WGS, Peluang Asia Tenggara Mengecap Masakan Masterchef Dunia

WGS, Peluang Asia Tenggara Mengecap Masakan Masterchef Dunia
Suasana persiapan fine dining di restoran The Prime Society, dalam ajang WGS di Singapura, Kamis (18/4). ( Foto: Beritasatu.com/ Ezra Sihite / Ezra Sihite )
Ezra Sihite Jumat, 19 April 2013 | 03:29 WIB

Singapura - World Gourmet Summit (WGS) di Singapura dinilai bisa menjadi peluang bagi masyarakat di Asia Tengggara untuk mengecap cita rasa masakan para masterchef dunia, demikian kata  pakar kuliner Singapura, Michael Lim, yang ditemui Beritasatu.com, Kamis (18/4).

Lim mengatakan, dengan ajang itu para pecinta dan pemburu kuliner di Asia Tenggara tidak perlu repot-repot terbang jauh ke Eropa, Australia, atau Afrika untuk bisa merasakan hidangan sentuhan chef ternama.

"Acara ini sangat bagus untuk Singapura dan menarik perhatian publik khususnya di Asia Tenggara. Yang datang ada orang Thailand, Indonesia, Malaysia, macam-macam," kata Liem kepada Beritasatu.com di sela-sela perhelatan WGS di Singapura.

Memasuki hari ketiga pelaksanaan WGS, sejumlah restoran papan atas di Singapura memang menghadirkan masakan ala masterchef yang berkolaborasi dengan para chef lokal. Para pencinta makanan mewah dan anggur (wine) bisa menikmatinya dengan harga yang sepuluh hingga 15 persen lebih murah.

Sejumlah tempat dan restoran yang menjadi tuan rumah para masterchef pada hari ketiga antara lain restoran Sunrice Global Economy dengan bentuk workshop, The Fullerton Hotel dengan gaya charity dinner, Miele Gallery dengan fine dining, Osia ala fine dining, dan Tong Le Private yang juga menyajikan masakan chef pada makan malam ala private dinner.

Pada hari keempat, para chef akan melakukan demo masak bersama para chef Singapura, menyajikan makanan tradisional yang dikemas menjadi modern. Mereka akan menunjukkan teknik memasak secara langsung dan ide-ide kreatif. Dalam dua hari 14 masterchef akan meramu masakan tradisional yang disajikan dengan kekinian.

Akan tetapi, menurut Lim, WGS juga punya kelemahan. Ajang yang bertema "Artisan & The Art of Dining" itu, menurut dia, tidak dipersiapkan dengan sempurna. Itu terlihat dari banyaknya antrian di malam pembukaan yang bertempat di S.E.A Aquarium, Resort World Sentosa.

"Malam (pembukaan) cukup bagus namun terlalu banyak orang dan cukup panas," kata Lim.