Koperasi Bisa Jadikan Generasi Milenial Wiraswasta Sukses

Koperasi Bisa Jadikan Generasi Milenial Wiraswasta Sukses
Wakil Bupati Sikka Romanus Woga (kanan) memberi kuliah umum bertajuk "Koperasi untuk Generasi Milenial" di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Katolik Widya Mandira, Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). ( Foto: Istimewa )
Anselmus Bata / AB Sabtu, 15 Juni 2019 | 19:58 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Koperasi bisa menjadi pilihan strategis untuk merintis usaha di zaman milenial ini. Koperasi, terutama koperasi produksi, memiliki anggota yang bisa dilatih menjadi usahawan yang berkantor di rumah masing-masing dan bergerak dengan modal bersama demi keuntungan semua anggota.

Hal tersebut disampaikan Wakil Bupati Sikka, Romanus Woga saat memberi kuliah umum bertajuk “Koperasi untuk Generasi Milenial” yang diselenggarakan oleh Program Studi Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Katolik Widya Mandira (Unwira) Kupang di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (15/6/2019). 

“Sejak merancang bangunan Negara Republik Indonesia ini, para founding fathers, terutama Mohammad Hatta, telah menetapkan bahwa koperasi itu sendi dasar perekonomian Indonesia. Dalam perkembangannya koperasi kerap disepelekan, tetapi pengalaman saya selama hampir 40 tahun kini membuktikan bahwa koperasi, terutama koperasi kredit atau credit union (CU) sangat sukses mengubah kaum miskin menjadi usahawan hebat,” kata Romanus Woga yang juga menjabat wakil presiden ke-2 Koperasi Kredit Asia (CUCO) yang pernah berkantor di Bangkok, Thailand.

Mahasiswa Unwira mengikuti kuliah umum.

Dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi disebutkan, dengan gaya yang khas dan diksi menarik, Romanus Woga berbagi kisah hidupnya dalam membangun koperasi, kisah orang sukses dalam koperasi kredit, serta kiat sukses dalam berusaha dan memberdayakan kaum papa untuk mandiri melalui CU.

“Sekita tahun 60-an, saya sudah beli tiket kapal laut ke Denpasar untuk kuliah perpajakan. Namun, pater Heinrich Bollen SVD meminta saya jangan kuliah. Sebagai gantinya beliau belikan tiket pesawat terbang untuk saya ke Bogor pergi kursus tentang koperasi kredit. Katanya, dengan kursus saja kau akan pesiar keliling dunia. Beliau betul. Saat ini sebagian besar negara di dunia sudah saya kunjungi. Semua gara-gara koperasi,” kata Romanus disambut tawa dan aplaus hadirin.

Romanus menceriterakan bahwa dirinya pernah dicap gila karena mulai menghidupkan koperasi. “Saya pernah dicap gila karena mewartakan bahwa orang miskin bisa menabung dan bisa punya modal sendiri melalui koperasi,” kata Romanus.

Melalui koperasi, lanjutnya, orang-orang miskin bersama-sama mengumpulkan uang dan dipinjamkan lagi kepada orang yang lebih menbutuhkan. Bunganya kecil sekali, besarnnya ditentukan bersama-sama. Keuntungannya dikembalikan ke setiap anggota melalui sisa hasil usaha (SHU). Lama-kelamaan modal mereka akan berkembang, bertambah, berkembang, dan membesar. Saat ini banyak koperasi kredit bermodal triliunan rupiah, bahkan di Maumere--ibu kota Sikka--, ada koperasi kredit yang akan membeli pesawat terbang. "Itu uang orang miskin," katanya.

Dalam kesempatan itu, Romanus Woga yang berpasangan dengan Bupati Sikka Fransiskus Roberto Diogo dalam pilkada, juga menginformasikan program terbaru Pemerintahan Provinsi NTT, yakni program Masyarakat Ekonomi NTT.

“Pada Senin 10 Juni 2019, Gubernur Viktor Bungtilu Laiskodat bersama Wagub Josef Nae Soi dan para bupati dan wali kota se-NTT, dan saya sendiri sebagai satu-satunya wakil bupati yang hadir, telah mencanangkan Masyarakat Ekonomi NTT dengan koperasi kredit sebagai tiang penyanggah utama. Ini adalah bukti kepercayaan pemerintah kepada koperasi. Namun, gubernur meminta agar koperasi-koperasi itu bermetamorfosis dari koperasi kredit yang mengelola kegiatan simpan-pinjam beralih ke koperasi produksi," katanya.

Oleh karena itu, semua pimpinan koperasi kredit sudah mengumumkan jenis usaha produktif pilihan mereka. Ada yang mengolah kelapa, kakao, madu hutan, garam, sengon, ikan, dan lain-lain.

“Semua itu saya yakin sukses, karena cara kerja koperasi yang selalu memberdayakan anggotanya, bekerja dengan sifat kekeluargaan yang tinggi, dan mengejar kesejahteraan bersama-sama. Saya ajak Anda semua, kaum milenial, untuk berusaha, untuk menjadi wirausaha muda dengan bergabung bersama koperasi,” kata Romanus.

Data menunjukkan jumlah wiraswasta di Indonesia, apalagi di NTT, sangat sedikit. Jumlahnya hanya 0,02 persen dari total penduduk, padahal idealnya minimal 2 persen.

"Saya ajak Anda semua untuk menjadi wirausaha. Bergabunglah dengan koperasi. Simpan dan pinjamlah uang di koperasi, dan berusaha produksilah bersama koperasi. If you can not be a clever person, be a kind person. Jika Anda tak sanggup jadi orang pintar, jadilah orang baik," pintanya.

Sebelumnya, Rektor Unwira, Philipus Tule SVD mengajak para mahasiswa untuk tidak berorientasi menjadi pegawai negeri sipil (PNS). tetapi bersiap diri menjadi wirausaha muda bersama koperasi.

“Ilmu dan pengetahuan yang Anda timba di kampus Unwira ini lebih mempersiapkan Anda semua untuk menjadi wirausaha yang kreatif, inovatif, dan andal. Jangan hanya berorientasi menjadi PNS. Itu baik, tetapi lebih baik jika Anda bertumbuh menjadi wirausaha yang mampu menghidupkan dan memberi pekerjaan kepada sesamamu manusia, melalui usahamu sendiri. Itu bisa diraih bersama koperasi,” katanya.



Sumber: BeritaSatu.com