Era Digital, Perbankan Tidak Perlu Buka Cabang Baru

Era Digital, Perbankan Tidak Perlu Buka Cabang Baru
Seminar Ekonomi Digital  Outlook Forum 2020 - Ketua Dewan komisioner Otoritas Jasa Keuangan Wimboh Santoso (lima dari kiri), Anggota DPR Komisi I M. Farhan (lima dari kanan), Direktur Jenderal Aplikasi Informatika Kementerian Komunikasi dan Informatika RI, Samuel A. Pangarep (tiga dari kiri), Direktur Pemberitaan Beritasatu Media Holdings Primus Dorimulu (empat dari kiri) dan Pemimpin Redaksi Majalah Investor Komang Darmawan (kanan) foto bersama panelis (ki-ka) Deputi COO Advance Yenny Aitan, Deputi Komisioner Otoritas Jasa Keuangan Sukarela Batunanggar, CEO KoinsWorks Benedicto Haryono, Pakar Ekonomi Digital, Ibrahim Kholilul Rohman, Senior Consultan McAfee Indonesia Samuel Hansa Winata saat acara Ekonomi Digital Outlook Forum 2020 di Jakarta, Jumat (8/11/2019). Seminar ini kerjasama Beritasatu Media Holdings dengan Tarsus Indonesia. Beritasatu Photo/Uthan AR ( Foto: Beritasatu Photo/Uthan )
Nida Sahara / RSAT Jumat, 8 November 2019 | 11:05 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai industri perbankan saat ini sudah tidak perlu membuka kantor cabang baru untuk ekspansi di tengah era digitalisasi saat ini. Pasalnya, membuka cabang membutuhkan investasi yang cukup besar, sehingga lebih diminta untuk mengembangkan teknologi digital.

"Sekarang perbankan tidak perlu lagi buka cabang, trennya tidak ada lagi bank yang buka cabang. Di daerah terpencil itu cukup dengan agen diberikan mesin EDC, sudah bisa saving dan kasih kredit mikro," kata Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso, di Jakarta, Jumat (8/11/2019).

Menurut Wimboh, tren ke depan bagi industri perbankan adalah mengembangkan cabang digital. Sebab, transaksi perbankan di industri 4.0 sudah serba digital, tidak lagi mengantre di kantor cabang untuk melakukan transaksi.

"Branchless sudah jadi tren perbankan ke depan, dan juga transaksi perbankan sudah bisa pakai internet, smartphone. Sudah tidak ada yang menunggu jam 8 pagi sampai 4 sore di cabang untuk transaksi," tutur Wimboh.

Hal tersebut menjadi peluang yang besar bagi industri perbankan saat ini untuk mengembangkan teknologi digitalnya untuk bisa menyasar lebih jauh di daerah-daerah tanpa perlu membuka cabang. Investasi teknologi digital disebut lebih murah dibandingkan dengan investasi membuka kantor cabang baru yang membutuhkan karyawan di cabang.

"Potensi Indonesia ini besar sekali dan Indonesia itu bisa maju, kita ini punya 17 ribu pulau, kalau didatangi secara fisik tentu sulit. Teknologi menjadi penting di sini, dan jadi peluang besar sekali," terang Wimboh.

Wimboh menegaskan, inovasi anak muda di Indonesia perlu didorong untuk bisa meningkatkan potensi Indonesia. Dengan begitu, Indonesia tidak akan menjadi obyek dan pasar dari negara lain.

Pihaknya juga mengajak generasi muda untuk belajar dan mengembangkan inovasinya di sektor keuangan. Untuk itu, OJK meminta sektor keuangan, seperti perbankan untuk fasilitasi inovasi anak muda.

"Kita sekarang ini jadi pasar dan obyek, ini tidak kita inginkan. Generasi muda harus bangkit dan menawarkan produk kalau bisa sampai ke luar Indonesia. Perbankan juga saya imbau untuk membuat program wirausaha muda, dengan begitu ekosistem harapannya terbentuk," tutur Wimboh



Sumber: Investor Daily