Bapak-bapak Asuh yang Murah Hati

Bapak-bapak Asuh yang Murah Hati
Lalu Muhammad Zohri. ( Foto: ANTARA FOTO / Yulius Satria Wijaya )
Hendro D Situmorang / AMA Senin, 18 November 2019 | 21:52 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Keterbatasan dana pemerintah dalam menciptakan prestasi olahraga membuat para pengurus besar atau pengurus pusat cabor berpikir kreatif, cerdas, dan bekerja keras mencari dana tambahan pihak ketiga. Pola yang dijalankan adalah mencari bapak asuh. Sejumlah cabor berhasil mendapatkan para bapak asuh yang baik hati. Namun, sebagian cabor yang tidak terlalu diminati, harus gigit jari. Mereka menerima kenyataan pahit yakni menjalankan program hanya berdasarkan dana yang dikasih pemerintah.

Salah satu cabor yang sukses mendapat bapak asuh adalah panahan. Sekjen PP Persatuan Panahan Indonesia (Perpani), Rizal Barnadi mengatakan, mereka hanya menerima 8,7 miliar dari pemerintah untuk pelatnas SEA Games 2019, dari Rp 20 miliar yang diajukan.

“Akhirnya, kami coba maksimalkan dana yang kami terima meskipun kurang dan terpaksa harus ada yang dikorbankan atau dikurangi. Misalnya, mengurangi jumlah try out ke luar negeri dan peralatan seperti jumlah anak panah. Seharusnya beli tiga lusin, kami beli hanya dua lusin karena harganya cukup lumayan tinggi,” katanya kepada Beritasatu.com di kawasan Gelora Bung Karno (GBK) Senayan, Jakarta , 28 Oktober silam.

Namun pihaknya tetap membidik juara umum pada SEA Games 2019 Filipina dengan target lebih dari empat medali emas. Sebab, pada SEA Games 2017, dua tahun silam, tim panahan Indonesia meraih enam medali; empat emas, satu perak, dan satu perunggu. Tahun ini diharapkan ada peningkatan, meski dana terbilang minim.

Untuk menyiasati dana minim, PP Perpani berjuang sendiri. Mereka mencari sponsor untuk membantu roda organisasi dan peningkatan prestasi atlet. Mereka pun akhirnya mendapatkan “bapak asuh” yakni Yayasan Bakti Barito dari Barito Pacific Group, Indika Energy, dan Gemarang Terapanindo Argayasa (GTA) Group dengan perjanjian jangka waktu selama satu tahun. Sementara Pertamina hanya membantu per event.

“Apalagi dana pelatnas SEA Games saat ini baru cair 70 persen dan itu sudah habis terpakai untuk operasional dan persiapan latihan atlet, sementara yang 30% belum kunjung turun. Padahal ajang multievent Asia Tenggara dimulai sebentar lagi. Jangan sampai gara-gara sisa dana 30% dari pemerintah ini belum turun juga, persiapan pelatnas jadi terganggu,” ungkap Rizal.

Tenis juga termasuk cabor beruntung. Mereka mendapatkan bapak asuh dari beberapa perusahaan tambang. Itu sebabnya, Wakil Ketua Umum Pengurus Pusat Persatuan Tenis Seluruh Indonesia (PP Pelti), Sutikno Muliadi menegaskan, bukan saat untuk mengeluh tentang minimnya dana yang diterima dari pemerintah. Sebab itu bukan cerita baru. Tenis sendiri masuk cluster dua dengan total dana pelatnas sekitar Rp 9 miliar.

“Cukup tak cukup, kami harus pintar mengunakannya dan yang penting atlet kami bisa mendapat gaji, akomodasi tercover, dan yang sulit adalah pembiayaan untuk try out. Biaya ini tak terserap dengan baik. Maka jalan satu-satunya dengan mencari terus sponsor bagi pengemar olahraga tenis,” ungkapnya.

Tahun ini, PP Pelti pun bisa menggandeng beberapa perusahaan seperti Amman Mineral, Medco Energi, Moya, Combiphar, dan BNI. Para sponsor ini sangat membantu bagi atlet tenis untuk kelanjutan bisa melakukan berbagai turnamen, pemusatan latihan, klinik latihan, dan pengiriman atlet ke berbagai kejuaraan internasional.

“Kami tak bisa hanya mengeluh dengan keadaaan ini saja. Mengaet sponsor pun tak mudah karena mereka melihat sejauh mana banyaknya antusias jumlah penonton baik di lapangan maupun televisi dan apa keuntungan yang didapat,” jelas Sutikno yang juga Ketua Bidang Pembinaan PP Pelti.

Keberuntungan serupa juga didapatkan cabor angkat besi. Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi Pengurus Besar Persatuan Angkat Berat, Binaraga, dan Besi Indonesia (PB PABBSI), Alamsyah Wijaya mengaku, setiap cabor harus bisa menyiasati minimnya anggaran pemerintah guna terus melahirkan prestasi membanggakan bangsa. Mereka juga mencari bapak asuh.

“Salah satunya untuk pembinaan, kami bekerja sama masuk ke program Kempora seperti pencarian bakat dan bibit atlet, pendampingan Pusat Pendidikan dan Latihan Pelajar (PPLP), penataran pelatih, wasit, pembentukan fisik atlet dan lainnya. Kami menawarkan program proposal, ajukan, presentasi, dan bila disetujui akan difasilitasi pemerintah. Semua itu kami lakukan setiap tahunnya,” ucap Alamsyah.

PB PABBSI, kata dia, berupaya tertib administrasi dan manajemen agar semua dimudahkan. Tentunya dalam mengajukan permintaan bantuan dana mencantumkan angka yang sesuai kenyataan, bahkan untuk cabang olahraga angkat besi terbilang kecil.

“Untuk mengirim tim angkat besi dan berat, paling tinggi ada di angka Rp 1 miliar. Ini berbeda jauh bila dibandingkan cabor sepakbola yang bisa mencapai Rp15 miliar untuk sekali berangkat. Padahal kita selalu bisa berprestasi dalam berbagai kejuaraan. Setiap tahun program kita mencapai Rp 15-20 miliar. Kami pun selalu berusaha menyesuaikan dan memaksimalkan berapa pun yang disetujui dan dicairkan pihak pemerintah,” jelasnya.

Ia melanjutkan, “Kalau masih ada kekurangan, biasanya kami akan ajukan kembali. Tetapi, kalau dinyatakan sudah tak ada dana lagi, maka kami manfaatkan seadanya. Namun berbeda kalau multievent, di mana akan ada dana untuk pelatnas seperti SEA Games, Asian Games, dan Olimpiade.”

Hanya saja, PB PABBSI mengaku belum memiliki bapak asuh. Namun, pihaknya bekerja sama dengan pihak swasta yakni Herbalife sebagai nutrisi untuk para atlet dan dengan perusahaan daging asal Australia sebagai asupan makanan. Bantuan-bantuan yang diberikan secara rutin ini sudah sangat membantu. Meskipun yang diberikan adalah berupa produk, karena kalau dinilai uang, jumlahnya cukup besar untuk pengembangan atlet.

Atletik

Lain lagi cerita tentang cabor atletik. Seperti cabor-cabor lainnya, Pengurus Besar Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PB Pasi) juga mendapat aliran dana yang kecil dari pemerintah. Namun, situasi itu tidak menghalangi atlet-atlet mereka, seperti Lalu Muhammad Zohri, berprestasi. Sebab mereka cukup beruntung ketua umumnya seorang pengusaha besar bernama Bob Hasan.

Sekjen PB PASI Tigor Tanjung mengaku, semua dana untuk pembinaan atlet PB PASI dari hulu berasal dari kantong pribadi Bob Hasan. “Tapi kebutuhan atlet kita harus terus berkelanjutan kan, tidak hanya pelatnas saja, tapi terus menerus. Begitu juga roda organisasi. Pencarian bibit atlet di daerah, adanya kompetisi di daerah dan pusat, harus tetap berjalan dan proses regenerasi. Itu semua butuh biaya besar. Apalagi saat ini, atletik belum mendapat bapak asuh atau pihak swasta yang membantu. Dulu kita sempat bekerja sama dengan Bank Mandiri, namun hanya sebentar saja untuk event dan angkanya pun minim,” terangnya.

Menurutnya, biaya untuk pembinaan prestasi atlet selama setahun bisa lebih dari Rp 30 miliar. Sesungguhnya, angka ini masih terbilang minim. Oleh karena itu, PB PASI pun tak mau berharap terlalu tinggi, karena belum ada keinginan dari pemerintah majukan olahraga dan peran masyarakat ataupun korporasi tak bisa diharapkan karena terbentur oleh peraturan yang ketat.

Namun nasib malang dialami cabang senam. Mereka betul-betul mengandalkan dana dari pemerintah untuk berprestasi, termasuk pada SEA Games 2019 ini, karena tidak berhasil mendapatkan bapak asuh. Wakil Ketua Umum 2 Bidang Pembinaan dan Prestasi Pengurus Besar Prestasi Persatuan Senam Indonesia (PB Persani), Dian Arifin mengatakan, senam sebagai ibu dari seluruh olahraga kesulitan mendapatkan bapak asuh. Perusahan-perusahaan milik negara tidak tertarik mendanai cabor ini.

Menurutnya, BUMN atau pihak swasta lain sulit membantu cabor senam. Padahal, menjelang SEA Games 2011, Persani sempat mendapat bantuan dari Jamsostek walaupun sedikit, tapi cukup membantu. Kini kami ingin sekali bisa bertatap muka dan menjelaskan program-program andalan. Semua itu tinggal cara pengemasan saja untuk mengajukan sebagai sponsor atau bantuan.

Namun, situasi ini tidak membuat PB Persani putus asa. “Untuk pembinaan prestasi cabang olahraga senam tahun ini kami hanya mengandalkan dana pemerintah, yakni dana pelatnas SEA Games 2019. Sebelumnya, pada 2017 bantuan pemerintah cukup minim karena untuk melakukan try out tak ada bantuan sama sekali. Akhirnya dana keluar dari kantong pribadi wakil ketua untuk menutupinya. Pada 2018, kami mendapat dana pemerintah program untuk Asian Games 2018 yang sesuai dikasih pagu,” ungkapnya.

Dian mengaku, bila mengharapkan dana pemerintah yang minim, akan sulit atletnya berprestasi. Namun Persani tetap berusaha fokus dan memaksimalkan dana yang tersedia. Sebab sudah tidak bisa tawar menawar lagi, termasuk program pemusatan latihan menuju pra Olimpiade yang diberikan kepada satu atlet saja yaitu Rifda Irfanaluthfi di nomor senam artistik. Atlet ini meraih medali perak di Asian Games 2018 dan emas di SEA Games 2017.

Untuk pelatnas SEA Games 2019, mereka mengajukan anggaran sebesar Rp 24 miliar, tetapi yang disetujui Kempora hanya sekitar Rp 7 miliar. Itu sudah termasuk untuk pembinaan pelatnas dan berbagai ajang dan uji coba. “Kalau dibilang kurang, ya sangat kurang, tapi ya harus dimaksimalkan untuk semua kebutuhan. Yang paling mahal itu adalah sewa tempat karena PB Persani hingga saat ini belum memiliki tempat untuk latih tanding. Seandainya ada tempat akan sangat terbantu dan bisa meminimalisir anggaran,” jelasnya.



Sumber: Suara Pembaruan