Dayung Berdiri dan Kayak Jadi Wisata Olahraga Andalan Indonesia

Dayung Berdiri dan Kayak Jadi Wisata Olahraga Andalan Indonesia
Para juara Belitong Geopark International Stand Up Paddle and Kayak Marathon (BGISKM) 2019. ( Foto: Istimewa )
Hendro D Situmorang / JAS Sabtu, 10 Agustus 2019 | 09:25 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Olahraga dayung berdiri (stand up paddle) dan kayak kini menjadi sport tourism atau wisata olahraga andalan di Indonesia dan tengah menuju olahraga prestasi. Hal ini mengacu setelah suksesnya ajang BPJSTK Belitong Geopark International Stand Up Paddle and Kayak Marathon (BGISKM) 2019 yang berlangsung di Pantai Tanjung Kelayang, Belitung akhir pekan lalu.

"Tidak ada alasan bagi Indonesia untuk tidak berjuang memajukan wisata olahraga maritimnya karena memiliki garis pantai yang sangat panjang. Bangsa ini memiliki keindahan spot alam dan wisata maritim yang luar biasa dan tidak ada di belahan dunia manapun," kata Ketua Penyelenggara BGISKM 2019, Heriyanto saat evaluasi di Jakarta, Jumat (9/8/2019)

Ajang ini diikuti sekitar 150 atlet dayung dan kayak dari berbagai negara di dunia. Antara lain, Malaysia, Singapura, Kanada, Italia, Korea, Amerika, Selandia Baru dan tuan rumah Indonesia dan ditambah 50 orang peserta lokal lomba tradisional kano atau kulek.

Diakui, sport tourism merupakan sektor dengan pertumbuhan tercepat di Tanah Air. Stand up paddle dan kayak saat ini menjadi aktivitas olahraga bahari yang semakin populer di dunia. Indonesia membutuhkan berbagai event berskala internasional untuk mempercepat pertumbuhannya di negara ini.

"BGISKM 2019 menjadi sebuah ajang yang akan berkontribusi cepat bagi olahraga bahari di Tanah Air dan sebagai potensi masa depan bagi bangsa kita Indonesia. Ajang ini dipersembahkan oleh dua komunitas olahraga yang bersinergi bersama yaitu Stand Up Paddle Indonesia (SUP.ID) dan Sea Kayak Indonesia (SKI) yang dikelola Kaniki Action Partner," ungkap dia.

Race Director BGISKM 2019, Ryco Arnaldo mengatakan ada lima kategori yang dipertandingkan. Pertama kayak marathon single dan double yang terdiri dari kelas terbuka dan putri. Kedua kategori kano tradisional. Ketiga kategori stand up paddle marathon single (kelas terbuka dan putri) serta stand up paddle race (kelas terbuka dan putri).

"Di kategori kayak maraton peserta harus menempuh jarak 18 kilometer dengan batas waktu terlama ialah 4 jam 10 menit. Sedangkan lomba kano tradisional jarak tempuhnya sejauh 8 km dengan waktu terlama 2 jam 30 menit. Sementara kategori stand up paddle marathon jarak tempuh yang harus dilalui peserta mencapai 8 km dengan durasi terlama 2 jam 30 menit. Lalu di stand up paddle race jarak tempuhnya hanya 1 km dengan waktu terlama 12 menit," ungkap dia.



Sumber: Suara Pembaruan