Harga Minyak Naik Tipis Ditopang Harapan Stimulus AS

Harga Minyak Naik Tipis Ditopang Harapan Stimulus AS
Ilustrasi pengeboran sumur minyak. (Foto: Antara)
/ FMB Rabu, 25 Maret 2020 | 07:09 WIB

New York, Beritasatu.com - Harga minyak naik moderat pada akhir perdagangan Selasa (24/3/2020) atau Rabu pagi WIB, berkat harapan paket stimulus ekonomi AS US$ 2 triliun yang hampir disetujui Senat.

India, konsumen minyak terbesar ketiga di dunia, memerintahkan 1,3 miliar penduduknya untuk tetap di rumah selama tiga minggu pada Selasa (24/3/2020). Pembatasan itu mengganggu permintaan bahan bakar bensin dan jet di seluruh dunia.

Pasar minyak telah dilanda guncangan kembar. Perang harga tak terduga antara Arab Saudi dan Rusia yang telah menyebabkan banjir pasokan serta pandemi corona berpotensi mengurangi permintaan bahan bakar sebanyak 10 persen di seluruh dunia.

Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Mei naik 0,12 dolar AS atau 0,4 persen menjadi ditutup pada 27,15 dolar per barel. Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Mei, naik 0,65 dolar AS atau 2,8 persen menjadi menetap pada 24,01 dolar AS per barel.

"Tidak ada yang tahu seberapa besar dunia akan berhenti," kata Edward Moya, analis pasar senior di OANDA di New York, dikutip dari Xinhua.

Di awal sesi, Brent dan WTI diperdagangkan naik lebih dari lima persen. Sementara bensin berjangka AS melonjak lebih dari 30 persen di awal dan ditutup naik sekitar delapan persen.

The Fed pada Senin (23/2/2020) meluncurkan program termasuk dukungan pembelian obligasi korporasi untuk pertama kalinya. Petinggi Demokrat dan Republik mengatakan pada Selasa (24/3/2020) mereka hampir mencapai kesepakatan pada paket stimulus ekonomi virus corona senilai dua triliun dolar AS.

Harga minyak telah berkurang setengahnya pada 2020, terpukul oleh guncangan permintaan yang disebabkan oleh pandemi dan upaya untuk menahannya, serta penghapusan batas pasokan oleh Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan produsen lain, termasuk Rusia, ketika kesepakatan dengan OPEC+ gagal pada awal Maret.



Sumber: ANTARA, Xinhua