Copyright © 2022 BeritaSatu
Allright Reserved

Amygdala Hijack, Penyebab Rizky Tega Cekik dan Banting Lesti

Sabtu, 1 Oktober 2022 | 14:58 WIB
Oleh : Yudo Dahono / YUD
Rizky Billar dan Lesti Kejora.

Jakarta, Beritasatu.com - Amygdala hijack merupakan reaksi reaktif yang diproses otak karena timbunan beban emosi yang menyebabkan seorang suami seperti Rizky Billar tega mencekik dan membanting istrinya Lesti Kejora.

Diketahui, publik pada saat ini tengah dihebohkan dengan kasus dugaan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) antara Lesti Kejora dan Rizky Billar. Pasangan yang baru genap setahun resmi menikah 19 Agustus 2021 ini menambah daftar panjang kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang terjadi di kalangan artis dan selebritis.

Bagaimana tidak heboh? Keduanya seringkali tampil di hadapan para followers-nya sebagai pasangan romantis, cantik, ganteng, kaya raya, dan popular. Tiba-tiba tersiar kabar penyanyi dangdut ini melaporkan suaminya sendiri Rizky Billar ke polisi atas dugaan KDRT, antara lain dicekik dan dibanting suaminya.

Mengapa seseorang bisa terdorong menyakiti orang lain atau pasangan hidupnya? “Ini adalah respon otomatis seseorang yang menimbun beban emosi di benak bawah sadarnya dalam waktu sangat lama,” ujar Mind Technology Expert (Pakar Teknologi Pikiran) Coach Rheo, melalui keterangan tertulis, Sabtu (1/10/2022).

Timbunan beban emosi tersebut, lanjut Coach Rheo, menciptakan reaksi reaktif yang diproses oleh bagian dari amygdalapada otak.

“Istilah ini sering disebut Amygdala Hijack,” kata pencipta metode DOA-TRTO (Divine Oracular Assistance - Tension Releasing Technique Online) yang banyak berhasil membantu membuang beban emosi ini.

Coach Rheo memberikan analogi seperti orang yang tengah mabuk beban emosi mengambil alih kesadarannya. Memengaruhi peranan otak neocortex (pusat pikiran rasional).

“Sehingga sering digambarkan seperti gelap mata. Sejenak seperti bukan kita. Itulah saat beban emosi menghampiri kita, dan mengambil alih semuanya,” ujarnya.

Dalam kehidupan sehari-hari, kata Coach Rheo, hal ini banyak terjadi. Misalnya ketika melihat papan diskon langsung tergerak untuk berbelanja. Atau menghadapi anak nakal langsung mau marah. Atau respons sederhana tersinggung ketika ada orang mengambil atau memotong jalur di saat sedang berkendara di jalan raya.

Faktor ini menurut Coach Rheo, penyebabnya sangat banyak. Di satu sisi kita begitu menyayangi dan mencintai anak, tapi di saat yang lain dapat marah meledak.

“Marah meledak kita seakan lupa semua cinta itu. Kita seperti menjadi Hulk yang hijau, besar mengamuk. Tapi setelahnya kembali tersadar. Akhirnya menyesali perbuatan kita,” ujar pakar yang kini mengadakan kelas netralisasi ‘The Art of Living’ ; Seni Menciptakan Kehidupan Tanpa Batasan ini.

Apa faktor penyebabnya? Menurut Coach Rheo sangat bervariasi. Tergantung pengalaman di masa lalu yang membentuk model dunia internal dalam pikiran.

Semisal, sejak kecil kerap diberi pemahaman jika laki-laki harus dihormati. Laki-laki adalah kepala keluarga. Laki-laki tidak boleh direndahkan, dan lain sebagaimya.

“Ini menjadi pesan dan nasihat turun-temurun. Ditanamkan dari lingkungan dan disetujui sebagai kebenaran massal di banyak kebudayaan,” paparnya.

Maka ketika hal tersebut disinggung sering menimbulkan ledakan respons luar biasa, dan tidak terkendali. Makna internal bawah sadar inilah yang sebenarnya menjadi beban dalam diri kita.

“Kita tidak memahami bagaimana sesungguhnya beban ini bekerja dalam diri kita. Kita seringkali kecolongan ketika terpicu oleh peristiwa di sekeliling kita,” ungkap motivator yang mendapat pengakuan sebagai Trainer, dan NLP Meta Master Practitioner of Neurosemantics, (International Institute of Neurosemantic, North Carolina USA) ini.

Coach Rheo mengungkapkan, dalam tayangan YouTube Fadi Iskandar yang diunggah Minggu (25/9/2022), Rizky Billar menyampaikan: "gue tuh enggak masalah ketika secara karir gue direndahkan. Tapi ketika secara gue sebagai suami, gue direndahkan, gue enggak terima."

“Rizky mungkin pria baik yang mengasihi istrinya. Namun mungkin juga ada perilaku tertentu yang baginya tidak bisa ditolerir. Mungkin karena hal itu bersifat prinsip dalam hidupnya. Dan ketika hal ini terpicu maka menimbulkan perselisihan yang signifikan,” ujar Coach Rheo.

Timbunan beban emosi memang menjadi tema besar dalam kehidupan berumah tangga. Beban ini menjadi ‘amunisi bawah sadar’ siap ditembakkan ketika ada kesempatan yang datang menghampiri.

“Apalagi jika ditambah dengan kenyataan yang tak diharapkan. Hal ini menjadi beban tersendiri. Akhirnya membuat emosi kita meledak tidak terkendali,” kata Rheo.

Seperti juga kasus yang bisa kita lihat ketika Wendy Walters menyampaikan keluh kesahnya terkait kreator konten Reza Arap di sosial media. Beban emosi bawah sadar kerap menciptakan suasana tidak nyaman dalam rumah tangga.

“Bisa menyebabkan perceraian psikologis; serumah tapi saling abai. Akhirnya menciptakan keretakan rumah tangga. Hal ini kerap membuka celah bagi pihak ketiga masuk dalam rumah tangga seseorang,” ujar Coach Rheo.

Untuk itu Coach Rheo mengingatkan tentang pentingnya membuang beban emosi secara tuntas. Apalagi jika sudah ada indikasi beban emosi tidak terkendali. Mulai ada letupan-letupan kecil.

“Jangan terus dikendalikan. Tapi harus tahu cara membuangnya dari sistem syaraf kita,” ujar pakar yang telah melewati puluhan ribu jam praktik dan belajar di bidang teknologi pikiran, serta meraih puluhan sertifikasi, dan ratusan training lainnya di bidang pengembangan diri.



Saksikan live streaming program-program BTV di sini

Sumber: BeritaSatu.com


BERITA TERKAIT



BERITA LAINNYA












BERITA TERPOPULER


#1

#2

#3

#4

#5

#6

#7

#8

#9

#10

TERKINI