Bisnis Kemitraan Waralaba Co Choc Meningkat Pesat

Bisnis Kemitraan Waralaba Co Choc Meningkat Pesat
Petinggi grup Mitra Boga Ventura (MBV) pemilik brand Co Choc, Michael Marvy Jonathan (berdiri), sedang menjelaskan tentang minuman segar Co Choc di sela-sela pameran International Franchise, License, and Business Concept Expo and Conference (IFRA) di Jakarta Convention Center, Senayan. Pameran itu berlangsung 5-7 Juli 2019. ( Foto: istimewa / istimewa )
Yuliantino Situmorang / YS Senin, 8 Juli 2019 | 09:22 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Kemitraan bisnis waralaba gerai minuman segar Co Choc meningkat pesat. Belum genap dua tahun, Co Choc sudah memiliki 52 outlet di sejumlah kota di Indonesia. Peningkatan pesat itu terjadi karena pola bisnis franchise yang diterapkan sederhana, terjangkau, dan profit yang menarik.

“Kenapa bisnis kami begitu cepat berkembang? Karena kami memiliki produk unik, harga kompetitif, dan kemitraan yang sederhana dengan investasi ringan,” ujar Michael Marvy Jonathan, salah satu petinggi grup Mitra Boga Ventura (MBV), pemilik brand Co Choc dalam keterangannya, Senin (8/7/2019).

Co CHoc baru saja mengikuti pameran International Franchise, License, and Business Concept Expo and Conference (IFRA) di Jakarta Convention Center, Senayan, Jakarta, yang digelar 5-7 Juli 2019.

Dalam pameran waralaba yang digelar 5-7 Juli itu, selain Co Cho, MBV juga menghadirkan Bakso Kemon.

Marvy menjelaskan, Co Choc berasal dari Bandung dan didirikan pada 28 maret 2018. Saat ini cochoc sudah memiliki 22 outlet yang beroperasi di Bandung, Cimahi, Jakarta, Bekasi, Tangerang, Medan, Padang, Makassar, Surabaya, dan Yogyakarta. Dalam tiga bulan ke depan, ada 30 outlet Co Choc terbaru yang akan dibuka di Bandung (7 outlet), Jabodetabek (12 outlet), Medan (4 outlet), Yogyakarta (1 outlet), Surabaya (3 outlet), dan Padang sebanyak tiga 3 outlet.

Ia menjelaskan, produk unggulan Co Choc adalah variasi minuman cokelat dengan bahan dasar ganache (teknik memasak cokelat dari Prancis).

“Co Choc adalah brand asli Indonesia yang merupakan pelopor minuman chocolate ganache,” kata Marvy.

Menurut Marvy, ada perbedaan yang kental antara minuman cokelat di pasaran dengan minuman Co Choc. Minuman cokelat di pasaran dibuat secara sederhana, yakni bubuk cokelat dicampur cairan. Sedangkan di Co Choc, minuman cokelat disajikan dengan teknik ganache yakni cokelat diolah menjadi pasta. Pasta cokelat ini dicampur susu dan dihidangkan dalam kondisi dingin atau panas.

Marvy menambahkan, bahan baku cokelat itu berasal dari Jawa, Sumatera, dan Sulawesi. Sehingga, Co Choc menghadirkan kekayaan cita rasa cokelat Indonesia. “Kami bekerja sama dengan petani cokelat dari berbagai daerah di Indonesia untuk mendapatkan biji kakao terbaik untuk menciptakan racikan minuman cokelat yang menggugah selera,” tutur Marvy.

Ditambahkan, keunggulannya, produk minuman yang unik itu dijual dengan harga kompetitif yakni harga termurah Rp 15.000 hingga termahal Rp 19.000.

Gerai Co Choc menghadirkan 10 varian yakni signature dark chocolate, classic chocolate, choco strawberry, choco army, matcha, red velvet, west java, sumatera, thai tea, dan thai tea chocolate. Saat ini, varian paling digandrungi pembeli yakni signature dark chocolate yang dijual dengan harga Rp 15.000 per gelas.

Dana Kemitraan
Marvy melanjutkan, animo mitra untuk bekerja sama dengan BMV untuk membuka waralaba gerai Co Choc sangat tinggi karena kemitraan yang sederhana dan terjangkau. Ia mencontohkan, cukup dengan investasi awal Rp 95 juta, mitra bisa langsung membuka usaha dengan estimasi net profit Rp 13,5 juta per bulan.

Ia memperinci, dengan proyeksi penjualan rata-rata 100 gelar per hari dengan harga Rp 18.000 per gelas berarti pendapatan sebesar Rp 1,8 juta per hari atau sekitar Rp 54 juta per bulan. Estimasi net profit sebesar 25% (setelah pemotongan biaya royalti 5%), mitra memperoleh Rp 13,5 juta.

Marvy melanjutkan, investasi awal, para mitra cukup membayar fee kemitraan sebesar Rp 50 juta untuk tiga tahun, lalu pembelian peralatan dan bahan baku awal Rp 15 juta, dan pembuatan booth sebesar Rp 30 juta, sehingga total Rp 95 juta.

“Selama pameran IFRA ini, kami memberikan diskon 30 persen, jadi hanya Rp 80 juta,” kata dia.

Berdasarkan pengalaman 22 outlet yang sudah buka, break even point (BEP) tiap outlet sekitar 5-7 bulan. Namun, ada beberapa outlet yang sudah BEP di bulan pertama.

“Setelah BEP, keuntungan sesudah dipotong biaya karyawan dan sewa, mitra bisa meraih 35 persen,” tambah dia.

Sementara itu, Sekjen Kementerian Perdagangan Karyanto Suprih saat membuka IFRA 2019 menyatakan, tahun ini perekonomian Indonesia akan melanjutkan momentum pertumbuhan. Diyakini, pertumbuhan ekonomi tahun ini diperkirakan mencapai 5,3%. Tentunya itu membuka peluang bagi pengembangan usaha, termasuk di bidang waralaba.

Menurut Karyanto, pangsa pasar waralaba di Indonesia cukup besar dan terus bertumbuh. Hal itu didukung tingginya permintaan terutama dari golongan masyarakat menengah.

“Mereka membutuhkan ruang sosialisasi dan bergaul yang mendorong menjamurnya waralaba di bidang makanan dan minuman,” ujar Karyanto.

Hal senada dikatakan Ketua Kehormatan Asosiasi Franchise Indonesia (AFI) Anang Sukandar. Menurut dia, waralaba merupakan pilihan tepat bagi mereka yang ingin bekerja mandiri. Para pebisnis waralaba harus memiliki target untuk menjadikan bisnis mereka sebagai bisnis unggulan.

“Skema waralaba yang fleksibel dari sisi permodalan diharapkan mampu meningkatkan jumlah pebisnis waralaba di tahun ini. Apalagi saat ini Kementerian Perdagangan telah memberikan fasilitas berupa sistem perizinan yang semakin mudah, cepat, dan kondusif,” tambah dia.



Sumber: Suara Pembaruan