Menko Luhut: Pertumbuhan Ekonomi RI Bisa Lebih dari 5,1%

Menko Luhut: Pertumbuhan Ekonomi RI Bisa Lebih dari 5,1%
Menteri Kordinator bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan (berdiri) saat diperkenalkan Presiden Joko Widodo dalam pengenalan menteri kabinet Indonnesia Maju di depan tangga Istana Merdeka, Jakarta, Rabu 23 Oktober 2019. ( Foto: Suara Pembaruan / Joanito De Saojoao )
Muawwan Daelami / FMB Rabu, 15 Januari 2020 | 14:15 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Senior economist Standard Chartered Aldian Taloputra memperkirakan ekonomi Indonesia tumbuh 5,1 persen di 2020, sedikit lebih tinggi dari 5,0 persen di tahun 2019. Rupiah juga diprediksi akan menguat dari Rp 13.900 di akhir 2019 lalu menjadi Rp 13.800 di pengujung 2020.

"Tahun 2020 menjadi tahun stabilisasi bagi Indonesia. Kami perkirakan pertumbuhan akan meningkat di paruh kedua 2020 seiring dengan meningkatnya investasi dan konsumsi rumah tangga dan hilangnya efek pemilu," ujarnya di peluncuran laporan global focus-economic outlook 2020 dalam acara tahunan global research briefing & investor forum (GRB), di Hotel Mulia Jakarta (15/1/2020).

Menanggapi hal tersebut Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan, GDP indonesia bisa tumbuh lebih besar dari yang diperkirakan Standard Chartered tersebut asalkan Indonesia dikelola dengan baik.

"Banyak masalah di Indonesia yang belum selesai. Setelah dari sini, saya akan undang seluruh pimpinan KPK ke kantor saya. KPK nangkap-nangkap itu bagus, tapi banyak pekerjaan yang lebih hebat dari itu yaitu investasi. Seperti penyelundupan nikel ore. Itu besar sekali nilainya dan semua itu mau kita tertibkan," ucap Luhut.

Sementara itu, para ekonom Standard Chartered memperkirakan 2020 akan menjadi tahun di mana ekonomi global tumbuh terkendali dan stabil. Global chief economist David Mann memperkirakan ekonomi global tumbuh 3,3 persen, sedikit lebih tinggi dari prediksi tahun sebelumnya yakni 3,1 persen.

"PDB Tiongkok tahun 2020 kemungkinan akan stabil pada tingkat minimum dibanding 2010 sebelum akhirnya mengalami pelemahan lebih di tahun 2021," sebutnya.

Tak hanya itu, ia juga melihat ekonomi Amerika Serikat akan mengalami pelambatan lebih lanjut menjadi 1,8 persen di tahun 2020 sementara pertumbuhan kawasan Euro tetap lemah.

Dalam laporannya, Standard Chartered Bank menjelaskan bahwa siklus positif untuk pertumbuhan global harus melawan tiga hambatan struktural jangka panjang: utang demografi, dan deglobalisasi. Beban utang dinilai menjadi masalah di beberapa negara besar.

Selain utang, laporan itu juga menyebut populasi yang menua di beberapa negara seperti Jepang, Italia, Jerman, Thailand, RRT, Hong Kong, Taiwan, Korea Selatan, dan Singapura menyebabkan tantangan tersendiri.

Namun, di antara utang dan populasi yang menua, sentimen anti-globalisasi dan proteksionisme menjadi salah satu hambatan struktural yang signifikan. Buntutnya, negara-negara berkembang seperti Indonesia merupakan negara paling berisiko dari deglobalisasi lebih lanjut, setelah dua dekade sebelumnya menerima manfaat paling banyak dari pertumbuhan ekspor.



Sumber: Investor Daily