Indonesia Antisipasi Situasi di ASEAN Para Games 2020

Indonesia Antisipasi Situasi di ASEAN Para Games  2020
Ketua National Olympic Committtee, Senny Marbun memberikan penjelasan mengenai persiapan Indonesia tampil di ASEAN Para Games 2019. ( Foto: Suara Pembaruan/Hendro Situmorang )
Hendro D Situmorang / CAH Selasa, 17 Desember 2019 | 08:17 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Kontingen Indonesia lewat National Olympic Committtee (NPC) Indonesia sudah mengantisipasi potensi masalah ASEAN Para Games (APG) 2020 di Filipina dengan mengirimkan tim advance. Mereka tak ingin kejadian serupa yang penuh masalah di SEA Games 2019 lalu terulang kembali.

Usai SEA Games 2019, Filipina melanjutkan tugas sebagai tuan rumah APG mulai 18-25 Januari mendatang. Cabang olahraga yang dipertandingkan hanya 17 cabang olahraga di tiga klaster, yakni Clark, Manila, dan Subic. Dari 17 cabor, Indonesia ikut 16 cabang karena satu sisanya para obstacle course, itu dijadikan cabang eksibisi.

Ketua NPC Indonesia, Senny Marbun mengakui khawatir atas beragam insiden di SEA Games 2019 dan berharap tidak terulang di ASEAN Para Games 2020, apalagi yang mengikuti pesta olahraga Asia Tenggara ini adalah atlet difabel dan jelas membutuhkan kesiapan akses untuk kursi roda serta transportasi yang ramah disabilitas.

"Untuk itu kami sudah mengantisipasi kelemahan di sana dan kami tak akan menuntut tapi bagaimana caranya kita bertanding dan menang. Urusan lain belakangan kami selesaikan. Kami juga akan mengirim tim advance untuk mengecek keadaan di sana," kata Senny di Kantor Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kempora), Senin (16/12/2019).

NPC Indonesia juga antisipasi terkait jumlah cabor dan nomor pertandingan. Ia mengaku tuan rumah Filipina sempat ingin "main mata" karena berharap bisa modifikasi nomor cabor. Sebelum diputuskan 17 cabor yang dipentaskan, ada enam cabor lain yang sebelumnya ingin dipertandingkan. Namun negara-negara peserta menolak cabor wheellchair dancing, para obstacle course (eksibisi), basket three point shoot dan akhirnya mereka tidak berani aneh-aneh.

Sementara untuk target, diakui Kontingen Indonesia membidik target tinggi yakni bertekad mempertahankan prestasi dua tahun lalu, yakni menjadi juara umum dengan perkiraan 100 medali emas. Senny pun optimistis akan bidikan ini. Demi memenuhi target tersebut, pihaknya sudah melakukan kalkulasi jumlah perolehan medali emas yang harus diraih atlet-atlet Merah Putih yakni 100 emas.

“Program pemusatan latihan nasional (pelatnas) APG sudah dilakukan sejak Mei lalu di Solo, Jawa Tengah. Saya harap prestasi kita di Manila bisa sama seperti di APG dua tahun lalu di Malaysia,” ungkap dia.

Wakil Sekretaris NPC, Rima Ferdianto menambahkan bahwa dari 16 cabang olahraga yang diikuti di multievent atlet difabel Asia Tenggara tersebut, setidaknya ada enam cabang utama yang diharapkan dapat meraup 70 persen medali emas. Cabang olahraga tersebut adalah atletik, renang, bulutangkis, tenis meja, catur, dan angkat berat.

"Semoga raihan total medali dari cabor itu bisa meraup 70 persennya yaitu 70 medali emas," kata Rima.

Chef de Mission (CdM) Indonesia untuk APG 2020, Andi Herman mengatakan Indonesia akan mengirimkan total 300 atlet untuk turun pada 16 cabang olahraga yang dipertandingkan. Adapun jumlah kontingen seluruhnya termasuk ofisial, manajer, tim pelatih dan pendamping yang mencapai 550 orang.

Untuk mencegah berbagai masalah yang sempat terjadi di SEA Games 2019 tidak terulang, CdM pun berupaya akan memberikan fasilitas terbaik bagi atlet Indonesia yang akan bertanding di ASEAN Para Games 2020, termasuk akomodasi, kebutuhan atlet, kelayakan fasilitas, hingga makanan dan asupan gizi.

"Hambatan yang berkaitan dengan fasilitas tidak akan menurunkan semangat atlet sehingga kita tidak akan bergantung pada fasilitas yang ada di venue. Kita sudah antisipasi dengan beberapa perlengkapan yang kita bawa untuk atlet," kata Andi.

Terkait anggaran, Sesmenpora Gatot S Dewa Broto menjelaskan pihaknya terpaksa menggunakan pola dua mata anggaran, 2019 dan 2020. Pasalnya APG berlangsung 2020 yang otomatis pula tak mungkin menggunakan anggaran 2019. Oleh karenanya, Kempora mendatangkan Dirjen Anggaran dan Perbendaharaan Negara KementerianKeuangan untuk mempermudah proses pencairan anggaran.

”Untuk APG 2020 ini ada pengecualian dan pihak Kemkeu sangat memahami masalah ini sehingga pendanaan tak masalah,” ujar Gatot.

Untuk pelatnas sejak Mei 2019 saja anggaran yang dikucurkan sekitar Rp100 miliiar. Biaya pengiriman kontingen diperkirakan mencapai Rp 0-35 miliiar dan diharapkan 6 Januari sudah cair.



Sumber: Suara Pembaruan