Copyright © 2023 BeritaSatu
Allright Reserved

Agar Pasar Bebas Kantong Plastik, Ini Upaya Unik GIDKP

Kamis, 1 Desember 2022 | 09:04 WIB
Oleh : Maria Fatima Bona / YUD
Diskusi bertajuk; “Pembelajaran program Pasar Bebas Plastik melalui Pendekatan Keagamaan,” di Fx Sudirman, Jakarta, Rabu 30 November 2022.

Jakarta, Beritasatu.com – Guna mengubah perilaku pengggunaan kantong plastik sekali pakai di pasar tradisional, Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik (GIDKP) menawarkan strategi baru, yakni melalui pendekatan agama, agar pasar bisa bebas kantong plastik.

Zakiyus Shadicky Sipisang, Insights and Engagement Officer Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik mengatakan, memilih fokus terhadap pengurangan penggunaan sampah plastik di pasar tradisional karena GIDKP menilai pasar tradisional belum mendapat perhatian. Berbeda dengan pasar modern yang telah ada aturan khusus untuk pengurangan penggunaan kantong plastik sekali pakai.

“Memilih pendekatan agama, karena ternyata dalam agama secara umum mengajak untuk menjaga lingkungan,” ucapnya pada acara diskusi bertajuk; “Pembelajaran program Pasar Bebas Plastik melalui Pendekatan Keagamaan,” di Fx Sudirman, Jakarta, Rabu (30/11/2022).

Zakiyus menuturkan, pendekatan keagamaan ini dilakukan GIDKP di Pasar Tebet Barat dengan menggandeng Lembaga Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana (LLHPB) Pimpinan Pusat Aisyiyah dan Pemerintah Provinsi (Pemprov).

Melalui pendekatan keagamaan, Zakiyus menuturkan, program ini juga sudah melakukan berbagai kegiatan yang melibatkan pedagang, konsumen, dan masyarakat di sekitar Pasar Tebet Barat. Beberapa kegiatan baru yang dilakukan adalah pengadaan dropbox peminjaman kantong belanja untuk konsumen dan aktivitas bersama DKM Pasar Tebet Barat, seperti tafsir Alquran, pembagian risalah Jumat, khotbah Jumat, dan lain sebagainya.

Adapun pencapaian dari kegiatan tersebut, kata Zakiyus, yakni semakin menurunnya jumlah kios yang tidak menyediakan kantong plastik. Bahkan pada uji coba pertama tahun 2021 turun sebesar 57%. Tahun ini, terdapat tambahan penurunan jumlah kios menyediakan kantong plastik sekitar 17%.

Selain itu, pedagang menunjukkan sikap dan motivasi yang tergolong tinggi dalam mengurangi plastik sekali pakai. “Hal ini terjadi pada seluruh aspek, mulai dari alasan perbaikan lingkungan, petunjuk dari ustaz atau guru agama, serta yang berasal dari ajaran agama,” ucapnya.

Ia menuturkan, tidak hanya pedagang dan konsumen, masyarakat sekitar juga dilibatkan dalam program kali ini. Selanjutnya, Zakiyus menuturkan, menggunakan strategi pendekatan keagamaan karena berangkat dari pemikiran ilmuwan asal Columbia University, Gus Speth yang mengatakan bahwa masalah lingkungan terutama disebabkan karena keegoisan, keserakahan, dan sikap apatis dan untuk menghadapinya kita membutuhkan transformasi budaya dan spiritual.

Oleh karena itu, kolaborasi GIDKP dan LLHPB PP Aisyiyah dengan Pemprov DKI Jakarta yang didukung oleh Deutsche Gesselschaft fur Internationale Zusammenarbeit (GIZ) Jerman melalui program Religious Matters bertujuan untuk mendorong perubahan perilaku pada program pasar bebas plastik melalui pendekatan agama.

Sementara itu, Rahyang Nusantara selaku Koordinator Nasional GIDKP menambahkan, program perubahan perilaku pada program pasar bebas plastik melalui pendekatan agama Islam dengan menyesuaikan dengan situasi dan kondisi masyarakat sekitar Pasar Tebet Barat.

“Karena penduduk Indonesia mayoritas Muslim dan kerja sama kami dengan LLHPB PP Aisyiyah juga sangat tepat karena mereka merupakan bagian dari organisasi Islam terbesar di Indonesia. Melalui kerja sama ini, kami berupaya untuk mengangkat pesan terkait kampanye bebas plastik dalam setiap kegiatan dengan nilai-nilai keislaman yang tidak kami lakukan pada program sebelumnya di tahun 2019,” ujar Rahyang.

Sementara itu, Hening Parlan, Ketua Divisi Lingkungan Hidup LLHPB PP Aisyiyah mengatakan, masalah kerusakan iklim ini saja tidak bisa hanya diselesaikan dengan pendekatan sains. Menurutnya, berperan untuk menjaga bumi dari kerusakan iklim dapat melalui pendekatan spiritualitas atau dengan pendekatan agama.

“Dalam Islam juga sudah diajarkan bahwa kebersihan merupakan sebagian dari iman. Jadi, ketika penggunaan plastik sekali pakai yang berujung nyampah itu bisa mengotori bumi kita, maka kalau kita menggunakannya kita termasuk kaum yang tidak beriman,” ucapnya.

Hening menuturkan, pendekatan agama yang dilakukan pada konsumen dan pedagang yang ada di Pasar Tebet Barat ini juga aktif dalam kajian yang diadakan di masjid yang ada di dekat Pasar Tebet Barat.

“Jadi saya rasa ini merupakan kolaborasi yang benar-benar tepat untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terkait bahaya plastik sekali pakai dalam sudut pandang keagamaan,” pungkasnya.



Saksikan live streaming program-program BTV di sini

Sumber: BeritaSatu.com


BERITA LAINNYA












BERITA TERPOPULER


#1

#2

#3

#4

#5

#6

#7

#8

#9

#10

TERKINI