Cari Lintasan Alternatif, DKI Upayakan Formula E Tetap Digelar

Cari Lintasan Alternatif, DKI Upayakan Formula E Tetap Digelar
Konvoi kendaraan listrik melintas di kawasan Bunderan HI , Jakarta, Jumat 20 September 2019. ( Foto: Suara Pembaruan/Joanito De Saojoao )
Carlos KY Paath / YUD Jumat, 7 Februari 2020 | 15:58 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Penyelenggaraan Formula E tetap digelar pada 6 Juni 2020. Ajang balapan mobil listrik itu sesuai dengan semangat "Jakarta Langit Biru di 2030" yang dicanangkan Pemerintah Provinsi (pemprov) DKI Jakarta. Sesuai Instruksi Gubernur Nomor 66/2019 tentang Pengendalian Kualitas Udara. Selain itu juga Peraturan Presiden (Perpres) 55/2019 tentang Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai.

Demikian disampaikan Direktur Utama PT Jakarta Propertindo (Jakpro), Dwi Wahyu Daryoto, Jumat (7/2/2020). "Balapan ini juga diharapkan akan mendorong turisme olahraga, sesuai dengan arahan presiden untuk meningkatkan kunjungan wisatawan luar negeri ke Indonesia," kata Dwi.

Dwi menjelaskan, Formula E di kawasan Monas dipilih bukan tanpa makna. Dwi mengatakan, Monas merupakan ikon Jakarta dan Indonesia. Monas menjadi simbol kota dan negara, layaknya Menara Eiffel di Paris, Perancis. "Penyelenggaraan Formula E akan membawa Monas ke pentas dunia internasional. ‘Monas dan Eiffel adalah lokasi paling ideal bagi penyelenggaraan Formula E," ujar Dwi.

Beberapa waktu lalu, Komisi Pengarah (Komrah) Pembangunan Kawasan Medan Merdeka tidak mengizinkan penyelenggaraan Formula E di area dalam Monas. Kini, panitia penyelenggara segera mencari beberapa tempat untuk dijadikan alternatif.

Menyangkut itu, Dwi menegaskan, penyelenggara Formula E Jakarta menghormati keputusan Komrah. "Kami menghormati sepenuhnya keputusan Komisi Pengarah, dan kami siap mencari lokasi alternatif atas arahan Komisi Pengarah. Kami sebagai penyelenggara Formula E Jakarta sudah mempersiapkan lokasi pengganti dari Monas yang memenuhi kriteria sebagai ikon Jakarta dan Indonesia," tegas Dwi.

Dwi pun menyebut, "Jauh sebelumnya sudah dipersiapkan alternatif-alternatif lokasi, kami tengah mendalami untuk pilihan terbaik."

Lokasi baru tersebut, menurut Dwi, tentunya akan mempertimbangkan masukan dari pemerintah pusat dan pihak-pihak terkait lainnya. Tujuannya semata-mata untuk menyukseskan balapan mobil ramah lingkungan ini di Jakarta. "Pengumuman lokasi sirkuit pengganti akan dilakukan setelah disetujui oleh FEO dan FIA selaku partner (mitra) penyelenggaraan Formula E Jakarta,’’ kata Dwi.

Desain sirkuit Formula E di DKI Jakarta direncananakan rampung pada akhir Februari 2020. "Target selesai akhir Februari 2020. Saat ini sedang didiskusikan dengan semua pihak, termasuk FEO. Nanti akan segera di-launching (luncurkan). Tunggu saja,” kata Dwi.

Dwi menyatakan, Jakpro berharap pada tahun mendatang, Monas dapat tetap digunakan sebagai lokasi sirkuit Formula E Jakarta. "Kami berharap di tahun mendatang kita diizinkan untuk memakai Monas," imbuh Dwi.

Diketahui, Formula E Jakarta masuk dalam rangkaian Kejuaraan FIA Formula-E 2019/20. Gubernur Provinsi DKI, Anies Baswedan, bersama COO FEO, Alberto Longo, pada September 2019 menyatakan bahwa kontrak awal Formula E akan berdurasi lima musim kejuaraan atau berakhir pada 2024.

Deputy Director Communications Formula E Indonesia, Hilbram Dunar menuturkan, pihaknya berusaha untuk mendapat tempat pengganti sirkuit Monas yang ikonic buat Jakarta dan membuat mata internasional kagum.

"Saya cerita awal dulu kenapa Monas dipilih. Karena Monas ikon Jakarta. Terus bisa dibilang ikon dari Indonesia. Orang kalau bicara Monas kan Jakarta, Indonesia, ibu kota, dan bagus. Kami sudah desain supaya mobil lewat dan diliput media internasional jadi bagus pengambilan karena latar Monas dan gedung ikonik di sekitar Monas," kata Hilbram.

Hilbram belum memastikan kemungkinan kawasan Jalan Medan Merdeka tetap dipakai sebagai lintasan. "Kemungkinan-kemungkinan itu, tapi apakah akan di Medan Merdeka, kan enggak bisa di situ doang. Harus jalan lain. Apakah jalan lain memungkinkan. Kami cari beberapa alternatif. Intinya kami mencari lokasi yang sebagus dan se-ikonik Monas.

Penentuan lintasan baru Formula E membutuhkan waktu. Tidak seperti mengubah rute Transjakarta. Demikian ditegaskan Gubernur DKI, Anies Baswedan di Balai Kota DKI, Kamis (6/2/2020).

"Jadi memang (tentukan lintasan Formula E) bukan seperti mengubah rute Transjakarta, enggak boleh lewat sini terus diganti, enggak. Tidak bisa tanpa ahlinya," tegas Anies.

Anies menuturkan, Pemerintah Provinsi (pemprov) DKI tidak menggambar sirkuit Formula E. "Bukan Pemprov DKI yang menggambar. (rute) itu menggunakan begitu banyak faktor variabel. Satu soal jumlah belokannya, kemudian elevasinya, lalu tingkat kesulitannya," ucap Anies.

Anies optimistis waktu yang tersisa cukup bagi seluruh pihak terkait untuk menyiapkan perhelatan Formula E. "Iyalah cukup. Kita kan komunikasi terus dengan mereka. Tim di sana rileks," ucap Anies.

Disinggung mengenai kemungkinan sirkuit bakal melintasi beberapa ikon ibu kota seperti Bundaran Hotel Indonesia, dan Stadion Utama Gelora Bung Karno, Anies hanya menyebut masih banyak opsi.

"Belum. Sampai dengan sekarang, masih banyak opsinya. Sebenarnya kan ada batasannya. Batasannya apa? Kilometernya, karena ini menggunakan baterai. Ya maksimal 3 kilometer," jelas Anies.

Ketua DPRD DKI, Prasetyo Edi Marsudi berharap rencana perhelatan Formula E tidak ditarik ke ranah politis. Menurut Prasetyo, acara seperti Formula E, diperlukan untuk menghibur warga DKI, dan sarana sosialisasi mobil ramah lingkungan.

"Jakarta perlu suasana yang lebih santai. Jakarta sudah sumpek dengan berbagai rutinitas persoalan di ibu kota. Jadi tidak ada salahnya dibuat santai sebentar," kata politisi PDI Perjuangan tersebut.

Pegiat otomotif itu juga menambahkan, anggaran untuk Formula E tidak perlu dipersoalkan. "Biaya Rp 1,6 triliun itu kan untuk lima kali penyelenggaraan, bukan satu kali. Sepanjang masalah anggaran ini transparan, tidak jadi masalah," tegas Prasetyo.

Fraksi Partai Solidaritas Indonesia (FPSI) memang meminta agar pergelaran Formula E dibatalkan. Alokasi dana untuk Formula E, dinilai sebaiknya digunakan Pemprov DKI dalam mengantisipasi banjir.

"Awal tahun baru 2020 Jakarta mengalami banjir besar, padahal cuma hujan sehari. Seharusnya antisipasi banjir menjadi prioritas utama Pemprov DKI, bukan Formula E. Rakyat Jakarta kebanjiran, tapi gubernurnya malah bikin acara balapan mobil. Terlebih lagi, jika lokasi dipindahkan ke jalan-jalan umum, maka akan menyebabkan kemacetan yang sudah terjadi pada hari biasa," kata anggota FPSI, Justin Adrian.

Justin pun menyebut, "Dari awal, kami menolak karena manfaat acara ini tidak jelas. Jika masih ngeyel juga, maka jelas sekali bahwa Pemprov DKI memang tidak punya prioritas yang jelas. Saya usul, sebaiknya Formula E dibatalkan, lalu uangnya buat antisipasi banjir yang lebih mendesak."



Sumber: Suara Pembaruan