Perjalanan Karier Efek Rumah Kaca, Band Indie Penyuara Isu Sosial
Jakarta, Beritasatu.com - Salah satu grup band papan atas Indonesia, Efek Rumah Kaca (ERK) tentu tidak asing lagi di telinga pecinta musik tanah air, khususnya di kalangan musisi independen.
Bahkan kiprah ERK menembus pasar luar negeri, membuktikan musisi indie Indonesia juga patut dibanggakan.
Mulanya, Cholil Mahmud bersama Adrian Yunan Faisal, Hendra dan Sita membuat sebuah band. Akbar Bagus Sudibyo baru ikut masuk setelah diperkenalkan oleh teman mereka. Dua tahun kemudian, Hendra dan Sita keluar dari band karena kesibukkan masing-masing.
Sekarang formasi lengkap personel ERK yaitu Choili Mahmud pada vokali dan gitar., Akbar Bagus pada drum, Poppie Airil pada bass, dan Reza Ryan pada gitar.
Perjalanan karier ERK dimulai pada tahun 2001. Band ini awalnya bernama Hush kemudian pernah juga berganti menjadi nama Superego. Barulah pada 2007, band ini berganti nama menjadi Efek Rumah Kaca bersamaan dengan peluncuran album pertamanya.
Menurut pengakuan sang vokalis, ternyata menjadi musisi indie bukan rencana awal dari band ini. Pada pembuatan album pertamanya, ERK juga mencoba mengirimkan demo musik mereka ke berbagai label-label mainstream. Tetapi, upaya mereka bergabung dengan label berujung penolakan. Penolakan tersebut membuat mereka harus bermusik secara mandiri.
Namun, berkarier secara independen adalah jalan ERK dapat menembus industri musik tanah air. Karakter musik ERK banyak terinspirasi dari musik bergender alternative rock seperti The Smashing Pumpkins, R.E.M, The Smiths, Jeff Buckley, Jon Anderson, dan Radio head.
Selain itu, band ini terkenal dengan lagu-lagunya yang menyuarakan kritikan tentang kehidupan sosial. Lirik-lirik dalam lagunya kental dengan isu sosial, kultur, kehidupan dan politik.
Misalnya, lagu berjudul “Hilang” menyoroti cerita kelam atas hilangnya aktivis Indonesia. Kemudian, lagu “Efek Rumah Kaca” yang mengkritik perbuatan manusia yang merugikan alam dan lingkungan.
Lagu Efek Rumah Kaca juga berhasil mendapatkan berbagai apresiasi dari berbagai pihak. Band asal Jakarta ini telah meraih berbagai penghargaan, diantaranya Indonesia Cutting Edge Music Award The Best Album 2010 untuk album Kamar Gelap, Rolling Stone Indonesia “Rookie of the year” (2008), dan MTV Indonesia Award 2008 “The Best Cutting Edge” (2008).
Band asal Jakarta ini sudah terjun ke industri musik tanah air selama 22 tahun dan telah merilis empat album yaitu Efek Rumah Kaca (2007), Kamar Gelap (2008). Sinestesia (2015) dan beberapa waktu lalu baru dirilis bertajuk Rimpang (2023). Beberapa karyanya yang terkenal adalah Cinta Melulu, Jatuh Cinta Itu Biasa Saja, Desember, Di Udara, dan Pasar Bisa Diciptakan.
Sumber: BeritaSatu.com
Saksikan live streaming program-program BTV di sini
Bagikan