Gunakan Peta, Penggemar Perlu Lebih Peka dengan Cita Rasa dan Aroma Kopi

Gunakan Peta, Penggemar Perlu Lebih Peka dengan Cita Rasa dan Aroma Kopi
Peta cita rasa dan aroma kopi yang disusun bersama oleh Rumah Kopi Ranin di Bogor bersama dengan para pelanggannya.
Heri Soba / HS Sabtu, 29 Juli 2017 | 11:58 WIB

Bogor – Kopi dari setiap daerah (single origin) di Indonesia memiliki cita rasa dan aroma yang khas. Selain dipengaruhi sifat genetik varietas, cita rasa kopi lebih banyak ditentukan kondisi vulkanik dan iklim spesifik dari lokasi kebun kopi ditanam.

Sayangnya, sebagian besar penggemar kopi belum peka untuk membedakan dan mendeskripsikan cita rasa dan aroma kopi. Untuk menjawab kondisi itu, Rumah Kopi Ranin telah menyusun Peta Cita Rasa dan Aroma Kopi Indonesia.

“Indonesia sangat kaya cita rasa dan aroma kopi. Kami membantu para penggemar kopi untuk lebih mengenal dan menikmati berbagai kopi Indonesia,” kata Tejo Pramono, co-founder dari Rumah Kopi Ranin di Bogor, Sabtu (29/7) pagi.

Bagaimana caranya? Tejo menjelaskan, para penggemar tinggal mencicipi kopinya, lalu mencocokan dengan poster yang berisi informasi cita rasa dari berbagai kopi mulai dari Aceh hingga Papua. Ini sangat memudahkan penggemar mendapatkan penjelasan cita rasa dan aroma kopi yang ditunjukkan oleh peta tersebut.

“Bayangkan saja, hanya di Sumatera Utara, tiap kabupaten memiliki cita rasa kopi yang berbeda. Padahal di seluruh Pulau Sumatera ada beberapa provinsi. Betapa beragamnya cita rasa kopi dari seluruh Indonesia,” ujar Tejo yang juga menjadi roaster kopi.

Salah satunya, kata Tejo, dalam peta disebutkan kopi arabika Mandailing, Sumatera Utara, memiliki cita rasa coklat, gula kelapa, kayu manis, delima dan tembakau. Sedangkan Arabika Lintong, juga dari Sumatera Utara bercirikan rasa sereh, daun sirih, markisa dan terong Belanda selain juga memiliki cita rasa kayu manis dan coklat.

Uji Saptono, cupper yang menyandang R-Grader, menjelaskan deskripsi cita rasa dan aroma kopi didapat dengan melakukan uji cita rasa dan aroma atau cupping. Dia juga rutin memimpin proses cupping di Rumah Kopi Ranin di Bogor setiap Sabtu dengan para pelanggan.
“Hasil cupping selama 3 tahun dari berbagai penggemar kopi lalu disusun peta sesuai dengan daerah asal kopi tersebut,” ujarnya seperti ditulis Agrifood.

Bagi kedua sekawan jebolan Institut Pertanian Bogor (IPB) ini, upaya membuat peta cita rasa dan aroma tersebut merupakan salah satu langkah dalam mengangkat potensi kopi lokal. Pemahaman pada cita rasa juga menjadi pintu masuk dalam menghargai semua pihak dalam rantai pasok kopi dan sekaligus memberikan insentif yang berkeadilan.

"Ketika penggemar menikmati cita rasa dan aroma kopi, setidaknya ada penghargaan kepada semua pihak yang telah memproduksi dan menyiapkan hidangan kopi tersebut," ujar Tejo yang aktif dalam pendampingan petani.

Baca : Menikmati Jaz Bersama Bonita di Rumah Kopi Ranin



Sumber: Suara Pembaruan