Copyright © 2022 BeritaSatu
Allright Reserved

Pahami Rumus Etis Menjaga Jejak Digital

Sabtu, 24 September 2022 | 21:47 WIB
Oleh : Iman Rahman Cahyadi / CAH
ilustrasi Internet

Lombok Tengah, Beritasatu.com – Saat bersentuhan dengan internet dan media digital, sadar atau tidak, kita akan meninggalkan jejak digital. Akumulasi jejak digital dapat memberikan gambaran digital penggunanya. Meskipun tidak utuh, namun gambaran digital tersebut akan diingat oleh orang lain.

”Jejak digital akan diingat dengan baik oleh orang yang kita kenal maupun tidak, baik dalam waktu singkat maupun panjang,” ujar pengajar Departemen Ilmu Komunikasi Fisipol UGM Novi Kurnia, pada webinar ”Indonesia Makin Cakap Digital” yang digelar Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) RI untuk komunitas digital di wilayah Bali - Nusa Tenggara, Sabtu (24/9/2022).

Novi menyatakan, jejak digital secara umum adalah jejak data yang dibuat dan ditinggalkan saat menggunakan perangkat digital. Jejak digital juga mempunyai banyak bentuk, mudah dibagikan dengan cepat, dan berisiko dimanfaatkan secara negatif.

”Jejak digital bersifat abadi, tidak bisa dihilangkan karena bisa didokumentasikan dan dipanggil kembali, dan dapat berubah dalam bentuk lain, misal dari foto menjadi video atau sebaliknya,” kata Novi pada webinar yang juga diikuti secara nobar oleh beberapa komunitas digital di Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Jejak digital, lanjut Novi, juga merupakan profil ”surat kelakuan baik” dan reputasi seumur hidup. Rekam jejak digital pribadi memiliki arti sangat penting, baik secara profesional (pekerjaan, pendidikan, bermasyarakat), maupun secara personal (keluarga, cinta, persahabatan).

Beberapa jejak digital yang sering ditinggalkan pengguna media digital, di antaranya riwayat pencarian, pesan teks, foto dan video, interaksi di media sosial, maupun lokasi kunjungan. ”Ingat, jejak digital selalu masih tersimpan meskipun telah kita hapus,” tandas Novi dalam diskusi virtual bertajuk ”Hati-hati Rekam Jejak Digital”.

Koordinator Nasional Jaringan Pegiat Literasi Digital (Japelidi) itu berharap, para pengguna media digital mau menjaga jejak digitalnya. Rumus etis menjaga jejak digital, menurut Novi, yakni sopan berperilaku dan bertutur kata (etiket), hargai perbedaan dan empati (toleransi).

”Selanjutnya, berbagi konten positif (interaksi), serta bersama-sama menciptakan ruang digital yang etis (sinergis),” pungkas Novi Kurnia.

Dari perspektif keamanan digital (digital safety), Ketua Ikatan Guru TIK PB PGRI Fajar Tri Laksono menambahkan, keamanan digital merupakan sebuah proses untuk memastikan penggunaan layanan digital, baik secara daring maupun luring, dapat dilakukan secara aman.

Keamanan digital, menurut Fajar, meliputi tindakan mengamankan perangkat digital, identitas digital, mewaspadai penipuan digital, memahami rekam jejak digital, dan memahami keamanan digital bagi anak.

”Data digital adalah identitas seseorang sebagai pengguna platform media digital yang bersifat privasi. Perlu perlindungan identitas digital (baik terlihat maupun tidak terlihat), keamanan data, serta data pribadi,” jelas Fajar.

Tips aman di dunia digital, imbuh Fajar, yakni mengelola password, pahami privasi, lindungi data, hindari berbagi data orang lain, jangan gunakan Wifi publik jika akan mengunggah data penting, hindari software bajakan dan selalu update antivirus, serta waspada penipuan di ruang digital.



Saksikan live streaming program-program BTV di sini

Sumber: BeritaSatu.com


BERITA TERKAIT



BERITA LAINNYA












BERITA TERPOPULER


#1

#2

#3

#4

#5

#6

#7

#8

#9

#10

TERKINI