Wabah Corona, Induk Cabor Bakal Revisi Program dan Anggaran Pelatnas

Wabah Corona, Induk Cabor Bakal Revisi Program dan Anggaran Pelatnas
Kunjungan Menpora Zainudin Amali ke pelatnas bulu tangkis di Cipayung, Jakarta, Kamis 6 Februari 2020. ( Foto: kemenpora.go.id )
Jaja Suteja / JAS Jumat, 3 April 2020 | 23:54 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Induk organisasi cabang olahraga (PP/PB) siap merevisi program dan dana pemusatan latihan nasional (Pelatnas) sebagai langkah efisiensi pengelolaan anggaran APBN, terkait pandemi virus corona (Covid-19) yang saat ini tengah berlangsung.

Mekanisme ini tertuang pada Keputusan Menteri Pemuda dan Olahraga No. 12 Tahun 2020 tentang Juknis Peningkatan Prestasi Olahraga Nasional (PPON). Kempora juga meminta agar induk cabor yang sudah menerima tahap satu sebesar 70 persen dari total bantuan agar bisa mengoptimalkan dana pelatanas tersebut hingga Desember 2020.

Menanggapi hal ini, Sekjen Pengurus Pusat Federasi Panjat Tebing Indonesia (PP FPTI), Sapto Hardiono mengatakan siap melakukan perubahan program dan penyisihan dana pelatnas. Namun hal itu akan dikomunikasikan lebih dalam dengan Kempora untuk bisa mengubah nota kesepahaman (MoU) yang telah ditandatangani sebelumnya.

“Besok Sabtu dan Minggu kami kumpul dan akan rapat virtual internal dahulu menyikapi hal ini. Setelah itu baru akan kami kirimkan ke Kempora hasilnya,” katanya ketika dihubungi Jumat (3/4/2020).

Sapto mengaku saat ini status FPTI desentralisasi dengan membubarkan pelatnas sementara waktu dan dan memulangkan atlet ke daerahnya masing-masing. Jadi para atlet hanya olahraga ringan dan berkegiatan di rumah saja.

“Sejak ada edaran dari Kempora kami langsung lakukan. Latihan fisik atlet dimaksimalkan di rumah dan tidak ada kegiatan panjat-panjat dahulu karena risiko tertular di outdoor lebih tinggi dan tidak sarankan latihan di luar,” urai dia.

Ketua Umum Pengurus Pusat Persatuan Tenis Seluruh Indonesia (PP Pelti), Rildo Ananda Anwar juga mengaku siap mengubah program dan dana pelatnas. Pihaknya pun langsung berkoordinasi.

“Program try out dan training camp tahun ini tak ada. Jadi kami susun kembali pada rapat Senin besok. Sementara untuk pelatnas tetap jalan di Stadion Tenis GBK, karena tak mungkin para atlet tidak latihan karena proses pemulihannya bisa lama kembali. Jadi atlet tenis baik putra maupun putri tetap latihan secara hati-hati juga di situasi seperti sekarang ini,” jelas dia.

Terkait anggaran 70 persen hingga akhir tahun 2020 dan dimaksimalkan, Rildo menilai cukup. Hal itu dikarenakan pemakaian dana terbesar ada pada try out keluar negeri yang menghabiskan untuk tiket, akomodasi dan lainnya.

“Kalau di pelatnas ini kan hanya memenuhi makanan sesuai standar gizi, peralatan dan itu saya monitor terus di lapangan. Jadi di tenis ini tak ada pemulangan atlet ke daerahnya, karena tak mungkin atlet tenis berlatih di rumah,” urai Rildo.

Sekjen Pengurus Pusat Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PP PBSI), Achmad Budiharto mengatakan mendukung langkah pemerintah terkait perubahan tersebut. Namun PBSI masih menunggu jadwal kalender dari Federasi Bulutangkis Dunia (BWF).

“Kalau sudah keluar jadwal dari BWF, baru kami akan segera revisi program dan dana pelatnas yang kami terima dan menyerahkannya pada Kempora. Jadi dari jadwal 15 April paling lambat diundur hingga Mei. Begitu juga cabor lain yang menunggu federasi internasionalnya masing-masing,” ujarnya.

Ketentuan ini dinilai bisa dipahami pihak pemerintah dalam hal ini Kempora, karena cabor juga mempunyai keterikatan dengan lembaga internasionalnya.

“Untuk masalah anggaran 70 persen, PBSI tidak terlalu tergantung walaupun dana itu cukup membantu karena kami sudah membuat anggaran sendiri. Tapi kalau bisa dimanfaatkan hingga 100 persen akan lebih baik lagi,” ucap dia.

Sesmenpora Gatot Dewa Broto mengatakan Kempora memastikan anggaran termin kedua sebesar 30 persen dari total yang disepakati pemerintah dengan pengurus cabor, tidak akan dicairkan.

Keputusan ini terpaksa diambil karena pemerintah pusat membutuhkan tambahan anggaran untuk menanggulangi pandemi virus corona (Covid-19) di Indonesia.

"Untuk cabor yang sudah menerima 70 persen anggaran, saya berharap bisa dioptimalkan sebab yang 30 persen sisanya akan kami alihkan untuk penanggulangan wabah Covid-19," ujarnya ketika dihubungi.

Sedangkan untuk cabor yang belum mendapatkan anggaran, Kempora segera melakukan pencairan. Namun, tetap sesuai mekanisme administrasi yang berlaku. Selain itu, cabor yang dapat bantuan dari daerah untuk melapor ke Kempora. Ini terkait partisipasi atlet nasional di Pekan Olahraga Nasional (PON) 2020 Papua.

Ia pun memerintahkan cabor untuk segera mengajukan revisi penggunaan anggaran. Pasalnya, anggaran untuk kualifikasi Olimpiade banyak yang terpakai lantaran batalnya berbagai turnamen akibat Covid-19. Untuk itu, dana tersebut tentunya harus dialihkan buat kebutuhan lain. Misalnya saja gaji dan akomodasi atlet.

"Anggaran yang ada, tidak bisa dialihkan begitu saja. Sebab, kalau begitu, tentu bisa menjadi temuan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) karena menggunakan dana tak sesuai peruntukan,” ungkap dia.

Lebih lanjut, pengajuan pengalihan anggaran akan dikaji Kempora. Jika nantinya dianggap perlu, Kemenpora bakal turut melibatkan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP).

Kempora sebelumnya telah menggelontorkan total dana fasilitas pelatnas Olimpiade 2020 Tokyo sebesar Rp161,5 miliar, dengan rincian Rp86,2 miliar untuk cabor, dan Rp 75,3 miliar untuk NPC.

Induk organisasi olahraga yang sudah menanda tangani MoU dana pelatnas adalah PBSI (bulutangkis), PABSI (angkat besi), PBVSI (bola voli), PB ISSI (balap sepeda), Pelti (tenis), Perbakin (menembak), PBTI (taekwondo), PB Pertina (tinju), FPTI (panjat tebing), PSOI (selancar ombak), PODSI (dayung), dan NPC (paralimpiade).

Sementara empat induk cabang yang belum menerima dana pelatnas, yaitu PASI (atletik), Porserosi (sepatu roda), PRSI (renang), dan Perpani (panahan) masih harus melewati proses review. Penyalurannya akan dilakukan sesuai peraturan dan mekanisme yang berlaku. 

 



Sumber: BeritaSatu.com