Gelar Multifinance Day, APPI Dorong Penetrasi Pembiayaan di Jatim

Gelar Multifinance Day, APPI Dorong Penetrasi Pembiayaan di Jatim
Kiri ke kanan: Ketua Umum APPI Suwandi Wiratno, Sekjen APPI Sigit Sembodo, Kepala Departemen Pengawasan Industri Keuangan Non-Bank (IKNB) OJK Bambang W Budiman, dan Kepala Sub Direktorat Jaminan Fidusia Direktorat Jenderal Administrasi Hukum Umum Kementerian Hukum & HAM Iwan Supriadi, saat pembukaan pameran Multifinance Day di Atrium Tunjungan Plaza 3 Surabaya, Rabu (9/10/2019). ( Foto: Beritasatu Photo / Amrozi Amenan )
Amrozi Amenan / FER Rabu, 9 Oktober 2019 | 20:18 WIB

Surabaya, Beritasatu.com - Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) menggelar pameran Multifinance Day di Atrium Tunjungan Plaza 3 Surabaya pada 9-13 Oktober 2019. Kegiatan yang diikuti oleh 25 perusahaan pembiayaan itu bertujuan untuk meningkatkan literasi keuangan yang saat ini masih cukup rendah di masyarakat sekaligus upaya untuk memperkenalkan berbagai produk perusahaan pembiayaan.

Baca Juga: Suwandi Wiratno Kembali Jabat Ketua Umum APPI

Ketua Umum APPI, Suwandi Wiratno, mengatakan, Jawa Timur (Jatim) merupakan pasar potensial dan terbesar kedua setelah Jakarta bagi pasar pembiayaan di tanah air. Sumbangan transaksi pembiayaan di Jatim rata-rata setiap tahun di kisaran Rp 30 triliun hingga Rp 40 triliun, terhadap total transaksi pembiayaan nasional yang berada di kisaran Rp 200 triliun sampai Rp 230 triliun.

"Jadi Jawa Timur terutama Surabaya ini menjadi target kami untuk melakukan pendekatan pasar karena potensinya yang besar itu," kata Suwandi saat pembukaan pameran Multifinance Day di Atrium Tunjungan Plaza 3 Surabaya, Rabu (9/10/2019).

Lebih lanjut, Suwandi menyatakan, melalui pameran ini APPI yang juga didukung oleh 25 perusahaan pembiayaan bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemkumham) mendorong peningkatan literasi keuangan di kalangan masyarakat terkait dengan perusahaan pembiayaan serta produk-produk dan mekanisme bertransaksi dengan perusahaan pembiayaan yang memang perlu dipahami oleh masyarakat secara luas.

Baca Juga: BRI Incar Bisnis Pembiayaan Kendaraan Bermotor

"Seperti hal terkecil tentang penyebutan untuk perusahaan pembiayaan, yang selama ini masyarakat mengenal leasing untuk menyebut perusahaan pembiayaan. Padahal leasing itu hanya kegiatannya. Sebenarnya, istilah leasing biasanya digunakan untuk pembiayaan alat berat. Namun, istilah itu justru populer untuk pembiayaan kendaran bermotor," papar Suwandi.

Mengacu pada OJK, perusaahaan pembiayaan atau multifinance merupakan badan usaha yang melakukan kegiatan pembiayaan untuk pengadaan barang dan atau jasa. Keberadaan perusaahan pembiayaan juga sudah lama, yakni sekitar tahun 1974. Ini seiring dengan terbitnya SKB Menteri Keuangan, Menteri Perindustrian dan Menteri Perdagangan tentang perizinan usaha leasing (sewa guna usaha).

"Meski kami sudah lama, tapi masih banyak yang belum tahu persis perusahaan pembiayaan. Masyarakat perlu mengetahui hal semacam itu disamping hal-hal lain seperti hak dan kewajiban mereka saat melakukan transaksi dengan perusahaan pembiayaan. Harapan kita bisnis ini bisa tetap tumbuh dan memberikan kontribusi pada pembangunan nasional kita melalui pajak dari bisnis ini," terang Suwandi.

Baca Juga: OJK Turunkan DP Motor dan Mobil Jadi Nol Persen

Suwandi menambahkan,  peluang untuk tetap tumbuh bagi bisnis pembiayaan masih terbuka lebar. Meskipun sampai September 2019 lalu pertumbuhannya mencapai 4,18 persen, namun dia optimis sampai akhir tahun ini pertumbuhannya bisa digenjot hingga tembus 4,5 persen hingga 5 persen. "Harapan kita dengan pameran ini bisa menyumbang pertumbuhan tersebut," tandasnya.

Sementara itu, Kepala Departemen Pengawasan Industri Keuangan Non-Bank (IKNB) OJK, Bambang W Budiman, mengatakan, kegiatan pameran APPI ini juga bertujuan untuk meningkatkan literasi keuangan di masyarakat terutama di wilayah kabupaten di Jatim yang sampai saat ini masih cukup rendah berdasarkan evaluasi kantor OJK di Jatim.

Karena itu, lanjut Bambang, kegiatan pameran semacam ini perlu juga dilakukan di kota-kota lain di wilayah kabupaten di Jatim, supaya masyarakat mengetahui berbagai produk perusahaan pembiayaan dan lainnya mengingat Jatim memiliki pertumbuhan bisnis pembiayaan yang cukup tinggi, bahkan pertumbuhannya selalu di atas rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional.

"Potensi bisnis pembiyaan di Jatim harus dibarengi dengan peningkatan literasi keuangan di masyarakat sehingga pertumbuhannya bisa lebih besar lagi. Kalau perlu kegiatan semacam ini juga digelar di kabupaten-kabupaten di Jatim," kata Bambang.



Sumber: Investor Daily