KOI Libatkan Cabor Susun Protokol Olahraga

KOI Libatkan Cabor Susun Protokol Olahraga
Menpora Zainudin Amali (kanan) dan Ketua Komite Olimpiade Indonesia, Raja Sapta Oktohari. (Foto: ANTARA)
Hendro D Situmorang / JAS Selasa, 9 Juni 2020 | 14:40 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Komite Olimpiade Indonesia (KOI) melibatkan seluruh induk cabang olahraga (cabor) yang terdaftar sebagai anggota menyusun protokol keolahragaan Indonesia jelang pemberlakuan normal baru atau new normal. Masukan PB/PP dinilai penting karena masing-masing cabor memiliki kebutuhan berbeda-beda dalam menggelar latihan.

Ketua Komite Olimpiade Internasional (KOI), Raja Sapta Oktohari, mengatakan metode ini digunakan sebab setiap cabor memiliki keunikannya sendiri. Ia berharap nantinya protokol keolahragaan Indonesia yang disusun sesuai standar dan bisa diaplikasikan dengan baik.

"Kami masih meminta masukan dari cabang olahraga untuk nanti kami kompilasi dan kategorikan agar bisa menjadi rekomendasi resmi dari KOI kepada pemerintah untuk memulai kembali olahraga nasional. KOI memberi waktu selama dua pekan ke depan untuk menyusun protokol kesehatan saat kembali menggelar latihan di era kenormalan baru (new normal) setelah pandemi," kata Raja Sapta Oktohari dalam telekonferensi pers usai Rapat Anggota Luar Biasa (RALB) di Jakarta, Senin (8/6/2020) malam.

Raja Sapta Oktohari juga meminta setiap cabor (PB/PP) untuk meminta rekomendasi dari federasi internasional masing-masing terkait dengan protokol kesehatan dalam menggelar baik latihan maupun pertandingan di fase kenormalan baru. Nantinya semua dikomparasikan untuk menyusun protokol kesehatan olahraga yang dibuat pemerintah.

Masukan tersebut harus disampaikan dalam bentuk laporan komprehensif dengan tetap mengacu kepada protokol resmi yang sudah ditetapkan masing-masing federasi internasionalnya. Laporan yang diminta tidak hanya membahas program latihan, tetapi juga termasuk di dalamnya pelaksanaan dan teknis pelatihan serta tata kelola venue.

Lima cabang olahraga telah memberikan masukan secara lisan dalam rapat anggota luar biasa tersebut, di antaranya atletik, panahan, dan taekwondo.

Namun Raja Sapta Oktohari enggan menjelaskan lebih detail terkait prosedur dan tata cara yang sudah disampaikan oleh cabang-cabang tersebut, sebab KOI ingin menerima semua masukan secara resmi sehingga tidak menghasilkan rujukan yang bersifat parsial.

Apabila masukan sudah terkumpul dan disepakati oleh seluruh cabang olahraga, KOI selanjutnya akan membuat kompilasi dan kategorisasi untuk disusun menjadi sebuah draf protokol sebelum disampaikan kepada kementerian Pemuda dan Olahraga (Kempora).

Protokol tersebut, kata Raja Sapta Oktohari, nantinya tidak hanya akan menjadi acuan pelaksanaan latihan di era kenormalan baru, tetapi juga menjadi pegangan bagi setiap cabang olahraga saat mengikuti kejuaraan maupun menjadi tuan rumah penyelenggaraan turnamen.

"Protokol ini bukan sekadar untuk melaksanakan proses latihan, tapi juga untuk kita ketika ke kejuaraan dan saat menjadi tuan rumah kejuaraan," ujar Raja Sapta Oktohari.

Menurutnya Komite Olimpiade Internasional (IOC) sudah mengeluarkan protokol kesehatan sebagai acuan negara anggota, sehingga memungkinkan ada klasifikasi. Pelaksanaannya bisa sama, bisa juga beda.

Kempora hingga kini masih mematangkan draf protokol yang bisa mengakomodir percepatan pelatnas dalam menghadapi pesta olahraga yang padat di 2021. Dimulainya kembali kegiatan olahraga dinilai penting mengingat ada sejumlah kompetisi internasional yang dijadwalkan bergulir pada paruh kedua tahun ini. Selain itu, atlet perlu menjaga performa untuk bisa mendapatkan tiket masuk Olimpiade 2020.

Menteri Pemuda dan Olahraga, Zainudin Amali mengatakan pihaknya sudah berdiskusi dengan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Pusat dan KOI dalam merumuskan protokol tersebut.

Salah satu induk cabang yang akan langsung meminta rekomendasi dari federasi internasional mereka ialah Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI).

Sekjen PBSI Achmad Budiharto mengatakan pihaknya akan meminta arahan dari federasi internasional bulutangkis, BWF. Menurut Achmad, BWF akan memutuskan soal protokol kesehatan atlet pada 3 Juli mendatang. Meski demikian, saat ini atlet-atlet PBSI yang menghuni asrama di Cipayung, Jakarta, sudah menerapkan protokol kesehatan saat menjalani latihan.

“Kami sudah lakukan karantina atlet. Mereka rutin cek suhu kemudian kami juga telah melakukan tes virus korona (covid-19) untuk para atlet, pelatih, dan juga karyawan di (asrama) Cipayung,” jelasnya.



Sumber: BeritaSatu.com