Intip Rahasia Dapur Kelezatan GrabFood

Intip Rahasia Dapur Kelezatan GrabFood
GrabFood (Sumber: IST)
Elvira Anna Siahaan / EAS Senin, 4 November 2019 | 08:21 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Minggu (3/11/2019) siang, Ni Luh Larasati, seorang konsultan agensi digital yang berkantor di bilangan Pondok Pinang, Jakarta Selatan, bersiap menyantap makan siangnya setelah menerima kiriman dari kurir makanan Grabfood (aplikasi online). Tak lupa ia memberi bintang lima pada aplikasi atas layanan si kurir. Dia mengaku hampir tiap hari memesan makan siangnya lewat pengiriman daring.

"Mudah dan murah. Saya tidak perlu berpanas-panas di bawah sinar matahari atau bermacet-macet ria untuk sekadar makan siang,” katanya.

Ni Luh juga mengaku hampir tiap hari menggunakan transportasi online untuk berangkat dan pulang ke rumahnya di daerah Depok, Jawa Barat. Ni Luh tidak tahu bahwa kebiasaan barunya itu merupakan bagian dari pangsa pasar pengiriman makanan yang mengisi 1,3% total pasar makanan di Asia Tenggara. Baginya, yang penting makanan tersedia cepat dan tanpa perlu repot mengantre.

Masyarakat lainnya, juga banyak yang meniru kebiasaan Ni Luh. Mereka tidak asing lagi dengan pemandangan serombongan kurir kiriman makanan dengan jaket hijau yang khas menunggu pesanan mereka disiapkan, mulai dari warung pinggir jalan hingga kafe di mal yang mentereng.

"Laporan riset Google terbaru menyebut bahwa nilai sektor pengiriman makanan di Asia Tenggara meningkat lebih dari dua kali lipat dari tahun ke tahun, dan diproyeksikan akan melewati USD 20 miliar pada tahun 2025,” kata Kameswara Natakusumah, pengamat teknologi dan bisnis digital di Jakarta, Senin (4/11/2019).

Pasar makanan Indonesia kini sedang bergerak dipicu persaingan dua pemain utamanya di Indonesia Gojek dan Grab. Di tengah meningkatnya persaingan itu, baik Grab dan Gojek berinvestasi besar-besaran dalam membangun program penghargaan dan loyalitas untuk mengikat dan mempertahankan pelanggan, sementara pada saat yang sama, mengeluarkan diskon dan promo untuk meningkatkan pesanan makanan.

GrabFood unggul dalam inovasi dan teknologi. Dapur mereka sudah bekerja bahkan sebelum konsumen memesan. Maksudnya, dapur teknologi, bukan sekadar dapur tempat memasak makanan,” gurau Kameswara.

Inovasi teknologi Grab, dikatakan Kameswara juga terlihat dalam konsep dapur satelit GrabKitchen. Ini perpaduan antara kolaborasi antar-brand dan kecanggihan teknologi. Dengan konsep dapur delivery only ini, makanan lebih cepat disediakan dan di antar ke konsumen dalam jarak wilayah tertentu. Kurir juga tidak perlu mengantri seperti di restoran biasa.

"Inilah yang sulit dikejar oleh pesaingnya,” papar Kameswara.

Data-data kuantitatif mendukung pernyataan itu. Menurut penelitian pasar yang dilakukan oleh Kantar, GrabFood adalah platform pengiriman makanan yang paling sering digunakan di enam negara Asia Tenggara, yakni Indonesia, Singapura, Malaysia, Filipina, Thailand, dan Vietnam.

Baru pekan ini, GrabFood mengumumkan bahwa perusahaan itu telah menjadi perusahaan pengiriman makanan terbesar di Indonesia berdasarkan nilai barang bruto (gross merchandise value/GMV), serta meluncurkan menu pesanan berbasis data untuk konsumen dalam kemitraan dengan pedagang. Fokus pada pelokalan inilah yang telah mendorong GrabFood ke posisi terdepan.

"Dari Juni 2018 sampai Juni 2019, GMV GrabFood di Asia Tenggara tumbuh 900%. Pada paruh pertama tahun 2019 saja, Grab menyatakan GMV GrabFood di Indonesia meningkat tiga kali lipat,” ujar Kameswara yang kini mengembangkan ventura rintisan di bidang bioteknologi.

Kameswara menyebutkan, rencana Grab untuk membuka kantor pusat kedua dan pusat aktivitas GrabFood Asia Tenggara di Indonesia yang telah disampaikan ke Presiden Joko Widodo beberapa waktu lalu menjadi pondasi penting Grab untuk makin merajai sektor pengiriman makanan di region ini di masa yang akan datang.



Sumber: BeritaSatu.com