Kerja Pertanian di Tengah Pandemi
INDEX

BISNIS-27 434.176 (-7.64)   |   COMPOSITE 4917.96 (-75.2)   |   DBX 928.196 (-4.7)   |   I-GRADE 130.286 (-2.42)   |   IDX30 412.166 (-7.85)   |   IDX80 107.727 (-2.08)   |   IDXBUMN20 269.265 (-5.95)   |   IDXG30 115.773 (-2.53)   |   IDXHIDIV20 368.481 (-6.65)   |   IDXQ30 120.761 (-2.3)   |   IDXSMC-COM 210.292 (-3.36)   |   IDXSMC-LIQ 235.988 (-6.09)   |   IDXV30 101.893 (-2.12)   |   INFOBANK15 773.605 (-13.29)   |   Investor33 359.92 (-6.34)   |   ISSI 144.524 (-2.29)   |   JII 524.265 (-9.92)   |   JII70 177.451 (-3.41)   |   KOMPAS100 962.885 (-17.72)   |   LQ45 754.177 (-14.18)   |   MBX 1360.94 (-22.87)   |   MNC36 269.191 (-4.78)   |   PEFINDO25 256.961 (-5.33)   |   SMInfra18 232.003 (-3.35)   |   SRI-KEHATI 302.863 (-5.05)   |  

Kerja Pertanian di Tengah Pandemi

Opini: Kuntoro Boga Andri
Kepala Biro Humas dan Informasi Publik Kementerian Pertanian

Rabu, 17 Juni 2020 | 08:00 WIB

Produksi pertanian tidak boleh berhenti, meski saat ini dunia sedang dilanda pandemi. Pertanian harus berjalan supaya kebutuhan pangan masyarakat tetap terpenuhi. Untuk pemenuhan itu, peningkatan produksi menjadi sebuah kewajiban dalam menghadapi kehidupan normal atau new normal.

Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (Food and Agriculture Organization/FAO) memberikan peringatan yang kuat bagi tentang ancaman krisis pangan yang bakal melanda dunia, terutama bagi negara-negara yang tidak mampu memenuhi pangannya sendiri selama ini. Pandemi Covid-19 memiliki potensi pada penurunan produksi global dan akses pangan masyarakat. Hal itu tentu berdampak menurunkan ketahanan pangan dan gizi, terutama bagi kelompok masyarakat rentan rawan pangan.

Bagi Indonesia yang akan masuk musim kemarau juga menjadi perhatian tersendiri, mengingat kerap munculnya kekeringan di daerah tertentu. Keterbatasan jalur logistik menjadi tantangan serius dalam ketersediaan dan distribusi pangan.

New normal yang diiringi dengan menurunnya daya beli masyarakat, kembali menjadi masalah baru, tatkala produksi yang telah sangat baik (melimpah) di sentra produksi, tidak sampai ke pasar. Pekerjaan rumah yang sangat kompleks ini menuntut pemikiran dan energi ekstra pemerintah.

Agenda jangka pendek yang dilaksanakan Kementerian Pertanian (Kemtan) pada saat pandemi masih berlangsung adalah melalui pendekatan menjaga produksi dan stabilisasi pasokan bahan pokok dan percepatan tanam. Fase ini dilakukan secara terukur dengan melakukan rehabilitasi jaringan irigasi dan pemanenan air hujan, dan antisipasi musim kemarau. Selanjutnya optimalisasi lahan dengan bantuan alat dan mesin pertanian serta benih dan bibit unggul.

Masih dalam pendekatan ini, pemerintah terus menjaga stabilitas harga bahan pokok dengan memperlancar lalu-lintas pasar komoditas dan produk pertanian. Kemudian mengembangkan Pasar Mitra Tani untuk meningkatkan efisiensi pemasaran dengan memotong rantai pasok pemasaran hasil pertanian.

Dalam jangka menengah, pengembangan Komando Strategi Pembangunan Pertanian (Kostratani) untuk meningkatkan koordinasi dan kemampuan produksi, masuk dalam program prioritas. Selain itu, pemerintah terus menumbuhkan minat anak muda pada dunia pertanian dan melakukan modernisasi pertanian, serta memajukan usaha bidang pertanian. Selanjutnya optimalisasi pemanfaatan lahan rawa dan lahan kering juga disentuh sebagai upaya penyediaan pangan di masa baru dan mewujudkan kemandirian pangan.

Sedangkan untuk jangka panjang program utama dijalankan berdasarkan visi utama 2020-2024, di mana Kemtan menargetkan terwujudnya pertanian yang maju, mandiri, dan modern. Melalui pendekatan ini diharapkan sektor pertanian dalam lima tahun ke depan mampu menjadi penggerak utama (prime mover) pembangunan ekonomi nasional serta mempertahankan pencapaian ketahanan gizi pangan dan meningkatkan kesejahteraan petani.

Melalui pendekatan tersebut pemerintah dinilai cukup berhasil. Produksi dan pasokan pangan cukup dan harga pangan relatif stabil selama masa pandemi. Selama masa tanam (MT) I, periode Oktober-Maret, luas tanam padi 6,07 juta hektare (ha), dengan luas panen antara Januari-Juni tahun 2020 seluas 5,83 juta ha, yang menghasilkan 29,31 juta ton gabah kering giling atau setara dengan 16,80 juta beras. Diperkirakan stok beras akhir Juni 2020 adalah 6,84 juta ton.

Kinerja ekspor produk pertanian di masa pandemi ini juga masih menunjukkan kinerja yang menggembirakan dan tercatat mengalami neraca perdagangan yang positif. Selama Januari-April 2020, nilai ekspor pertanian meningkat 16,9% dibandingkan pada periode yang sama tahun 2019, dari Rp 115,18 triliun meningkat menjadi Rp 134,63 triliun. Surplus perdagangan produk pertanian selama Januari-April 2020 juga meningkat signifikan, yaitu 32,96 persen, dari sebesar Rp 33,62 Triliun (Januari-April 2019) meningkat menjadi Rp 44,70 Triliun (Januari-April 2020).

Memasuki “New Normal”
Kemtan terus mempersiapkan kebijakan strategis menjelang masa transisi new normal. Persiapan dilakukan mengingat sektor pertanian merupakan sektor yang penting terkait pemenuhan pangan dan ekonomi nasional.

Kemtan berupaya meningkatkan ketersediaan pangan di masa new normal, dengan memperkuat upaya program atau cara bertindak (CB) dalam rangka menjaga ketahanan pangan. Upaya pertama atau CB 1 meliputi peningkatan kapasitas produksi dengan percepatan tanam di MT II seluas 5,5 juta ha, serta pengembangan dan optimalisasi lahan rawa di Kalimantan Tengah seluas 164,598 ha. Kemudian perluasan areal tanam baru (PATB) dan peningkatan produksi.

Kemudian di CB 2, melakukan pengembangan diversifikasi pangan lokal dengan memanfaatkan pangan lokal secara masif dan memanfaatkan pekarangan lestari (P2L) untuk 3.876 kelompok. Untuk CB 3, adalah melakukan penguatan cadangan dan sistem logistik pangan.

Kementerian Pertanian meminta perangkat kerjanya untuk memperkuat cadangan pangan. Misalnya, dengan membangun gerakan cadangan pangan bersama pemerintah provinsi dan kabupaten/kota serta masyarakat desa. Sementara upaya lainnya, CB 4, adalah melakukan pengembangan pertanian modern melalui smart farming dan precision farming.

Ini nantinya akan ditunjang dengan platform digital dalam meningkatkan efisiensi pemasaran dan perluasan pasar hasil pertanian. Misalnya, akselerasi peningkatan ekspor pertanian dengan penggunaan teknologi canggih yang menargetkan tiga kali lipat dalam lima tahun ke depan.

Selain itu, juga berpikir cadangan strategis nasional perlu dipersiapkan dengan serius. Ide Mentan Syahrul Yasin Limpo untuk membuat lumbung pangan mulai dari kecamatan, kabupaten, hingga provinsi, tentu sebuah gagasan yang jenius untuk menyimpan produksi yang ada. Keterbatasan kapasitas penyimpanan gudang Bulog, harus disiasati dengan baik, sehingga tidak semua cadangan pangan dibiarkan secara tidak terkontrol di tangan pihak lain. Stok masyarakat yang selama ini ukurannya gudang Bulog yang hanya 3% dari produksi nasional, harus ditingkatkan dengan lumbung pangan baru.

Sudah sepatutnya memupuk optimisme memasuki kondisi new normal di sektor pertanian dan pangan, dengan terobosan yang cerdas dan efisien. Rakyat masih akan terus butuh pangan, dan pemerintah pun akan terus bekerja untuk rakyat.


BAGIKAN




TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS