Logo BeritaSatu

Rima Ginanjar: Green Architects, Solusi Tekan Emisi Karbon

Jumat, 5 Agustus 2022 | 06:50 WIB
Oleh : Yudo Dahono / YUD

Jakarta, Beritasatu.com - Rima Ginanjar mengungkapkan bahwa green architects atau arsitektur hijau merupakan solusi untuk mengatasi emisi karbon.

Diketahui pada saat ini, tren bangunan gedung ramah lingkungan berkelanjutan semakin familar di dunia konstruksi Indonesia. Kesadaran pembangunan berkelanjutan untuk menjaga ekosistem lingkungan dengan jejak karbon minimum menjadi komitmen pemerintah di berbagai negara.

Perserikatan Bangsa-Bangsa, melalui Komisi Brundtland pada tahun 1987 mendefiniskan pembangunan berkelanjutan sebagai “pembangunan yang dapat memenuhi kebutuhan generasi saat ini dengan tidak mengganggu kemampuan generasi masa depan untuk memenuhi kebutuhannya”. Lalu, bagaimana penerapannya di Indonesia? CEO of Rima Ginanjar Architects, Rima Ginanjar, menyampaikan pandangannya bahwa arsitektur memiliki peran penting untuk menjaga ekosistem lingkungan.

"Selama ini, jejak karbon menjadi tolak ukur industri apakah ramah lingkungan atau tidak. Masyarakat secara umum melihat jejak karbon yang dihasilkan oleh industri transportasi sebagai penyumbang terbesar jejak karbon namun disisi lain dari disiplin ilmu arsitektur yang saya geluti, kontribusi emisi karbon dari gedung dan bangunan sebesar 40 persen. Tentunya ini menjadi angka yang bisa ditekan dalam konteks mengurangi jejak karbon untuk pembangunan berkelanjutan," kata Rima Ginanjar melalui keterangan, Jumat (5/8/2022)

Menyelesaikan pendidikan di jurusan Architecture, Curtin University, Australia dan magister jurusan Sustainable Environmental Design in Architecture, University of Liverpool, Inggris membuat Rima Ginanjar memiliki perspektif luas tentang green architects. Putri pendiri ESQ Group Ary Ginanjar Agustian ini mendirikan perusahan bernama ‘Rima Ginanjar Architects’ sejak 2018, yang bergerak dalam bidang arsitektur hijau dengan konsep ‘low carbon design’ atau desain rendah karbon yang menerapkan prinsip dan keilmuan yang digelutinya selama ini.

Kepada pewarta, Rima Ginanjar mencontohkan penggunaan bahan-bahan sisa peleburan logam dapat digunakan untuk memperkuat konstruksi bangunan. Dalam skala tertentu, limbah pengecoran logam dapat dimanfaatkan sebagai penguat struktur beton.

Tak hanya sisa pengecoran logam, bambu yang dapat menjadi pilihan konstruksi dengan zero carbon. "Dalam konteks menuju zero carbon, pemilihan bahan konstruksi yang dekat dengan lokasi pembangunan sehingga jejak karbon transportasi dan pengolahan dapat berkurang."

"Kami di perusahaan Rima Ginanjar Architects mempunyai program corporate social responsibility merenovasi rumah menggunakan bahan-bahan yang ramah lingkungan misalnya menggunakan bambu. Bambu ini dengan pengolahan yang tepat dapat bertahan hingga lima puluh tahun," ujarnya.

Rima Ginanjar menambahkan, tentu saja seorang arsitek tidak bisa bekerja seorang diri dalam mengimplemetasikan green architects dengan konsep low carbon design. "Perlu kerja sama yang baik dengan berbagai pihak dalam rancang bangun gedung," imbuhnya.

Green Architects di Rumah Tangga
Green architects tak hanya menjadi jargon dalam pembangunan gedung bertingkat atau pusat perbelanjaan. Menurut Rima Ginanjar, prinsip-prinsip green architects dapat pula diterapkan dalam rumah tangga.

"Pada rumah tangga contohnya, bisa dilakukan dengan mengganti pencahayaan dengan lampu LED. Menggunakan lampu LED menghemat hingga 80 persen energi listrik dan lebih tahan lama dibandingkan bola lampu tradisional," ujarnya.

Ia pun menyoroti maraknya pembangunan hunian dengan fasad yang kurang cocok dengan lingkugan tropis. Penggunaan kaca dan material besi pada rumah menurutnya memerangkap udara panas dalam rumah. Salah kaprah kedua, untuk mengatasi panas dalam rumah maka ditambahkan air conditioner (AC) yang tentu menggunakan energi listrik yang menambah pengeluaran rumah tangga.

"Secara sederhananya begini, konsep bangunan di negara empat musim bagaimana membuat ruangan tetap hangat saat musim dingin. Sementara di negara tropis, membuat ruangan tetap dingin saat musim kemarau," ujarnya.

Bila diperhatikan arsitektur rumah atau bangunan arsitektur era kolonial Belanda biasanya terasa lebih sejuk dan dingin meski tidak pakai AC. "Penggunaan material bangunan, seperti bata yang tebal dan pemasangan sudut atap yang tinggi membuat ruang udara di bawah atap mampu meredam panas dari atap, sehingga kondisi di bawahnya tetap sejuk. Ditambah lubang sirkulasi yang baik membuat rumah atau bangunan menjadi lebih sedikit menggunakan energi listrik," ujarnya.

Begitu juga yang terjadi pada rumah dengan beberapa lantai. Tren penggunaan material kaca untuk memberi kesan mewah berdampak pada panas yang terperangkap dalam ruangan. Selubung kaca memang memberikan kesan mewah dan elegan namun jika bahan penutup yang digunakan adalah dari bahan sembarangan maka bukan hanya cahaya matahari yang masuk ke dalam bangunan namun juga panas matahari yang suhunya bisa berlipat-lipat.

Baca selanjutnya
"Kembali lagi pada yang tadi dibahas, tentu suhu panas yang terperangkap ...


hal 1 dari 2 halaman

Halaman: 12selengkapnya

Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: BeritaSatu.com

BAGIKAN

BERITA LAINNYA

Wujudkan Pernikahan Impian dengan 3 Langkah Praktis Ini

Pernikahan membutuhkan banyak persiapan dari menentukan konsep, kapasitas undangan hingga perencanaan keuangan.

LIFESTYLE | 6 Oktober 2022

Bantah KDRT, Rizky Billar Beberkan Kronologi Pertengkarannya

Rizky Billar menyatakan tidak ada tindakan kekerasan dalam dua peristiwa yang dilaporkan Lesti Kejora.

LIFESTYLE | 6 Oktober 2022

Kuningan City Mall Akan Gelar Jakarta Kulinary Edition

Kuningan City Mall kembali menghadirkan program kuliner yang dikemas dalam Jakarta Kulinary Edition dengan mengusung tema Delicious Culinary.

LIFESTYLE | 6 Oktober 2022

Kolaborasi Yupi dan Exsport Hasilkan Tas yang Colorful

Koleksi tas hasil kolaborasi Yupi dan Exsport diproduksi secara terbatas atau limited edition, serta eksklusif diluncurkan di marketplace Tokopedia.

LIFESTYLE | 6 Oktober 2022

Tayang Hari Ini, Film Pamali Uji Nyali Penonton Bioskop

Film Pamali yang mengangkat unsur budaya dan kepercayaan masyarakat, mulai ditayangkan serentak di bioskop tanah air, Kamis (6/10/2022).

LIFESTYLE | 6 Oktober 2022

Unggah Wajah Tanpa Riasan, Brisia Jodie Malah Kena Bully

Penyanyi kondang Brisia Jodie kena bully oleh warganet lantaran mengunggah foto dirinya yang tanpa memakai perias wajah.

LIFESTYLE | 6 Oktober 2022

Afgan hingga Tipe-X Bakal Meriahkan Konser Akurat Artikulasi Festival

Musisi  Afgan, Tipe-X, Fabio Asher, dan lainnya bakal meriahkan konser Akurat Artikulasi Festival 2022 yang akan digelar di Senayan.

LIFESTYLE | 6 Oktober 2022

Crayon Shinchan 3 Dekade, Komik Indonesia Gelar Kolaborasi

Karakter web komik lokal Tahilalats menggelar kolaborasi dengan tokoh kartun ikonik asal Jepang, Crayon Shinchan yang merayakan eksistensi tiga dekade 

LIFESTYLE | 6 Oktober 2022

Platform Edukasi Bantu Tingkatkan Kemampuan Bahasa Inggris

Seiring kemajuan teknologi, belajar bahasa Inggris tidak lagi sulit. Terlebih, banyak platform edukasi menyediakan kursus bahasa Inggris yang mudah diakses.

LIFESTYLE | 6 Oktober 2022

Toko Kue Ruben Onsu Dirampok, Ini Penampakan Pelakunya

Artis Ruben Onsu kini tengah tertimpa musibah, lantaran toko kue miliknya bernama Thabenia dan Mie Gerobak di Cilandak Jakarta Selatan.

LIFESTYLE | 6 Oktober 2022


TAG POPULER

# Jokowi tak salami kapolri


# Banjir Jakarta


# MTsN 19 Jakarta


# Tersangka Tragedi Kanjuruhan


# Mamat Alkatiri


 

NEWSLETTER

Dapatkan informasi terbaru dari kami
Email yang Anda masukkan tidak valid.

TERKINI
Jayamas Medica Lepas 15% Saham ke Publik, Cek Jadwalnya

Jayamas Medica Lepas 15% Saham ke Publik, Cek Jadwalnya

EKONOMI | 5 menit yang lalu










CONTACT US Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings