Ketum KONI Pusat Harus Terbuka dan Mengayomi

Ketum KONI Pusat Harus Terbuka dan Mengayomi
Ilustrasi KONI Pusat ( Foto: istimewa )
Hendro D Situmorang / CAH Sabtu, 15 Juni 2019 | 07:20 WIB

Jakarta, Beritasatu.com – Sosok Ketua Umum KONI Pusat mendatang ke depan harus bersikap terbuka, mampu mengayomi seluruh anggotanya saat memimpin dan tak boleh kaku. Hal itu disampaikan mantan atlet marathon putri andalan Indonesia, Maria Lawalata dan mantan atlet taekwondo nasional, Lamting di Senayan, Jakarta, Jumat, (14/6/2019) terkait suksesi KONI Pusat.

KONI Pusat akan menggelar Musornaslub pada 2 Juli di Sultan Hotel dengan agenda utama memilih Ketua Umum periode 2019-2023 pengganti Tono Suratman. Hingga kini sudah dua nama mendeklarasikan diri sebagai calon Ketua Umum yakni Muddai Madang dan Letjen TNI (Purn) Marciano Norman. Selain itu ada sejumlah nama disebut-sebut bakal dicalonkan diantaranya tokoh olahraga otomotif asal Kalimantan, Haji Isam dan mantan Panglima TNI Jenderal TNI (Purn) Gatot Nurmantyo.

Pendaftaran bakal calon Ketua Umum KONI Pusat sudah dimulai sejak Rabu, (12/6/2019) dan akan ditutup 22 Juni mendatang.

Menanggapi figur yang sudah mencalonkan diri, Maria mengatakan memang kurang elok jika kita menciptakan dikotomi militer dan sipil. Menurutnya yang penting, kata dia, figur itu bisa memposisikan diri sebagai pengayom dan pelayan bagi masyarakat olahraga Indonesia.

Namun peraih medali emas penentu kontingen Indonesia menjadi juara umum SEA Games 1991, Manila Filipina itu menilai bahwa figur dari sipil lebih pas memimpin KONI Pusat. Oleh karenanya, ibu dua anak ini lebih menginginkan sosok pemimpin KONI dari kalangan non militer.

”Apalagi sosok sipil yang dimunculkan itu berasal dari pengusaha yang nota bene punya kemampuan mencari sekaligus membuka akses pendanaan untuk olahraga. Dan pengalaman membuktikan olahraga Indonesia sukses ketika dipimpin oleh mereka yang berlatar belakang sipil seperti Ketua Umum KONI pertama, Sri Sultan Hamengkubuwo IX dan Rita Subowo,” kata Maria.

Satu hal penting juga diingatkan Maria Lawalata adalah posisi KONI Pusat ke depan harus kuat. Pengendali pembinaan olahraga prestasi adalah ranahnya KONI Pusat, jangan seperti sekarang, KONI Pusat justru dikebiri karena semua urusan pembinaan diambil alih oleh pemerintah dalam hal ini Kemenpora.

”Namun KONI juga harus memperkuat hubungan dengan Kemenpora karena terkait pendanaan khususnya menghadapi multi even seperti SEA Games, Asian Games dan Olimpiade,” jelas dia.

Maria juga setuju KONI Pusat ke depan tak harus menggantungkan diri pendanaan dari pemerintah. Bagaimana pun juga KONI Pusat harus punya kemampuan menggali pendanaan diluar anggaran pemerintah. Dan itu hanya bisa dilakukan jika KONI terbuka, profesional dan terpercaya.

Senada dengan itu, mantan atlet taekwondo nasional, Lamting mengaku prihatin dengan kondisi yang dialami oleh KONI Pusat saat ini, terutama soal adanya tunggakan gaji karyawan selama 7 bulan. Ia membandingkan ketika masih menjadi atlet, situasi seperti ini tidak pernah terjadi. Dulu, roda organisasi KONI Pusat dinilainya berjalan mulus tanpa ada hambatan seperti saat ini.

"Mungkin kondisinya berbeda kali ya? Dulu, KONI Pusat tak ada gonjang-ganjing seperti ini, semua berjalan lancar," ungkapnya.

Di sisi lain, ia juga berharap agar permasalahan ini segera teratasi. Karena menyangkut nasib para karyawan dan keluarganya.

"Semoga ada solusi yang tepat untuk mengatasi masalah ini. Saya setuju dengan usulan karyawan bahwa para kandidat calon ketua umum (caketum) menomor-satukan pembayaran tunggakan gaji karyawan terlebih dahulu. Suara karyawan juga harus didengar. Karena mereka juga penggerak roda organisasi," tandas mantan “raja” kelas welter ini.

Peraih perak Asian Games 1986 dan emas di SEA Games 1987 itu berharap KONI Pusat kedepan lebih baik lagi dengan dipimpin oleh figur yang tepat agar roda organisasi berjalan dengan lancar.

"Terutama yang terpenting adalah mampu bersinergi dengan pemerintah, KOI, dan stakeholder olahraga. Jangan ada istilah KONI Pusat seperti berjalan sendiri. Nah figur ini harus fleksibel dan mau bersinergi," kata taekwondoin yang juga peraih medali perunggu di Kejuaraan Dunia Taekwondo di Jerman pada 1989 itu.

Soal kriteria figur yang tepat untuk memimpin KONI Pusat kedepan, ia mengatakan bahwa figur itu terbuka dari kalangan tokoh olahraga, mantan atlet, pengusaha atau kalangan lainnya.

"Seperti saat ini saya dengar ada kalangan dari dunia usaha yang akan mencalonkan diri tentunya harus diberikan podium untuk memimpin KONI Pusat. Yang penting, figur itu mampu mengatasi kendala klasik soal keuangan untuk memutar roda organisasi tanpa menunggu bantuan Pemerintah," tutup dia.



Sumber: Suara Pembaruan