencar memberikan edukasi terhadap kaum muda dan sosialisasikan investasi perdagangan berjangka komoditi di sejumlah perguruan tinggi.

Menurut Conny, sosialisasi investasi perdagangan berjangka itu dilakukan dengan memberikan pelatihan, training dan pemahaman tentang bursa berjangka komiditi, sekaligus sebagai upaya untuk meningkatkan investasi di sejumlah perguruan tinggi di Kota Semarang, khususnya dan Jateng umumnya.

Dijelaskan, SGB sebagai salah satu perusahaan pialang terbesar dan teraktif dalam industri perdagangan berjangka dan berkomitmen untuk terus mempelopori pertumbuhan transaksi kontrak berjangka di Indonesia melalui penyelenggaran dan pelaksanaan sistem transaksi yang teratur, wajar, efisien dan transparan agar industri perdagangan berjangka semakin diterima oleh masyarakat.

Kantor Cabang SGB Semarang yang didirikan pada 2003, lanjut Conny, merupakan kantor cabang pertama di daerah dari dari total enam cabang daerah lainnya yang dioperasikan. SGB Semarang hingga kini memiliki sebanyak total nasabah aktif lebih dari 225 nasabah, bahkan kinerja manejemen sepanjang 2018 menunjukan pertumbuhan positif.

Sepanjang tahun lalu, SGB Semarang mencatat total transaksi mencapai 93.065 lot, atau mengalami kenaikan 15,52 persen dibanding tahun sebelumnya dengan jumlah 225 nasabah aktif.

"Hingga akhir tahun ini, kami menargetkan pertumbuhan mencapai 20 persen, sedangkan jumlah nasabah bakal naik 5 persen, seiring perusahaan tengah berupaya memperluas jangkauan kepada nasabah potensial yang ada di wilayah pinggiran Kota Semarang," tutur Cony.

Conny optimistis target pertumbuhan sebesar itu bakal tercapai, mengingat sejak Januari hingga April 2019 perusahaan berhasil mencatat transaksi sebanyak 7.000 lot yang didominasi dari transaksi investasi perdagangan berjangka produk SPA dan sisanya berbagai jenis komoditi.

"Kami bersyukur telah melalui perjalanan selama 16 tahun dan tumbuh semakin kuat dengan dikungan serta komitmen para karyawan, nasabah dan seluruhan masyarakat yang senantiasa bersama kami," tutur Conny.

Sementara itu, Dirut PT Bursa Berjangka Jakarta (BBJ), Stephanus Paulus Lumintang, menuturkan, selama ini transaksi di BBJ terbesar masih didomiasi 5 daerah meliputi DKI, Jabar, Jateng, Jatim, Sumatera Utara dan Raiu.

"Jateng merupakan salah satu dari lima daerah yang memberikan kontribusi transaksi terbesar dan memiliki market share hingga mencapai 15 persen," ujar Paulus.

BBJ kini juga gencar melakukan kerja sama dengan sejumlah perusahaan pialang resmi atau legal sebagai anggota BBJ, untuk mensosialisasikan investasi perdagangan berjangka di beberapa daerah, sekaligus untuk mencegah munculnya investasi bodong.

Dirut PT Kliring Berjangka lndonesia (KBI), Fajar Wibhidyadi, menambahkan, masyarakat perlu mendapat edukasi yang baik dan benar tentang investasi, sehingga terhindar dari rayuan investasi abal-abal atau bodong .

"Sudah 141 situs investasi abal-abal yang kita minta diblokir oleh Kemkominfo. Tapi begitu diblokir, seketika muncul lagi dengan nama baru. Ini yang harus diwaspadai masyarakat," tegas Fajar.



Sumber: Suara Pembaruan