Kisah Inspiratif Aby Ramadhan, Anak Penjual Mie Ayam yang Umrahkan Orangtua dari Esports

Kisah Inspiratif Aby Ramadhan, Anak Penjual Mie Ayam yang Umrahkan Orangtua dari Esports
CEO Mobile Premier League (MPL) Indonesia, Joe Wadakethalakal bersama Aby Ramadhan gamer asal Rawamangun, Jakarta Timur berhasil menjadi juara pertama Turnamen MPL di Piala Presiden Esports 2020. ( Foto: Suara Pembaruan / Ruht Semiono )
Iman Rahman Cahyadi / CAH Sabtu, 15 Februari 2020 | 18:58 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Sukses menjuarai turnamen Mobile Premiere League (MPL) di Piala Presiden Esports 2020, tidak serta-merta membuat Aby Ramadhan tinggi hati. Siswa kelas IX di SMP Negeri 71, Rawasari, Jakarta Pusat ini berlaku dan bersikap biasa saja, seolah tak merasa sebagai peraih prestasi tertinggi perhelatan esports bertaraf Internasional.

Ada tiga gim yang dipertandingkan dalam turnamen tersebut yakni Free Fire, Pro Evolution Soccer (PES), dan Fruit Dart dari MPL. Aby menjadi satu-satu peserta dari Indonesia yang berhasil juara dimana peserta Vietnam menguasai dua gimlainnya.

Aby mengakui, suksesnya tersebut tak lepas dari dukungan banyak pihak, mulai orang tua, saudara, sekolah dan lingkungannya. Dia berhasil menjadi juara buah hasil kesabaran dan konsistensi bermain game MPL untuk mencari pola permainannya. Kendati demikian, dirinya senantiasa membatasi untuk bermain game dan tidak melupakan tugas-tugas lainnya.

"Awalnya saya main gim mobile biasa. Di gim MPL ini, abang saya yang ngenalin, ternyata mengasyikkan. Kuncinya harus sering bermain untuk melatih kesabaran dan pola permainannya, tetapi jangan lupa waktu. Saya batasi bermain sehari dua sampai lima jam, diselingi waktu istirahat, belajar dan lainnya," ungkap Aby saat ditemui di bilangan Rawamangun, Jakarta Timur, Jumat (14/2/2020).

Aby Ramadhan Juarai MPL Piala Presiden Esports 2020

Dalam keseharian, Aby kerap mengingatkan teman-temannya yang tergabung dalam komunitas gamer, The Clay untuk tidak terlena dan membuang waktu. Walau sering main bareng (mabar), Aby meminta rekan-rekannya itu memanfaatkan waktu yang ada serta tidak melulu bermain gim.

"Saya suka ingatkan teman-teman The Clay untuk tidak melulu bermain gim dan ingat waktu Shalat misalnya. Akhirnya kami di dalam komunitas itu selain bermain bareng dalam gim, juga saling mengingatkan untuk memanfaatkan waktu yang ada," imbuhnya.

Dalam sekolah, anak ketiga dari tiga bersaudara pasangan Teddy Wijono dan Neneng Ratna Nengsih ini punya kemampuan akademis yang cukup baik. Kendati tidak menonjol, tetapi memiliki karakter pribadi yang ulet, bertanggung jawab, senantiasa mengikuti kegiatan sekolah dan tidak pernah membolos. Pihak sekolah pun bangga dengan prestasi yang diraih Aby dan berharap prestasi ini terus berlanjut.

"Saya turut bangga dengan prestasi yang diraih Aby di Piala Presiden Esports 2020. Kami dari pihak sekolah turut mendukung keberlangsungan prestasinya. Gim ini sangat positif melatih keterampilan otak dan strategi, karena strategi juga diperlukan dalam kehidupan sehari-hari. Kalau gim yang berdampak negatif, hendaknya dihindari saja," kata Etty Lismiati selalu wali kelas Aby.

Ramai dan Sportif, Menpora Acungkan Jempol untuk Piala Presiden Esports

Datang dari keluarga kurang mampu, Aby tumbuh berkembang di daerah pemukiman padat di Rawamangun. Sang ayah, Teddy adalah penjual mie ayam dan ibunya, Neneng bekerja serabutan di rumah makan Padang. Mereka tinggal di rumah petak berlantai dua dengan kamar terbatas dan dihuni tiga keluarga berjumlah 12 orang.

Kedua orang tuanya tidak menyangka, bungsu kelahiran 18 Oktober 2004 ini bisa berprestasi di event bergengsi dan membawa pulang hadiah utama Rp 125 juta. Selain Aby, abang sepupunya, Rama pun bertengger di posisi ketujuh dan membawa pulang Rp 4 juta. Dari catatan yang ada, Aby adalah peserta individual yang meraih hadiah dengan nominal terbesar. "Saya sebagai orang tua sangat bangga dengan prestasinya. Walau kalau lagi main gim suka saya marahin, suka diingetin, tetapi Aby nurut. Pokoknya jangan terlena aja sama main gim," kata Neneng.

Sedangkan sang ayah pun mengaku senang dengan kesuksesan anaknya. Dia pun hadir dalam perjalanan prestasi anaknya sejak dari babak regional barat di Bandung, hingga menuju grand final. "Saya lihat perjuangannya mulai dari Bandung hingga ke babak final. Gak nyangka dia bisa menang. Dan yang lebih tidak nyangka lagi, hadiahnya diniatkan untuk umrah orang tuanya," ujar Teddy sambil terharu.

Aby akui, selain mengumrahkan kedua orang tuanya, hadiah uang mau dibelikan sepeda motor untuk mobilitas keseharian bersekolah nanti di Sekolah Menengah Kejuruan yang menjadi pilihannya. Selain itu dibelikan handphone canggih untuk mendukung pelatihan dan selebihnya untuk ditabung. Soal masa depannya, Aby ingin menjadi gamer profesional dan bisa ikut dalam multi event seperti SEA Games serta kejuaraan bergengsi lainnya.

"Niatnya sih ingin jadi gamer profesional dan ikut SEA Games. Tapi tidak akan meninggalkan sekolah, karena itu yang utama," kata Aby mengakhiri pembicaraan.

Hadirnya Aby sebagai juara turnamen ssports bergengsi di Tanah Air, dengan latar belakang keluarga menengah ke bawah ini seakan menegaskan perwujudan misi MPL di Indonesia untuk mendemokratisasi esports bagi semua kalangan masyarakat di Indonesia. Ekosistem esports Tanah Air terus terbangun hingga mrmbentuk industri esports yang mampu memberi dampak positif terhadap ekonomi digital.



Sumber: BeritaSatu.com