Mencicipi Minuman Anggur Napal Valley di Singapura

Mencicipi Minuman Anggur Napal Valley di Singapura
Acara wine tasting di ajang World Gourmet Summit di Singapura. ( Foto: Ezra Sihite/Beritasatu.com )
Ezra Sihite Jumat, 19 April 2013 | 07:03 WIB

Singapura - Pelayan mengisi gelas-gelas bertangkai yang memenuhi meja panjang. Tangkup-tangkupnya yang setengah silinder terbuka, secara perlahan diisi para pelayan.

Malam tersebut akan diadakan acara mencicip minuman anggur (wine tasting). Di atas meja untuk masing-masing pencicip, wine diatur sembilan gelas bertangkai melingkar. Di dalamnya, wine cabernet sauvignon dari kebun dan tahun berbeda hasil olahan Beringer disajikan.

Sementara itu, Duta Wine Beringer, Jerry Comfort, memandu para pencicip mencoba rasa wine yang disajikan di hadapan mereka. Comfort memberikan latar belakang produksi Beringer yang menurutnya merupakan salah satu yang terbaik di dunia. Disebutkannya, wine produksi Beringer ditanam di Napal Valley, salah satu daerah di Amerika yang terkenal sebagai penghasil anggur dan pabrik wine.

"Kami memiliki empat perkebunan anggur di kota Napa," kata Comfort, dalam acara di The Prime Society, Singapura, Selasa (16/4) malam lalu.

Sembilan wine yang dicicip ahli kuliner dan wine, pengusaha dan pecinta wine malam itu, semuanya berwarna merah pekat cenderung hitam. Wine itu dibuat mulai tahun 1987 hingga 2009. Tiga macam cabernet sauvignon dari Chabot Vineyard tahun 1987, 1990 dan 2009, sementara enam cabernet sauvignon lainnya dari Private Reserve tahun 1987, 1989, 1990, 1996, 2006 dan 2009.

Anggur yang diproduksi dengan tahun berbeda memang memiliki karakter rasa yang tak sama pula. Sejak ditanam, kondisi anggur dipengaruhi kondisi tanah dan curah hujan, hingga ke pengolahan anggur tersebut.

"Tidak ada salah dan benar dalam menilai anggur, masing-masing selera mengapresiasi sendiri," kata Comfort lagi.

Ahli wine serta penulis kuliner Singapura, Michael Lim mengatakan, cabernet sauvignon merupakan jenis anggur yang meskipun terasa halus di lidah, namun memberikan pengaruh yang cepat. Penikmat wine bisa mencermati berbagai paduan rasa dan aroma yang menjadi sensasi cabernet sauvignon, mulai dari lada hitam, blackberry, kari, kurma, mint, hingga tembakau.

"Dari permulaan acara World Gourmet Summit (WGS), saya sudah menjadi juri wine. Dan event ini menyajikan yang terbaik. Wine punya resep rahasia tersendiri," kata Lim.

Dalam wine tasting yang diadakan sebagai bagian dari ajang WGS tersebut, para pencicip wine cukup antusias mengangkat tangan saat ditanyakan anggur Beringer favorit mereka. Wine keluaran 1987 dan 2006 paling banyak mengundang acungan tangan.

Salah satu partisipan pencicip anggur, Inggrid Prasatya yang juga pemilik The Prime Society, mengaku menyukai wine yang lebih tua. Dia menyukai wine Beringer keluaran tahun 1986 dan 1987.

"Rasanya lebih seimbang ya. Namun secara general, anggurnya bagus-bagus," kata Inggrid yang merupakan direktur Grup The Society tersebut.

Usai wine tasting, sekitar 50 hadirin berkesempatan menikmati fine dining dengan tema Epicurean Delights, dari Master Chef Matt Moran asal Australia. Malam itu, Moran menyajikan hidangan yang masing-masing didampingi wine berbeda.

Lima menu racikannya bersama chef Dallas Cuddy adalah Yellow Fin Tuna Sashimi with Cucumber, Wakame and Avocado Puree. Kemudian Alaskan Crab Scotch Egg dengan Celeriac dan Salad Lemon, lalu Steamed Sea Bass with Puffed Quinoa, Pine Nuts and Jamon, dilanjutkan dengan Roasted Fillet and Slow Cooked Shoulder of Lamb with Black Olive and Fennel, serta makanan penutup Summer Berry Triffle with Strawberry Jelly and Buttermilk Sorbet.