Defisit Perdagangan 2019 Menyusut Jadi US$ 3,20 Miliar

Defisit Perdagangan 2019 Menyusut Jadi US$ 3,20 Miliar
Ilustrasi ekspor. (Foto: Antara)
Herman / WBP Rabu, 15 Januari 2020 | 15:49 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Neraca perdagangan Indonesia sepanjang 2019 kembali mengalami defisit sebesar US$ 3,20 miliar, di mana nilai ekspor mencapai US$ 167,5 miliar dan impor U$ 170,7 miliar.

Dari laporan Badan Pusat Statistik (BPS), defisit neraca perdagangan 2019 masih disumbang sektor minyak dan gas (migas) yang mencapai US$ 9,34 miliar. Sementara sektor nonmigas surplus US$ 6,15 miliar.

Kepala BPS, Suhariyanto memaparkan, dibandingkan 2018, defisit neraca perdagangan sepanjang 2019 tercatat mulai mengecil, di mana sebelumnya mencapai U$ 8,7 miliar dengan nilai ekspor US$ 180 miliar dan impor US$ 188,7 miliar. Defisit tersebut disumbang sektor migas US$ 12,69 miliar, sementara nonmigas surplus US$ 3,99 miliar.

“Sepanjang 2019, nilai ekspor Indonesia turun 6,94 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Ekspor sektor pertanian merupakan satu-satunya sektor yang tumbuh sebesar 5,31 persen, meskipun kontribusinya terhadap keseluruhan ekspor masih kecil sebesar 2,16 persen. Sebaliknya, ekspor industri pengolahan serta sektor tambang dan lainnya mengalami penurunan masing-masing sebesar 2,73 persen dan 15,30 persen. Sedangkan ekspor sektor migas turun 27 persen,” kata Suhariyanto, di gedung BPS, Jakarta, Rabu (15/1/2020).

Omnibus Law Berpotensi Tingkatkan Defisit Perdagangan

Selama 2019, lanjut Suhariyanto, pangsa pasar ekspor nonmigas Indonesia juga tidak banyak berubah. Utamanya tertuju ke Tiongkok sebesar US$ 25,85 miliar (16,68 persen), disusul Amerika Serikat US$ 17,68 miliar (11,41 persen), dan Jepang US$ 13,75 miliar (8,87 persen). Untuk ekspor ke ASEAN, kontribusinya sebesar 23 persen, sedangkan ke Uni Eropa 9,24 persen.

BPS Catat Neraca Perdagangan RI Defisit US$28,2 Juta

Sementara nilai impor Indonesia sepanjang 2019 mencapai U$ 170,7 miliar atau turun 9,53 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Nilai impor semua golongan penggunaan barang baik barang konsumsi, bahan baku/penolong, dan barang modal juga mengalami penurunan masing-masing sebesar 4,51 persen, 11,7 persen, dan 5,13 persen. Adapun peran golongan bahan baku/penolong dari total impor 2019 sebesar 73,75 persen.

Tiga negara pemasok barang impor nonmigas terbesar selama Januari−Desember 2019 ditempati oleh Tiongkok dengan nilai US$ 44,58 miliar (29,95 persen), Jepang US$ 15,59 miliar (10,47 persen), dan Thailand US$ 9,41 miliar (6,32 persen). Impor nonmigas dari ASEAN US$ 29.291,9 (19,68 persen), sementara dari Uni Eropa US$ 12.344,5 (8,29 persen).

Ditambahkan Suhariyanto, neraca perdagangan Indonesia dengan beberapa negara sepanjang 2019 sebenarnya masih mengalami surplus, antara lain ke Amerika Serikat yang mencapai US$ 9,58 miliar, India US$ 7,58 miliar, dan Belanda US$ 2,20 miliar. Sedangkan yang mengalami defisit antara lain ke Australia sebesar US$ 2,56 miliar, Thailand US$ 3,95 miliar, serta Tiongkok US$ 18,72 miliar. Namun defisit neraca perdagangan ke Tiongkok ini masih lebih rendah dibandingkan 2018 yang mencapai US$ 20,84 miliar.

Terkait turunnya defisit perdagangan 2019 dibandingkan tahun sebelumnya, Ekonom Center of Reform on Econimics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet mengatakan hal ini bisa disebabkan oleh dua hal, yaitu karena ekspor yang meningkat, atau impor yang menurun. “Jika kita lihat dari rilis neraca perdagangan 2019, penurunan defisit lebih banyak disebabkan oleh penurunan impor yang lebih besar dibandingkan kenaikan ekspor,” kata Yusuf Rendy kepada SP, Rabu (15/1/2020).

Menurut Rendy, penurunan impor ini perlu diwaspadai karena impor Indonesia mayoritasnya diperuntukkan untuk bahan baku/pembantu untuk industri. Hal ini menurutnya juga sejalan dengan indikator lain yaitu Purchasing Managers Index (PMI) Manufaktur Indonesia yang sejak Juli berada di bawah level ekspansi (indeksnya di bawah 50).

“Untuk 2020, tren pengecilan defisit perdagang bisa berlanjut, seriing dengan potensi membaiknya ekspor produk unggulan Indonesia seperti minyak sawit, didorong oleh permintaan dan harga yang membaik. Meski demikian, impor juga akan meningkat seiring dengan potensi masuknya investasi, yang akan mendorong impor bahan modal dan bahan baku. Jadi untuk 2020 penurunan defisitnya sifatnya marginal,” kata Yusuf Rendy Manilet.



Sumber: BeritaSatu.com