49 Persen Penduduk Indonesia Belum Tersentuh Bank

49 Persen Penduduk Indonesia Belum Tersentuh Bank
Ilustrasi layanan perbankan ( Foto: Antara )
Kamis, 19 Juli 2012 | 15:25 WIB
Masyarakat juga ada yang belum dapat mengakses jasa asuransi, karena tidak memiliki uang

Chief Economist Bank Mandiri Group Destry Damayanti mengatakan, 49 persen penduduk Indonesia belum mempunyai akses terhadap lembaga keuangan.

Dalam Seminar Potensi Keuangan Rumah Tangga Indonesia, di Jakarta, Kamis, Destry menjelaskan, dari sisi rekening tabungan, alasan seseorang belum tersentuh perbankan karena tidak memiliki uang yang persentasenya 79 persen, tidak memiliki pekerjaan (sembilan persen), dan karena tidak merasakan manfaat dari menabung sebesar empat persen.

Dari sisi pemberian pinjaman, alasan seseorang belum dapat mengakses lembaga keuangan disebabkan belum layak mendapatkan pinjaman (60 persen), tidak mau meminjam (20 persen), serta sebesar empat persen tidak memiliki jaminan.

"Masyarakat juga ada yang belum dapat mengakses jasa asuransi, karena tidak memiliki uang, tidak mengetahui mengenai asuransi dan merasa tidak membutuhkan asuransi," kata dia. Karena itu, menurut dia, potensi perbankan memperoleh simpanan dan permintaan pembiayaan dari masyarakat masih sangat cukup besar.

Dia mengharapkan seluruh perbankan dapat melakukan edukasi secara terus menerus untuk membuka akses masyarakat terhadap lembaga keuangan.

Destry mengatakan, kondisi serupa dialami negara berkembang lain, di mana akses finansial masih belum banyak dinikmati oleh masyarakat secara keseluruhan. Di kawasan Asia Tenggara dan Asia Timur sebesar 59 persen dari populasi penduduknya belum terjangkau layanan finansial.

Destry juga mengatakan, berdasarkan laporan Lembaga Penjamin Simpanan hingga Desember 2011 total simpanan masyarakat di 120 perbankan nasional sebesar Rp2.787 triliun, dengan komposisi kepemilikan dana sebesar 56,4 persen di rekening perorangan atau sektor rumah tangga.

Dia mengatakan untuk total pinjaman masyarakat di perbankan pada 2011 sebesar Rp2.220 triliun, dengan kredit investasi sebesar Rp464 triliun, kredit modal kerja Rp 1.069 triliun, dan kredit konsumsi Rp667 triliun.