Tampilan Jajanan Pasar Ikuti Cita Rasa Milenial

Tampilan Jajanan Pasar Ikuti Cita Rasa Milenial
Ilustrasi Jajanan Pasar. ( Foto: Beritasatu Photo / Istimewa )
Indah Handayani / FER Senin, 5 Agustus 2019 | 16:02 WIB

Bekasi, Beritasatu.com - Jajanan pasar merupakan salah satu kekayaan kuliner Indonesia. sayangnya, banyak generasi milenial yang enggan dan malu menyebut kesukaan mereka terhadap jajanan pasar. Terutama di media sosial mereka. Alhasil, jajanan pasar kerap dianggap bukan makanan yang dicintai oleh para milenial.

Pakar kuliner, Sisca Soewitomo mengatakan, jajanan pasar memang secara verbal maupun di media sosial tidak diucapkan oleh milenial sebagai makanan yang lezat dan mereka sukai. Padahal, sejak kecil mereka sudah mengenal baik jajanan pasar tersebut, bahkan mereka pun sangat menyukai manan tersebut. Misalnya saja kue lupis dan klepon yang memang setiap hari mereka konsumsi.

"Mereka paham betul dengan jajanan pasar, sayangnya mereka jarang mengungkapkan atau menyebutkannya ke banyak orang maupun di media sosial," ungkapnya di Bekasi, Minggu (4/8/2019).

Namun, lanjut Sisca, seiring dengan perkembangan jaman dan menyesuaikan dengan milenial jajanan pasar pun mulai mengikuti keinginan mereka. Dengan mulai banyaknya jajanan pasar dengan penampilan yang cantik namun dengan tetap rasa orisinal. Hal itu mengingat milenial saat ini sangat menyukai makanan yang memang bisa di foto dan menarik untuk mereka pamerkan. "Bahkan sekarang kalau kita lihat, kue kelepon dengan taburan kelapa yang indah saja sudah sangat menarik," jelasnya.

General Manager Grand Metropolitan, Augusman Turnip mengatakan, pihaknya menggelar kegiatan adu bakat menghias jajanan pasar. Lomba menghias jajanan pasar merupakan pembuka rangkaian acara Gempita Nusantara yang dihelat pada 4-18 Agustus 2019.

"Kegiatan ini sekaligus mengapresiasi cita rasa unik jajanan pasar serta menjadi wadah kreativitas bagi industri jasa boga," paparnya.

Selain itu, lanjut dia, Gempita Nusantara yang kedua ini juga menggelar lomba menari kreasi daerah yang didukung oleh Belantara Budaya Indonesia (BBI), sebuah yayasan yang melestarikan tari tradisional dengan membangun sekolah tari tradisional gratis yang bertempat di berbagai lokasi, khususnya di museum-museum bersejarah di Indonesia dan dinilai oleh juri-juri yang kompeten di dunia tari seperti Karina Syahna, Puteri Indonesia Kalimantan Barat 2019 yang aktif menjadi pelatih tari anak berkebutuhan khusus.

"Momentum kemerdekaan merupakan hal bersejarah yang selalu dinantikan oleh masyarakat Indonesia. Tentunya semangat kemerdekaan ini tidak luput dari perhatian kami. Menghadirkan ragam pentas budaya sebagai entitas kesatuan bangsa, kami berharap bahwa semangat nasionalisme dapat dirasakan oleh para pengunjung," tutupnya.



Sumber: Investor Daily