Menikmati Racikan Teh Ala Bangsawan

Menikmati Racikan Teh Ala Bangsawan
Ilustrasi teh yang banyak disukai masyarakat ( Foto: istimewa )
Dina Fitri Anisa / EAS Kamis, 8 Agustus 2019 | 14:04 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Sebelum tren minum kopi, sebenarnya minuman teh sejak lama digemari kaum urban di Indonesia. Namun, menikmati secangkir teh di kedai khusus rasanya masih jarang terdengar. Biasanya hanya orang-orang penikmat teh saja yang bersedia menghabiskan waktu berjam-jam menyeduh kopi sambil berbincang dengan rekan. 

Kini, beberapa restoran sudah menyediakan aneka varian teh dengan berbagai style penyajian yang menarik. Selain rasa, minat konsumen terhadap teh juga didukung oleh keyakinan bahwa minuman itu dapat meningkatkan metabolisme dan mencegah penyakit kardiovaskular.

Pemilik kedai Chaiholics Jerry Singh mengatakan, saat ini masyarakat urban mulai menggemari produk Chai. Chai adalah minuman khas dari negeri India yang terbuat dari campuran daun teh dan rempah.

Racikan Chai didedikasikan khusus untuk kesehatan atau sekadar untuk menenangkan pikiran. Elemen-elemen rempah seperti jahe, safron, daun mint, kayu manis, basil, cokelat, lada hitam, cardamon, dan sereh akan terasa dalam racikan Chai.

Chai dibuat dengan metode CTC yakni kepanjangan dari cut, tear, and curl. Teh yang diproses dengan metode ini memiliki tingkat kafeina lebih tinggi dibandingkan kopi. Teh ini dapat dijadikan sebagai alternatif kopi yang lebih sehat karena kaya antioksidan. Dari segi rasa, racikan Chai memiliki rasa yang lebih kuat dan cocok dicampurkan dengan madu, gula, atau susu.

"Dulu CTC dibuat untuk menjadi alternatif menikmati teh ala bangsawan yang harganya sangat mahal, dan hanya bisa diminum oleh para bangsawan. Namun, kini CTC kembali menjadi tren karena memiliki manfaat dan khasiat yang baik untuk kesehatan tubuh," jelas Jerry kepada media saat peluncuran kedai Chaiholics di JW Marriott, Jakarta Selatan, Rabu (7/8/2019).

Namun tidak hanya CTC, masyarakat urban saat ini juga penasaran dengan teh harga premium. Teh tersebut adalah kelompok teh orthodox yang dibuat murni dari daun teh pilihan berkualitas tinggi.

Jerry menyebut, biasanya teh orthodox itu diimpor langsung dari teh yang ditanam di perkebunan bebas pestisida di Himalaya. Beberapa jenis teh ortodoks yang saat ini marak dijual di pasaran seperti Queen’s tea, Oolong tea, Bulgarian Rose tea, Green tea, Darjeeling, dan White Peony..

Salah satu teh yang paling digemari adalah Bulgarian Rose tea dengan aroma mawar yang lembut. Bahkan, Dalai Lama pun menikmati teh tersebut. Selain itu, White Peony juga memiliki cita rasa yang unik dan aroma mewah, sehingga populer di kalangan bangsawan.

Teh Peony terbuat dari teh putih pilihan dengan kualitas yang unggul. Teh ini dipetik dari masing-masing satu pucuk daun teh dan dua tunas muda teh yang belum terbuka. Daun teh ini baru saja dipanen dan teroksidasi secara alami di bawah sinar matahari pagi.

"Untuk menggaungkan tren teh di Indonesia, kami sengaja hadir dengan kedai ini. Kami menyajikan kualitas teh premium yang diracik secara unik, tetapi harga yang ditawarkan tetap bersahabat," tukasnya.



Sumber: BeritaSatu.com