Janji Manis Pemerintah

Janji Manis Pemerintah
Menpora Zainudin Amali (kanan) didampingi Sesmenpora Gatot S Dewa Broto ( Foto: ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak )
Hendro D Situmorang / AMA Senin, 18 November 2019 | 22:00 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Menanggapi keluhan para cabor, Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Zainudin Amali hanya bisa berjanji. Sayang, janji bukan untuk menyediakan anggaran pembinaan prestasi olahraga bangsa ini yang lebih besar, tetapi hanya sebatas untuk transparan dalam penyusunan anggaran serta menjamin tidak akan ada lagi potongan dana kepada setiap cabang olahraga.

“Kita harus hati-hati karena BPK tiap tahun memeriksa kita. Yakinlah kami di Kempora sudah membuat tekad tidak ada satu rupiah pun apalagi potongan ke cabor. Kita akan berikan sesuai dengan yang diajukan,” ujar Amali saat berkunjung ke Pelatnas Angkat Besi di Mess Kwini, Pasar Senen, Jakarta belum lama ini.

Amali menegaskan bahwa keterlambatan dana untuk cabor-cabor tidak dimaksudkan untuk menahan-nahan anggaran, tetapi kemungkinan karena ketidaksesuaian administrasi. Sebab dana APBN ini harus dialokasikan dengan hati-hati supaya tidak menyimpang. Untuk mencegah keterlambatan itu, Amali menyatakan akan bertemu dengan setiap cabang olahraga untuk membicarakan soal anggaran.

“Kita akan undang setiap cabor untuk mengatur bujet dan kita akan bicara transparan karena kementerian tanpa cabor bukan apa-apa,” kata dia.

Meski begitu, Amali mengharapkan setiap cabang olahraga bisa tetap jalan sendiri walaupun tidak ada bantuan dari pemerintah. Ia pun mengapresiasi inisiatif para pengurus cabor yang mau menggelontorkan dana pribadi untuk melakukan pembinaa, try out maupun ikuti kejuaraan lain.

Menteri asal Gorontalo itu berjanji bahwa pemerintah akan mengusahakan sebaik-baiknya agar kesiapan atlet berjalan lancar dan memasang target merebut 50 emas dan berada di lima besar klasemen akhir SEA Games 2019 Filipina.

Ada pun soal bapak asuh, politisi Partai Golkar itu berjanji akan mendorong Kementerian BUMN untuk menciptakan bapak asuh. Untuk itu, ia mengaku sudah berkonsolidasi dengan beberapa kementerian, khususnya Kementerian BUMN untuk dicarikan bapak asuh bagi cabor-cabor berprestasi.

”Pertama, masalah Perpani dan cabor lainnya ini akan kami selesaikan di Kempora secara bertahap. Kedua, jika kita berbicara pengeluaran budget pembelian peralatan, jangan sampai ada kesalahan prosedur karena ini menyangkut APBN dan kami harus benar-benar berhati-hati betul agar jangan sampai terjadi kesalahan dan tidak ada penyimpangan. Selama ini, kami mungkin sering mendengar masalah atau kekurangan yang ada di pelatnas. Sekarang, kami ingin mengeceknya secara langsung, mengetahui secara detail langsung dari sumbernya agar dapat informasi secara valid,” kata Zainudin.

Dari semua masalah yang didengar dari berbagai cabang, Zainudin menambahkan, apa yang bisa diselesaikan di tingkat Kempora akan segera diatasi. Anggaran untuk membeli peralatan latihan dan lomba di pelatnas panahan misalnya. Hal itu bisa diatasi dengan anggaran Pelatnas 30% yang akan segera dicairkan dalam waktu dekat. Namun, untuk yang tidak bisa diselesaikan hanya di tingkat Kempora, Zainudin akan berkoordinasi dengan pemangku kepentingan terkait lainnya.

Sementara itu, terkait postur anggaran pembinaan olahraga yang disiapkan pemerintah, harus diakui jumlahnya jauh dari memadai. Tahun 2016, misalnya, dari total Rp 2,1 triliun anggaran Kempora, hanya Rp 1,2 triliun yang diperuntukkan bagi prestasi olahraga. Tahun berikutnya, dari Rp 3,14 triliun total anggaran Kempora, hanya Rp 1,3 triliun untuk prestasi olahraga. Pada 2018, dari Rp 5,03 triliun, hanya Rp 735 miliar untuk prestasi olahraga, karena sebagian tersedot untuk persialan Asian Games. Untuk 2019, dari Rp 1,95 triliun anggaran Kempora, hanya Rp 986 miliar yang dialokasikan untuk prestasi olahraga. Adapun dalam RAPBN 2020, pagu anggaran untuk Kempora mengecil menjadi Rp 1,7 triliun, sehingga bisa dipastikan anggaran untuk prestasi olahraga kembali menurun.

Sekretaris Kementerian Pemuda dan Olahraga (Sesmenpora) Gatot Dewa Broto mengakui anggaran APBN untuk pembinaan prestasi olahraga memang masih sangat minim dan kurang dari 1%. Hal iltu tidak terlepas dari kondisi keuangan negara. Apalagi, olahraga tidak masuk dalam prioritas pemerintahan saat ini.

“Hal ini membuka mata kita semua dan menjadi momentum yang bagus untuk menyiapkan semua pihak bahwa pembinaan olahraga itu membutuhkan dana yang sangat besar, apalagi banyak cabang olahraga (cabor) yang harus dibiayai. Kami akui dan jujur, Kempora memang kurang dana padahal atlet Indonesia punya keunggulan di usia dini. Contohnya saja pada Asean School Games kita bisa selalu menjadi juara umum atau runner up, baik di kandang sendiri maupun tanding di luar negeri,” ungkap Gatot.

Kempora, kata dia, ikut memfasilitasi kejuaraan yang diikuti cabor. Namun yang melakukan pembinaan adalah pihak federasi. “Maka kami akan persiapan dan memberi justifikasi yang kuat agar bisa membantu pengembangan olahraga, khususnya fokus pada sumber daya manusia (SDM) yakni para atlet. Kedepan akan ada persiapan bidding tuan rumah Olimpiade dan sepakbola dan Piala Dunia Basket,” ujar Gatot lagi.

Gatot mengakui, minimnya anggaran jelas sangat berdampak terhadap penyiapan atlet-atlet. Namun, ia meminta agar atlet hanya memikirkan berlatih dan berlatih an tidak perlu ikut berpikr tentang uang saku, lauk pauk, nutrisi, try out atau berlatih dan tanding keluar negeri dan peralatan yang lengkap. “Kalau hal itu masih menjadi beban pikiran atlet, maka hasilnya tidak akan maksimal pembinaan yang dilakukan,” jelasnya.

Pada bagian lain, Gatot menekankan para pengurus cabor untuk kreatif mencari dana sendiri guna menunjang prestasi para atletnya. “Maka kami menghimbau kepada cabor, apapun resikonya kalau menjadi pimpinan cabor itu harus bisa mencari sumber keuangan yang lain, termasuk bila mengalami kekurangan dana dan jangan hanya bergantung pada pemerintah saja,” tutup Gatot.



Sumber: Suara Pembaruan