PB PASI dan Bhayangkara FC Sepakat Berbagi Stadion Madya

PB PASI dan Bhayangkara FC Sepakat Berbagi Stadion Madya
Pemain Bhayangkara FC I Putu Gede Juni Antara (kanan) berusaha memblok bola tendangan pesepak bola Tira Persikabo Lestaluhu (kiri) pada pertandingan lanjutan Liga 1 di Stadion Madya Gelora Bung Karno, Jakarta, Kamis (4/7/2019). ( Foto: ANTARA FOTO / Galih Pradipta )
Hendro D Situmorang / JAS Rabu, 10 Juli 2019 | 07:58 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Pengurus Besar Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PB PASI) dan klub sepakbola Bhayangkara FC akhirnya sepakat untuk berbagi tempat latihan penggunaan Stadion Madya Gelora Bung Karno (GBK). Hal ini menjawab polemik kedua pihak yang sempat berselisih. Kedua pihak juga sepakat ke depan harus membangun komunikasi secara ekfektif guna menghindari kesalahpahaman.

Kesepakatan itu terjadi ketika keduanya dimediasi Pusat Pengelola Kompleks Kawasan Gelora Bung Karno (PPK-GBK) bersama Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kempora), Selasa (9/7/2019) di Kantor Kempora, Jakarta.

"Jadi hasil mediasi, keduanya saling berbagi dan kuncinya adalah saling berkoordinasi untuk mengatur jadwal kapan latihan. Itu saya serahkan ke kedua pihak, apalagi agenda pertandingan Bhayangkara FC sudah terjadwal. Saya harap ini solusi terbaik," kata Sekretaris Kempora, Gatot S Dewa Broto.

Ditegaskan, Bhayangkara FC tidak mengklaim Stadion Madya menjadi markas, melainkan hanya tempat untuk latihan dan menggelar pertandingan kandang (home) selama Stadion PTIK direnovasi, bukan homebase. Maka jika Stadion Madya digunakan untuk laga Liga 1, atletik latihan di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK). Di luar itu, atletik bisa menggunakan tempat latihan seperti biasa.

Direktur Utama PPK-GBK, Winarto menyebut keputusan membagi jatah penggunaan Stadion Madya antara PB PASI dan Bhayangkara FC mejadi solusi paling realistis. Kini yang bisa dilakukan kedua belah pihak adalah menjalin koordinasi yang cair terkait jadwal penggunaan lapangan.

"Kami akan menyiapkan SUGBK sebagai venue latihan PB PASI jika di saat yang bersamaan Bhayangkara FC mempergunakan Stadion Madya. Yang diperlukan adalah koordinasi karena bergantian. Saya pun juga setuju agar pertemuan seperti ini lebih dilakukan lebih intens sehingga bisa terus berkomunikasi dengan baik. Kalau pun PASI bergeser paling cuma jalan kaki, menyeberang ke SUGBK. Kami jamin mereka bisa terus berlatih tanpa terputus," ujar Winarto.

Tim Legal Bhayangkara FC, Susilo Edi mengaku setuju dan menghormati keputusan PPK-GBK bersama Kempora. Pihaknya menyebut hanya akan menggunakan Stadion Madya dalam situasi tertentu sambil menunggu pemugaran Stadion PTIK yang tengah direnovasi dan baru akan rampung pada Agustus 2019 mendatang.

"Kami mengikuti mekanisme yang berlaku. Jadi bukannya Bhayangkara FC menjadikan Stadion Madya sebagai venue permanen. Terkait homebase, sejauh ini pihak kita sedang bekerja sama dengan Stadion Patriot Candrabhaga, Bekasi. Jadi misalnya pertandingan home (kandang) kita di Bekasi berbenturan dengan kegiatan lain, alternatifnya di Stadion Madya. Jadi untuk latihan atau lainnya tidak. Itu untuk laga home saja," ungkapnya.

Namun Sekjen PB PASI, Tigor Tanjung berbeda pandangan lain. Meski menerima keputusan itu, ia menganggap pembagian jatah penggunaan Stadion Madya bukanlah solusi terbaik karena mereka tetap harus berbagi tempat latihan. Padahal, para atlet atletik butuh tempat kondusif selama pelatnas untuk memenuhi target SEA Games 2019 Filipina dan Olimpiade 2020 Jepang.

"Pasalnya, atlet PB PASI membutuhkan suasana kondusif dalam berlatih. Perpindahan venue Pelatnas dikhawatirkan akan membuat Lalu Muhammad Zohri cs kurang maksimal dalam menyerap program latihan. Pilihan dari kami cuma satu. Kami mau Stadion Madya itu jadi home base kami untuk melakukan pelatnas. Jadi kalau ada kegiatan lain di sana, kami bisa menggunakan lapangan yang ada di belakang Stadion Madya," jelas Tigor.

Menurutnya, pemindahan tempat latihan ke SUGBK bisa menjadi kendala dan tak serta merta menyelesaikan masalah. Pasalnya, peralatan yang harus dibawa sangat banyak dan bisa menghambat program latihan.



Sumber: Suara Pembaruan