Mohammad Adhika Prakoso: Meracik Sebuah Kehangatan di Kopi Tuli

Mohammad Adhika Prakoso: Meracik Sebuah Kehangatan di Kopi Tuli
Mohammad Adhika Prakoso, salah satu pendiri Kopi Tuli ( Foto: Suara Pembaruan / Dina Fitri Anisa )
Dina Fitri Anisa / FMB Rabu, 9 Januari 2019 | 20:44 WIB

Jakarta - Menikmati secangkir kopi, kini sudah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat urban dalam satu dekade terakhir. Alhasil coffee shop atau kafe kini semakin menjamur dan selalu menjadi tempat favorit untuk bersantai, berkumpul, bercanda gurau, dan meracik sebuah kehangatan di setiap cangkirnya.

Fenomena ini rupanya menjadi ide seorang pemuda bernama, Mohammad Adhika Prakoso (28) untuk menjadi pengusaha kopi. Setelah lulus dari Desain Komunikasi Visual (DKV) Universitas Bina Nusantara (Binus) pada 2016, dirinya pernah merasakan pahitnya diolak lebih dari 200 perusahaan, karena keterbatasan pendengaran atau tuli yang dialami dirinya sejak usia dua tahun.

Adhika rupanya tidak sendiri, sahabat karib sejak kecil yang bernama lengkap Putri Sampaghita Trisnawinny Santoso, juga mengalami hal yang sama. Bahkan, sejak lulus kuliah dengan jurusan yang sama dengan Adhi, Putri tidak pernah mendapatkan panggilan dan ditolak secara halus dari 500 lamaran pekerjaan yang ia kirimkan ke perusahaan yang sedang memerlukan jasa seorang desain grafis.

Sudah terlalu lama berusaha dan panggilan tak kunjung datang, sebuah pemikiran pun mulai terbuka di benak mereka. Bagaimana jika diri mereka sendirilah yang membuka peluang pekerjaan bagi diri dan orang lain dengan kondisi tuli seperti mereka.

Dengan modal sekitar Rp 200 juta, dan menggandeng kembali satu orang sahabat Adhika bernama Tri Erwin Syah, untuk bergabung membuat sebuah usaha yaitu, Kopi Tuli (Koptul). Nama Koptul sendiri memiliki makna, bahwa usaha ini didirikan oleh tiga sahabat tuli.

“Di sini kami ingin memberdayakan teman-teman tuli melalui kopi. Kita ingin membuktikan, teman-teman tuli juga bisa produktif dan bisa bersaing di industri kopi,” ungkapnya kepada SP, usai seminar mahasiswa/i Mercu Buana bertajuk Generation XYZ, di kantor PayFazz, Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu.

Tidak mudah membuat sebuah kedai kopi berdiri dan didatangi para pelanggan. Mereka bertiga pun harus melewati berbagai riset, dan pelatihan meracik kopi yang rasanya khas dan konsisten mulai dari ke BSD sampai Bandung.

Lebih dari itu, satu hal yang mereka pikirkan adalah bagaimana mereka membuat kedai kopi mereka bangun juga menjadi wadah spesial bagi para teman tuli untuk bekerja bersama di dalamnya. Kini sudah ada lima karyawan yang bekerja sebagai barista (peracik kopi), hingga kasir.

“Awalnya, pertama kali Koptul buka, ada lowongan di Instagram dan mulut ke mulut. Kita harus riset dulu apakah dari teman tuli yang melamar sudah memiliki pengalaman menjadi barista, dan ternyata belum. Kami pun mengajarkan mereka menjadi barista selama sebulan dari nol. Namun, karena teman tuli memiliki kelebihan cepat menangkap pelajaran praktik banding teori, mereka dengan cepat bisa lancar menjadi barista,” jelas Adhika.

Sejak pertama kali di buka pada 12 Mei 2018, akhirnya sebuah tempat di bilangan Depok terbangunlah sebuah kedai kopi baru. Tidak hanya ingin mengikuti tren kopi yang kini sedang menjamur, Koptul memiliki keunikan dan kekhasan tersendiri.

Pertama mulai dari menu. Adhika menjelaskan, setiap menu dalam Koptul memiliki nama unik dan kisah di dalamnya, sedangkan bahan dasar kopinya berasal dari Papua dan juga Ciwidey. Semisal, menu KOSU KOSO. Kopi susu yang diracik sendiri oleh Adhika, dan KOSO diambil dari nama akhirnya, yaitu Prakoso. Sajian kopi ini mencerminkan sebuah karakter yang strong, tegas, tapi tetep luwes. Kebanyakan yang menikmati menu ini adalah para pencinta kopi yang rasanya kuat.

Sedangkan, sajian untuk para penikmat kopi pemula bisa mencicipi racikan langsung dari Erwin yang membuat KOSU WINGS. Kopi susu ini rasanya lebih lembut daripada racikan Adhika. Sedangkan Putri memiliki KOSU SIPUT (Si Putri), yaitu kopi susu dengan campuran buah alpukat. Dengan rasanya yang unik ini, Putri ingin menceritakan sebuah karakter yang bervariasi, meriah, dan ceria.

Selain itu, Koptul juga masih memiliki menu dengan nama yang unik. Semisal, Daun Susu, Kopi Awan, Tanah Susu, Marmer Hitam, dan masih banyak lainnya. Adhika menjelasnya, pemilihan nama untuk variasi menu minuman tersebut adalah sebagai jembatan komunikasi antara pembeli dan barista tuli di Koptul.

“Berbeda dari coffe shop lain, rasa dan nama minuman asli tidak akan terpampang. Hal ini akan mendorong keingintahuan pembeli untuk bertanya kepada kami, dan di sanalah interaksi antara teman tuli dan pelanggan tuli ataupun dengar, bisa saling berinteraksi dan berbagi informasi,” terangnya.

Belajar Basindo
Lantas bagaimana interaksi antara teman tuli dan teman dengar yang menjadi pelanggan di sana? Apakah akan terjadi miskomunikasi? Adhika pun menjawab, tentu miskomunikasi ada, tapi di Koptul, teman tuli akan senantiasa membuka hati untuk mengajarkan Bahasa Isyarat Indonesia (Basindo) kepada teman dengar.

Hal itu sudah menjadi kebiasan hingga kini, agar komunikasi mereka berjalan dengan baik dan kehangatan pun tercipta. Untuk itu, Adhika pun membuat desain gelas plastik Koptul dengan gambar tangan yang menyimbolkan A-Z menggunakan Basindo.

“Hal tersebut yang pertama kami pikirkan. Pelanggan itu perlu dilayani. Tidak jarang juga pelanggan yang ragu saat datang ke Koptul. Akhirnya kami berkomitmen untuk mengajarkan teman dengar bahasa isyarat serta kertas dan alat tulis, jadi kita bisa bertukar informasi. Untuk itu, kedai Koptul tidak menyediakan Wi-Fi,” terangnya.

Seiring berjalannya waktu, Koptul yang hanya memiliki satu cabang pun akhirnya berkembang. Salah seorang sahabat Erwin menawarkan tempat di kawasan Duren Tiga untuk Koptul. Tanpa lama berpikir, mereka bertiga pun bersemangat untuk mewujudkan kedai baru.

Dengan konsep dan cita rasa yang sama, tapi cabang Koptul di Duren Tiga juga punya keunikan tersendiri, dibanding Depok. Karena memiliki bangunan yang cukup luas, maka tempat tersebut juga bisa dijadikan sebagai galeri dan rumah belajar.

Lantai satu ruko digunakan untuk Koptul, sementara lantai dua dan tiga dijadikan tempat pertemuan, diskusi, dan belajar. ”Nanti ada rumah belajar bahasa isyarat. Saat ini sedang dikonsep bersama Pusbisindo (Pusat Bahasa Isyarat Indonesia),” kata pria kelahiran 21 September 1990 ini.

Untuk urusan bahasa isyarat, Erwin saat ini memiliki sertifikat untuk mengajar. Beberapa waktu terakhir dia juga bekerja sebagai pengajar kelas bahasa isyarat di almamaternya, Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Sehingga, tahun ini Koptul juga memiliki program rutin belajar bahasa isyarat dan juga workshop membuat kopi bagi teman tuli dan dengar.

“Kopi adalah sarana untuk menyatukan semua, tanpa batasan,” tukas Adhika. 



Sumber: Suara Pembaruan
CLOSE